BAB 43

2045 Kata

Angin pagi membawa aroma debu dan darah ketika Mahesa dan Rakai tiba di depan Gerbang Keraton Bumi Kencana. Gerbang itu tidak lagi berdiri megah seperti biasanya. Kayu-kayunya terbelah, sendi besinya terbengkok, dan daun pintunya menganga lebar seolah dipaksa terbuka oleh ratusan tangan. Mahesa menghentikan kudanya dengan hentakan tajam.Nafasnya memburu. Kedua tangannya gemetar. Seluruh perjalanan dari Istana Air meski dilakukan secepat mungkin tapi terasa seperti perjalanan paling panjang dalam hidupnya. Setiap detik Mahesa membayangkan kemungkinan terburuk. Setiap detik dadanya seperti diremas seseorang yang tak terlihat. Rakai yang berada tepat di sampingnya menatap sahabat sekaligus komandannya itu dengan cemas. “Mahesa… tenangkan napas dulu. Kita harus tetap waspada.” Mahesa ti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN