"Nurma, tolong maafkan kami. Kami bersalah telah membohongimu selama ini," kata Bapak mencairkan suasana, tapi bukan berarti aku dapat luluh begitu saja dengan perkataannya. Tanpa menjawab perkataannya aku lantas melenggang keluar dari rumah dan masuk ke dalam taksi online yang sudah kupesan. Sejenak kulirik mobil hitam Mas Bayu yang terparkir di halaman, lalu tersenyum miring dan menutup pintu taksi pelan. "Pak, berhenti dulu di ATM, ya," ucapku sopan pada sopir taksi online tersebut. Beliau mengangguk, lalu menghentikan mobilnya sejenak di depan sebuah bank yang terdapat mesin ATM. Aku turun, lalu masuk dengan menggenggam sebuah kartu milik Mas Bayu yang kubawa beberapa saat yang lalu. Kutekan nomor pin yang dulu pernah kami buat bersama, aku tersenyum puas ketika nomor itu belum di

