Kuhempaskan tubuhku kasar ke atas kursi ruang kerja. Rasanya hatiku geram saat bertemu dengan Adit di ambang pintu depan, ia tersenyum sinis tanpa menyapaku. "Lho, kok kamu masuk?" tanya Santi saat tahu aku datang ke puskesmas. Lagi-lagi aku mendengus kesal, jika bukan karena Adit yang memaksaku maka aku pun juga tak akan berangkat kerja. "Iya, tuh dokter baru yang songong itu. Nyuruh aku berangkat kerja. Katanya ada yang penting." Kubuka tas selempangku, lalu mengeluarkan ponsel tipisku. [Va, aku ada pekerjaan mendadak. Maaf, tidak bisa menemani Bu Maryam ke rumah sakit sekarang.] Kukirim pesan singkat itu pada Deva. Aku takut jika nanti Deva menungguku. Aku lantas memulai pekerjaanku, agar semua selesai dengan cepat dan aku pun bisa segera menemani Bu Maryam ke rumah sakit. Namun,

