8

1728 Kata
Saat dirumah sakit ketika dirinya sedang menemani mamanya. Marco mendapat panggilan telepon. "Halo, Marco?" "Ya, dengan siapakah ini?" "Masa kamu lupa padaku Marco? Aku Lucy dulu kita pernah bertemu saat mengerjakan proyek bersama di London. Dan kebetulan aku sedang ada pekerjaan di Westchester dan aku dengar kamu juga sedang berada disini. Jadi dapatkah kita bertemu?" Marco ingat sekarang. Lucy adalah wanita dengan tubuh seksi yang dulu memakai pakaian minim bahan sehingga hampir memperlihatkan semua bagian tubuhnya dan yang menjadi asisten kliennya dan terus berusaha menggoda dirinya tapi saat itu dirinya tidak tertarik. Dan sekarang Marco lumayan tertarik. Karena mungkin dirinya sudah lama tidak bersama wanita sehingga bisa begitu menginginkan Annabella ataupun wanita misterius itu. Dan mungkin jika sudah melewati malam panas dirinya tidak akan menginginkan kedua wanita itu lagi. "Oke baiklah dimana kita akan bertemu?" "Benarkah kau mau bertemu, saya ada di hotel The Ritz Carlton Hotel room 1512." "Baiklah aku akan segera kesana." Dan akhirnya selesai sudah mamanya melakukan check up. Dirinya meminta sopir mengantarkan mamanya pulang dulu baru nanti mengantarkan mobil padanya.  Setelah mengantarkan mamanya ke mobil Marco berpamitan."Ma, aku ada urusan tadi temanku menelepon mengajak bertemu. Mama tidak apa-apa pulang bersama sopir?" "Ya tidak apa-apa sayang. Bersenang-senanglah. Mama pulang dulu." "Baiklah mama aku akan pulang jam 9 malam." Setelah mengecup kedua pipi mamanya Marco menginstruksikan kepada sopir agad mengantarkan mobil untuknya ke hotel dan memberikan kuncinya kepada bagian parkir Valet. Sehingga jika semua sudah selesai dirinya dapat bergegas pergi dari sana. Karena seperti itulah dirinya. Tidak pernah mau berlama-lama bersama seorang wanita yang bersamanya. Sampai di hotel dan kamar yang dimaksud Marco segera memencet bell. Tadi dia tidak lupa singgah dulu untuk membeli pengaman karena dia tidak ingin mendapatkan resiko penyakit. Lucy segera membuka pintu dan sudah memakai kimono tipis yang hampir tidak menutup apa-apa. Bergegas dirinya menarik Marco dan menempelkan bibirnya ke Marco. Marco berusaha membalas semua itu tapi dirinya tidak merasakan apa-apa. Dirinya yang seorang casanova tidak bereaksi saat dicumbu seorang wanita. Hal itu sangat mengejutkan. Dengan segera dirinya melepaskan pelukan erat Lucy padanya dan mengatakan dengan dingin kepada Lucy. "Apakah kau bersikap murahan kepada semua laki-laki?" Lucy terperangah tidak menyangka akan ditanyakan seperti itu. "Dasar laki-laki berengsek, keluar kau dari kamarku. Ternyata rumor tentang Anda memang benar jika anda tidak punya hati. Semoga dirimu akan mendapatkan balasan untuk ini semua." Bergegas Marco pergi dan mencari tukang parkir untuk membawa mobilnya kelobi. Dan dirinya bergegas pulang kerumah. Marco sangat marah sehingga memukul kemudi mobilnya. Sial wanita itu sudah meracuni pikiranku. Yang aku inginkan hanya mereka. Berciuman dengan mereka terasa begitu nikmat tapi saat dengan Lucy tadi dia tidak merasakan apa-apa. Dan kenapa dirinya menjadi begitu berengsek karena menginginkan dua orang wanita sekaligus. Saat sampai dirumah Marco menuju kamarnya. Dan membersihkan dirinya dari sisa-sisa Lucy. Aku harus mendapatkan Annabelle untuk menghilangkan obsesiku padanya. Tapi tidak malam ini. Malam ini aku akan pergi berenang saja untuk menjernihkan pikiranku. Sudah berhari-hari aku tidak kesana setelah kemarin tiga hari berturut-turut kembali kesana dan mencari wanita itu. Tapi wanita itu tidak pernah muncul lagi. Saat hampir tiba di kolam renangnya betapa terkejutnya Marco karena mendapati wanita misteriusnya ada disana dan sedang berenang tanpa sehelai pakaianpun seperti pertemuan pertama mereka. Sepertinya ini malam kesialan yang berubah menjadi keberuntungannya. Malam ini dia harus tahu siapa nama wanita itu. Dia tidak akan lengah lagi. Dan dengan perlahan Marco membuka semua pakaiannya dan masuk kedalam air dengan diam-diam dan berenang didalam air menuju wanita itu. Saat sudah dekat Marco menarik kakinya. "Ahhh... tidak aku tidak akan mati seperti ini." Dengan sigap Annabelle berusaha menendang apapun yang menangkap kakinya. Tapi dirinya kalah dan perlahan terseret masuk kedalam air. Sial!!! aku tidak akan mati disini sekarang. Aku harus melawan orang ini. Tapi semua usaha Annabelle sia-sia. Dia semakin masuk kedalam air dan akhirnya tenggelam. Dan dirinya masih sempat berpikir. Apakah aku akan mati seperti gadis yang ada didalam novel thriller tante Katelyn yang ia ketikkan. Mendadak Annabelle diangkat dari dalam air sehingga dia bisa kembali bernapas dan terbatuk-batuk. Dan tanpa sadar dirinya sudah mengalungkan lengannya kepada laki-laki yang mengangkatnya tersebut. Kulit telanjangnya bisa merasakan jika orang tersebut juga telanjang. Tidak aku harus melepaskan diri. Annabelle berusaha memukul orang tersebut. Annabelle berhenti saat tahu siapa laki-laki itu."Halo kita bertemu kembali." "Marrrr......" Buru-buru Annabelle membekap mulutnya. Hampir saja dia keceplosan lagi. Dirinya lega karena ternyata itu Marco dan bukan seorang pembunuh. Tapi apa yang dilakukannya disini. Bukannya harusnya dia jam 9 baru pulang. Mungkinkah aku lupa waktu dan tidak sadar sekarang sudah jam 9. "Anda mengejutkan saya Sir, saya pikir tadi saya akan dibunuh. Hampir saja saya mati karena serangan jantung jika bukan karena tenggelam." "Maafkan aku, aku tidak mau kau melarikan diri lagi. Jadi aku melakukan itu semua. Sekarang katakan siapa dirimu dan sebutkan namamu?" "Aku bukan siapa-siapa dan namaku annn....." Annabelle kembali membekap mulutnya. Annabelle... Annabelle dirimu benar-benar bodoh masa kau hampir keceplosan lagi. "Angel... Nama saya Angel." "Angelll... " ucap Marco. "Tolong turunkan saya Sir." "Baiklah, panggil aku Marco." Marco menurunkannya dengan sengaja membiarkan setiap inci bagian depan tubuh mereka saling bersentuhan dan tentu saja Marco memeluk pinggang Angel dengan erat. Agar dia tidak bisa melarikan diri lagi. Tanpa bisa dicegah gelenyar nikmat menjalari tubuh mereka karena sentuhan itu. Marco menempelkan bibirnya kepada Angel, dirinya tidak bisa menahan diri lagi. Dan begitupun Angel juga membalas semua ciumannya. Tidak membuang kesempatan Marco memuaskan hausnya akan bibir Angel dan saat Angel membuka bibirnya dia menjelajahinya dengan lidahnya. Dan baru melepaskannya saat hampir kehabisan napas lalu menciumnya kembali. Dia tidak akan melepaskannya lagi. Annabelle kewalahan mendapatkan serangan dari Marco dan dirinya juga tidak bisa menolak semua itu lagi. Biarkan sekali ini dia bebas merasakan semuanya. Toh Marco tidak tahu siapa dirinya. Dan Annabelle kembali merasakan sesuatu menusuk perutnya. Dan dirinya menjadi kaku karena merasa ragu apakah akan melanjutkan ini semua. Tapi bagaimana caranya dia melarikan diri jika Marco memeluknya seerat ini. Annabelle berusaha mendorong Marco agar melepasannya. Marco bisa merasakan perubahan dalam diri Angel bagaimana wanita itu tadi begitu menikmati semua ini tapi sekarang berusaha mendorongnya. Marco tidak akan membiarkannya. Dan dengan itu Marco menangkup b****g wanita itu dan lebih merapatkannya kepada kejantanannya. Kemudian dirinya melanjutkan cumbuannya pada telinga wanita itu dan turun menelusuri lehernya dan dirinya dapat merasakan jika wanita itu sudah kembali pasrah. Annabelle tidak bisa menahan desahannya. "Ahhh... Please. Aku merasa ingin meledak. Tapi tidak tahu apa yang harus aku lakukan." "Dirimu tidak perlu melakukan apa-apa hanya menerima saja semua yang aku lakukan," Dan Marco mengulum dan menghisap p****g Annabelle, desahan kembali keluar dari mulut wanita itu. Marco tidak bisa menahannya lebih lama lagi dan dengan itu dia mengangkat tubuh Annabelle dan otomatis Annabelle mengulung kakinya ke tubuh Marco. Annabelle bisa merasakan sesuatu menekan daerah intimnya. Membuat dirinya semakin menginginkan sesuatu yang tidak dia tahu apa itu. Kemudian Marco berjalan menuju pinggiran kolam. Marco menekan Annabelle di pinggir kolam. Saat sampai dipinggiran Annabelle melepaskan kakinya dan baru akan menjauh. Dirinya tidak tahu harus berbuat apa. Belum sempat menjauh tiba-tiba Annabelle merasakan sesuatu mencoba masuk ke dalam dirinya. Hingga sesuatu tersebut menemukan penghalang. Rasa sakit mulai dirasakan Annabelle tapi dirinya memilih tetap diam. "Kamu masih perawan?" tanya Marco tidak menyangka.  Annabelle juga terkejut saat ternyata Marco tahu hal itu. "Aku..." Belum sempat Annabelle menyelesaikan ucapannya, Marco kembali memagut bibirnya dengan perlahan, mengangkat tubuh telanjang Annabelle ke dalam pelukannya. Bibirnya meraih p****g Annabelle yang berada dihadapannya, bermain dengan keduanya hingga punggung Annabelle melengkung, merintih menikmati semua itu.  Perlahan Marco menurunkan tubuh Annabelle berusaha memasukinya, bibirnya menyusuri d**a gadis itu menuju ke atas, kembali memagut bibir itu dengan penuh gairah. Rintihan tak bisa Annabelle hentikan keluar dari bibirnya, hingga dengan sekali hujam Marco masuk kedalam tubuhnya. "Ahhh..." Dan tubuh mereka menyatu. Annabelle melengkungkan punggungnya saat merasakan getar kenikmatan yang kembali muncul. Rasa sakit yang ia rasakan hanya sedikit dan tertutupi oleh getaran rasa nikmat, hingga membuat dirinya tidak bisa berpikir. Marco mengerakkan tubuhnya ke atas dan ke bawah sambil menghisap bibir Annabelle. Kemudian menelusuri daun telinga Annabelle dengan bibir dan lidah nya. Lalu turun ke leher Annabelle dan menghisapnya dengan kuat. "Ahh... please aku tidak tahan lagi. Please Marco." Marco bergerak semakin cepat menghujam ke dalam diri Annabelle. "Lepaskan Angel, biarkan lepas." "Ahh..." Dan dengan itu Annabelle mencapai puncak begitupun dengan Marco dan dirinya menumpahkan benih-benihnya ke dalam diri Annabelle. Kemudian Marco mengangkat Annabelle dari dalam kolam. Membentangkan jasnya di sana dan kembali bercinta dengannya. Mereka kembali bercinta dan kali ini Annabelle berada di bawah dan Marco menindih dirinya. Marco memasukan dirinya ke dalam Annabelle dan saat menatap wanita itu dirinya begitu ingin melihat wajahnya. "Bolehkah aku melepas topengmu?" Annabelle tertegun. Jika Marco melepaskannya dia akan tahu siapa aku. "Tidak, kumohon biarkan tetap seperti ini." "Kenapa? Aku ingin menatap wajahmu saat kita bercinta." "Maaf tidak sekarang. Aku mohon." Marco tidak mengerti tapi dirinya mengalah. Dan dirinya kembali bergerak didalam diri Annabelle. Malam itu mereka bercinta sepuasnya. Seolah-olah sudah lama tidak bertemu. Padahal malam ini adalah pertama kalinya mereka bercinta. Setelah selesai Annabelle memakai pakaiannya. "Apakah kamu akan kembali kesini?" Marco bertanya. "Aku... " Annabelle melihat kelangit. Malam ini bulan berbentuk setengah. "Saat bulan purnama aku akan kesini. Maaf..." dan dengan itu Annabelle kembali melarikan diri lagi. Marco begitu terkejut dan karena belum memakai pakaian dirinya tidak bisa mengejar Angel. "Tepati janjimu Angel. Aku akan ke sini dibulan purnama nanti." Teriak Marco sebelum Angel semakin jauh. Annabelle kehabisan napas setelah berlari seperti dikejar setan. Dan dikamarnya Annabelle merasa ingin menangis sekaligus tertawa. Apa yang telah dia lakukan. Dia sudah menyerahkan dirinya kepada Marco dan perasaan sakit apa ini didalam hatinya. Annabelle tahu apa itu, dirinya sudah jatuh cinta kepada Marco dan tentu saja cinta yang bertepuk sebelah tangan mengingat Marco bahkan tidak tahu siapa dirinya. Dan saat tahu mungkin Marco akan semakin membencinya. Annabelle berganti pakaian dan mencoba tidur. Dirinya bisa mendengar langkah kaki Marco. Ingin rasanya mengatakan pada Marco siapa dirinya. Tapi mungkin dirinya akan langsung diusir dari rumah ini. Dan Annabelle hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Dikamarnya Marco bingung dengan apa yang barusan terjadi. Dirinya sudah bercinta dengan seorang wanita yang bahkan dia tidak tahu wajahnya. Hanya sebagian wajahnya yang bisa dia lihat. Dan selain itu hanya namanya saja yang dia ketahui dan entah itu nama sebenarnya atau buka dia juga tidak tahu. Dan dirinya bahkan bukan hanya sekali bercinta dengan Angel. Tapi berkali-kali. Ini bukan seperti dirinya. "Angelll.... Angelll." Marco terus menyebutkan nama itu agar yakin jika dirinya tidak hanya bermimpi apa yang terjadi malam ini. Dirinya tidak sabar lagi menunggu saat purnama. Dan dengan itu Marco tertidur lelap. Berbeda dengan Annabelle yang masih tidak bisa memejamkan matanya. Bagaimana caranya aku menghadapinya besok. Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak tahu kalau itu aku. Aku tidak akan bisa bersikap seperti biasa padanya setelah apa yang kami lakukan malam ini. Dan tanpa Annabelle sadari dirinya juga terlelap karena sudah begitu lelah. ______________________________ Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN