BAB 41

1567 Kata

Dua hari sudah berlalu sejak para prajurit meninggalkan gerbang besar Keraton Bumi Kencana. Hari-hari terasa panjang, penuh kesibukan, namun juga dihantui kekosongan yang sulit dijelaskan. Sekar kini lebih sering berada di pendopo utama, mengatur dan memastikan seluruh roda kerajaan berjalan tanpa hambatan. Pagi itu angin bertiup lembut menyibakkan tirai tipis pendopo. Cahaya matahari menembus sela-sela ukiran kayu, membentuk pola emas di lantai marmer. Sekar duduk di kursi kayu jati dengan wajah serius, berhadapan dengan lembaran-lembaran laporan ekonomi yang disodorkan oleh beberapa abdi. Di sebelahnya, Aria duduk sambil menopang dagu, membaca laporan serupa. Ia sesekali mengernyit, menggeleng pelan, lalu menatap Sekar. “Sepertinya pendapatan pasar dari wilayah selatan naik cukup sign

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN