"Ada apa? Cepat katakan, aku sibuk," lanjutku dengan nada malas, berhubungan dengannya bak menyiram air garam ke atas luka yang baru saja hampir kering ini. "Em ... Anu, aku ... Mau m-minta m-maaf. Juga ... Aku ingin kamu mencabut perceraian kita," Kedua mataku membelalak mendengar penuturannya, jika dia minta maaf aku sudah pasti memaafkannya, tapi untuk mencabut berkas perceraian itu adalah hal yang mustahil. "Sudah aku maafkan," jawabku ketus. "Apa? Kamu serius? Berarti kita rujuk?" tanyanya lagi dengan suara menggebu. Dahiku mengernyit, maunya apa, sih? "Rujuk? Memangnya aku mengatakan hal itu?" "Terus? Katanya kamu udah maafin aku?" Huufftt haaahh Bicara sama Mas Bayu memang harus menggunakan otot, harus detail. "Memaafkan bukan berarti rujuk, kan? Lagian aku kasian sama k

