PART. 2 TARI

879 Kata
Salsa memarkir mobilnya di belakang mobil yang membawa Tari. "Ayo masuk, Kak, Tari kenalkan sama Papi." Tari menarik tangan Salsa masuk ke dalam rumah berlantai dua itu. "Papimu tidak bekerja?" Tanya Salsa tanpa bisa menahan kekepoannya. Masalahnya, sekarang ini adalah jam dimana orang biasanya sedang sibuk bekerja. "Papi Tari baru pulang dari Singapura tadi, jadi belum masuk kantor hari ini." Tari menarik lengan Salsa, membawa Salsa masuk lebih jauh lagi ke dalam rumahnya. "Pi, Papi!" panggil Tari dengan suaranya yang terdengar riang, dan manja. Seorang pria berusia 3o an tahun, kurus, dan kecil, turun dari lantai atas. Wajahnya terlihat sangat lembut, jelas terlihat kalau dia orang yang sabar. "Itu Papimu?" Tanya Salsa, jujur saja ia merasa pria kurus kecil ini sangat jauh dari bayangannya. Dalam bayangannya, Papinya Tari itu gagah, dan ganteng seperti ayahnya, karena wajah Tari sendiri sangat cantik. "Bukan, itu asisten pribadinya Papi, namanya Om Rendra." "Ooh ...." "Om, Papi Tari mana?" "Papimu di atas, Sayang, ehmm ... ini siapa?" "Oh, ini kak Caca, yang tempo hari menolong Tari dari orang suruhannya Mami." "Oh, hallo, kenalkan nama saya Rendra, saya asisten pribadi Pak Surya, Papinya Tari." Rendra mengulurkan tangannl pada Salsa, dan Salsa menyambut uluran tangan Rendra, yang terasa hangat dikulit, dan di dalam hatinya. "Saya Salsabila." "Ayo, Kak, kita naik ke atas." Tari menarik lengan Salsa, untuk menaiki anak tangga menuju lantai atas Tari membuka sebuah pintu, tanpa melepaskan pegangannya di lengan Salsa. "Papi!" panggilnya. Salsa membuang pandangan, saat melihat seorang lelaki di dalam sana hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Lelaki itu tengah membelakangi mereka, karena sedang mengambil pakaian dari dalam lemari. Salsa melepaskan pegangan Tari di lengannya, ia memilih tetap berdiri di luar kamar, sementara Tari masuk ke dalam kamar papinya. "Tari, ke luar dulu, Sayang, Papi belum pakai baju," kata pria itu dengan suara lembut. "Tari mau kenalin Kak Caca, yang nolongin Tari kemarin, Pi." "Iya, tapi masa Papi terima tamu tidak pakai baju, ke luar dulu ya, Sayang. Papi pakai baju dulu, Tari sama Kakaknya tunggu Papi di bawah saja ya." Terdengar Papi Tari membujuk putrinya, dengan suara sangat lembut. Salsa jadi penasaran dengan wajah Papi Tari, kelembutannya membuat Salsa teringat akan kelembutan ayahnya sendiri, Safiq Rizaldi. "Oke, Tari, dan Kak Caca tunggu Papi di bawah, jangan pakai lama ya, Pi." "Oke." "Ayo Kak kita turun, kata Papi kita tunggu di bawah saja." Tari kembali meraih lengan Salsa, dan membawa Salsa menuruni anak tangga yang berputar. Mereka duduk di ruang tengah, ada Rendra juga duduk di sana. "Kakak mau minum apa, biar Tari bilangin Bibik suruh bikinin." "Terimakasih, Tari, tidak usah, Kak Caca barusan minum tadi," tolak Salsa dengan halus. "Tari ganti baju dulu ya, Kak, Kak Caca ngobrol saja sama Om Rendra." "Oh iya." Salsa menganggukan kepalanya. Tari kembali naik ke atas menuju kamarnya. "Masih kuliah ya?" Tanya Rendra pada Salsa. "Sudah selesai, Om," jawab Salsa. "Sudah selesai? berapa usiamu?" Rendra mengerutkan kening, matanya tanpa sungkan menatap penuh selidik ke wajah Salsa yang sangat kekanakan. "Iya, saya sudah sarjana ekonomi, usia saya sudah 20 tahun, Om." "20 tahun? Sarjana ekonomi?" "Iya, kenapa, Om? Saya ikut kelas akselerasi waktu SD. Jadi saya masuk SD usia 6 tahun, SD nya cuma 4 tahun, jadi usia saya belum 16 tahun, saya sudah lulus SMU, dan Alhamdulillah kuliah saya selesai dalam 4 tahun." "Waduuuh kamu pasti pinter banget ya, Ca." Rendra menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. "Alhamdulillah, Om sendiri sudah lama kerja jadi asisten pribadinya Papi Tari?" "Kami sahabat sejak masih kuliah, jadi asistennya sejak 5 tahun lalu, saat ia pindah ke sini lagi, setelah lama menetap di Kalimantan." "Ooh ...." "Kamu sendiri sudah bekerja, Ca?" "Cuma bantu-bantu di kantor Ayah saja, sekarang lagi dilanda kebosenan, Om, aktifitas hari-hari begini saja, inginnya sih kerja yang agak beda begitu." "Kerja yang agak beda bagaimana?" "Ya, yang sedikit ada tantangannya." "Ehmm ... kata Tari kamu jago berantem, benar nggak sih?" "Tidak juga, Om." "Tertarik untuk jadi bodyguard tidak?" "Bodyguard!?" Salsa mengernyitkan kening, di balas tatapan Rendra, yang tengah intens menatap wajahnya. "Kamu tadi bilang ingin pekerjaan yang sedikit menantangkan?" "Ya." "Saat ini papinya Tari sedang mencari pengawal, untuk mengawal Tari kemanapun juga." "Untuk apa?" "Seperti yang kamu tahu, orang-orang itu ingin merebut paksa Tari dari papinya" "Orang-orang itu sebenarnya siapa?" "Mereka orang suruhan maminya Tari." "Orang suruhan maminya Tari, kok ...." "Papi, dan Mami Tari bercerai saat usia Tari baru 2 tahun, hak asuh jatuh pada Papi Tari, karena saat itu Mami Tari tidak ingin hak asuh jatuh padanya." "Oh, tapi kenapa sekarang dia ingin mengambil Tari dari papinya?" "Aku juga tidak tahu alasannya" "Kenapa maminya tidak datang, dan meminta baik-baik pada papinya?" "Mami Tari sudah mencoba meminta, agar Tari bisa bersamanya, tapi Tari, juga papinya menolak permintaan itu." "Kenapa Tari tidak mau bertemu maminya?" "Aku juga tidak tahu kenapa." "Jika orang-orang itu dirasa mengancam keselamatan Tari, kenapa tidak lapor polisi saja?" "Sulit di jelaskan, kenapa Papi Tari tidak ingin melaporkan tindakan mantan istrinya itu pada Polisi, mungkin karena ini menyangkut urusan hati." "Maksud, Om, Papi Tari masih cinta sama mantan istrinya, begitu?" "Iya." "Lalu kenapa mereka tidak balikan lagi saja?" "Mami Tari sudah menikah lagi." "Owhhh ...." "Ehemm!" Suara deheman dari anak tangga membuat Salsa, dan Rendra melayangkan pandangan mereka ke arah tangga. Mata Salsa mengerjap berulang kali, melihat sosok sebenarnya dari orang yang dipanggil Tari 'Papi' ***BERSAMBUNG***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN