Chapter 12 : Aku untukmu.

1013 Kata
"Kalian tinggal aja, Keenan biar aku yang jaga," ucap Laura ketika mereka sudah sampai di apartemen milik Keenan. "Harusnya kami yang bilang begitu, Ra. Kasian elo. Besok lo juga harus kerja, 'kan?" sahut Angga. "Loh, kamu tahu kalau aku kerja?" kaget Laura. "Kan sudah gua bilang kalau Keenan cerita banyak tentang elo," sahut Angga. "Yasudah, sana gih, pada balik," ucap Laura. "Lo yakin kalau lo mau di sini aja?" tanya Geo seraya menatap Keenan yang sudah terbaring tidak sadarkan diri di atas kasur. "Jangan bikin aku berubah pikiran deh," sahut Laura. "Yaudah, gua sama Angga pergi, ya?" ucap Geo. "Kalau ada apa-apa, lo hubungi kami aja, pakai HP Keenan," sambungnya. Laura pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kemudian, Angga dan Geo pergi dari apartemen Keenan, meninggalkan sahabat dan calon kekasih sahabatnya itu. Sepeninggal Angga dan Geo, Laura duduk di sisi ranjang, gadis itu melepas sepatu yang masih melekat di kaki Keenan. "Aku semakin merasa bersalah, Ken. Semuanya karena aku. Seandainya aku menuruti perkataan kamu, kamu enggak akan sampai mabuk begini," gumam Laura. ... Cahaya matahari menelisik masuk melewati tirai jendela kaca kamar apartemen membuat Laura membuka matanya. Tanpa ia sadari, ia sudah tertidur beberapa jam dengan posisi duduk di samping ranjang dan menjadikan pinggiran ranjang sebagai tumpuan kepalanya. Gadis itu lantas menatap wajah Keenan yang masih tidur dengan pulas. Laura segera berdiri karena merasakan bahwa seluruh tubuhnya merasa sakit akibat posisi tidur yang salah. Saat Laura hendak beranjak, Keenan terbangun dan memanggil nama Laura. "Kenapa, Ken?" Sahutan Laura membuat Keenan langsung membuka matanya dan menatap gadis itu dengan lekat. "Apa?" tanya Laura sekali lagi. Keenan langsung duduk dan mengucek matanya beberapa kali. "Gua mimpi ya?" gumam Keenan. "Ini beneran aku, kamu enggak lagi mimpi kok," sahut Laura yang mendengar gumaman Keenan. Keenan kembali menatap Laura seolah ia tidak percaya bahwa Laura benar-benar ada di hadapannya saat ini. "Kayaknya gua harus balik tidur supaya gua bangun dari mimpi ini," ucap Keenan kemudian ia kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur. "Keenan!" bentak Laura. Keenan pun kembali membuka matanya dan kembali menatap Laura. "Beneran enggak percaya kalau aku ada di sini?" tanya Laura kemudian ia berjalan mendekati Keenan. Lalu, gadis itu duduk di sisi ranjang, tangannya bergerak untuk mencubit pergelangan tangan Keenan dan hal itu sukses membuat Keenan meringis kesakitan. "Sakit, 'kan?" Keenan menganggukkan kepalanya. "Kalau sakit, artinya apa?" "Gua enggak mimpi?" "Lalu?" "Kamu beneran di sini, Ra?" "Jelas, 'kan kalau aku ada di sini? Kenapa masih tanya?" "Dari kapan?" Laura menatap jam tangannya, kemudian ia menghitung. "Dari 7 jam yang lalu," jawabnya. Keenan pun ikut menghitung. "Jadi, kamu di sini dari jam 1 pagi?" tanya Keenan. Laura menganggukkan kepalanya tanda bahwa perkataan Keenan adalah benar. "Kenapa bisa?" Laura pun menceritakan apa yang terjadi semalam sampai ia bisa ada bersama dengan Keenan di apartemen. Keenan merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan sampai merepotkan Laura. "Salahku juga, Ken. Seandainya aku bisa mendengarkan perkataan kamu tanpa mengemukakan keras kepalaku, kamu enggak akan emosi," ucap Laura. Kemudian, Keenan kembali duduk dan langsung memeluk Laura. Laura hanya diam, ia tidak ingin menambah harapan untuk Keenan. ... Di sisi lain. Saat masih dini hari. Setelah Angga dan Geo kembali ke bar setelah mengantar Keenan ke apartemennya dan meninggalkan Keenan hanya berdua dengan Laura. "Gua takut kalau tiba-tiba Keenan bangun dan dia langsung nyamber Laura." "Pikiran lo jangan kejauhan, Ngga." "Secara lo tahu bagaimana orang mabuk, 'kan?" "Tapi kayaknya enggak mungkin." "Tapi kalau dilihat-lihat, Keenan lucu juga, ya." "Belok lo?" "Jangan mengada kalau bicara, George. Maksud gua, lo pikir dan lo lihat deh. Baru sekali ini Keenan jatuh cinta sudah kayak orang kesetanan. Ditambah lagi, perempuan yang dicintainya enggak sepantaran dengan dia usianya. Lebih kayak om-om jatuh cinta dengan anak SMA yang baru lulus." Mendengar tutur kata yang panjang lebar itu keluar dari mulut Angga, Geo pun tidak mampu menahan gelak tawanya lagi. Menurutnya, Angga terlalu banyak melawak. Namun, Geo berpikir sekali lagi dan ia mengatakan kalau ucapan Angga ada benarnya juga. Keenan memang tipe orang yang sangat jarang jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. ... "Maaf, Bu. Hari ini aku datang sedikit terlambat," sesal Laura ketika ia baru saja sampai di kafe padahal hari sudah menunjukkan pukul 10 pagi. "Kan tadi kamu sudah kirim pesan ke saya. Kamu juga jarang datang terlambat. Jangan merasa bersalah begitu," sahut Hanna. "Sana, kerja. Jangan memikirkan hal sepele," sambungnya. Laura pun menganggukkan kepalanya sebelum ia memulai pekerjaannya seperti biasa. "Habis ngapain semalam?" bisik Karin pada Keenan yang sedang menunggu pesanan kopi miliknya. "Otak lo tolong ya," kesal Keenan. "Terus, kenapa Laura sampai telat datang? Pasti kamu pelakunya, 'kan?" goda Karin. "Semalam gua mabuk dan bikin dia repot ngurus gua," jawab Keenan. "Yakin?" tanya Karin. "Sudahlah. Lo begitu jadi orang." Kini Keenan sudah benar-benar kesal dengan perempuan di hadapannya. "Belum selesai?" tanya Laura kepada Karin dan Keenan. "Karin tuh memperlambat aja. Suka kali lihat aku lama-lama di sini," sahut Keenan. "Dihhh. Pede gila, Pak," sahut Karin. "Siapa yang elo panggil dengan sebutan 'pak'?" tanya Keenan lagi. Karin menunjuk ke arah Keenan seraya memberikan 1 cup kopi. "Berangkat sana. Enggak telat apa?" ucap Laura. "Aku pergi, Ra," ucap Keenan sebelum ia pergi dari kafe. Sepeninggal Keenan, kini Karin beralih bertanya pada Laura. "Kepo banget. Rin," sahut Laura. "Ternyata kalian sama aja, pantesan cocok," sahut Karin yang kesal karena ia tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan. "Memangnya perkataan Keenan tadi enggak cukup jelas apa?" tanya Laura. "Aku mau dengar yang versi kamu," jawab Karin. "Jawabannya akan sama, Rin," sahut Laura. ... Keenan nampak menatap tumpukan map dengan beberapa warna di atas meja kerjanya. Wajahnya nampak sudah lelah walau belum membuka map itu bahkan satu saja. "Bakalan lembur nih pasti," gumamnya sebelum ia menarik satu persatu map itu. Belum sempat menyelesaikan 1 dokumen, 2 orang nampak memasuki ruang kerja Keenan tanpa permisi. "Jangan ganggu gua. Kerjaan gua lagi banyak," ucap Keenan tanpa menatap 2 orang itu. "Gua sama Angga penasaran nih," sahut salah satu dari dua orang yang tak lain adalah Geo. Dan yang satunya lagi tidak lain adalah Angga. "Penasaran tentang apa?" tanya Keenan santai. "Semalam," sahut Angga. "Kalau gua ceritakan, kalian dapat apa?" tanya Keenan seraya menatap 2 sahabatnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN