Dengan telaten, Laura menyuapi Keenan yang sedang menyetir itu. Padahal, jika ingin, Keenan bisa saja menghentikan mobilnya sejenak untuk memakan sarapan yang dibuat Laura untuknya atau dia bisa saja sarapan di kantor nanti. Namun, Keenan tetaplah Keenan yang memiliki cara untuk menarik perhatian Laura. "Bagaimana? Enak, 'kan? Pedasnya pas nggak?" tanya Laura bertutur. "Pas banget, Ra. Apalagi kalau disuapin kamu," sahut Keenan. Dengan refleks, Laura memukul kepala Keenan dengan sendok yang sedari tadi ada di tangannya. "Sakit lah, sayang," ucap Keenan dengan lembut. Laura pun tertawa ketika ia mendengar Keenan berucap seperti itu. "Malah ketawa," gumam Keenan. "Habis, kamu bilang sakit tapi kelihatan kayak orang yang enggak lagi kesakitan," sahut Laura. "Aku tahu caranya

