Mas Bayu terlihat bimbang, ia berulang kali menatapku dan Mira secara bergantian. "Dek ... Tolong lah," ucap Mas Bayu sendu. Kutatap Mas Bayu lekat, seketika rasa kemanusiaanku sirna ketika melihat Mas Bayu begitu peduli pada mantan kekasihnya itu. "Turunlah kalau kamu menginginkan pisah dariku." Lantang kuucapkan kata yang sebenarnya sangat ingin kuhindari. Namun apa boleh buat ketika sebuah larangan tak dapat lagi mencegahnya, melainkan harus menggunakan ancaman yang sedikit kasar. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kemudi, tapi tetap dengan pandangan sayu. Hingga akhirnya lampu merah berganti dengan hijau dan Mas Bayu menginjak pedal gas meninggalkan tempat itu. "Yasudah, ayo kita pulang aja." Dia bergumam lirih dan fokus pada jalanan. Aku melirik sekilas Mira yang masih terdiam

