"Maafkan gua yang selalu menuntut untuk memiliki hubungan yang melebihi dari sekadar pertemanan. Hal itu bukan tanpa alasan, tapi karena aku terlalu takut jika suatu saat ada yang mengambilmu dan mengatakan bahwa kamu adalah hak milknya," ucap Keenan panjang lebar seraya memeluk Laura dari belakang.
Saat itu, Keenan dan Laura masih berada di rooftop kafe. Laura hanya bisa diam membisu. Ucapan Keenan memang ada benarnya. Keenan juga tidak salah karena sudah mencintai Laura.
Laura perlahan membalikkan tubuhnya dan menatap Keenan yang tangannya masih setia tertaut di pinggangnya.
"Ken, boleh nggak kalau aku minta tolong satu hal sama kamu?"
"Apa?"
"Ajarkan aku menjadi seseorang yang egois, tanpa mendengarkan komentar buruk dari orang lain dan hanya mendengarkan komentar baiknya saja."
Keenan tampak mengernyitkan dahinya, lelaki itu nampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Laura.
"Maksud kamu apa?"
"Maksudku, aku pun sebenarnya ingin menjalin sebuah hubungan denganmu. Tapi, aku yakin pasti bukan hanya Jihan yang menentang hubungan kita, pasti akan ada orang lain yang juga sama halnya dengan Jihan. Itu sebabnya aku mau minta tolong sama kamu supaya kamu mau mengajarkanku tentang bagaimana hanya mendengarkan komentar baik dan mengabaikan komentar jahat."
"Iya, Ra. Aku pasti akan membuatmu melakukan hal seperti itu. Lalu, apa sekarang hubungan kita sudah lebih dari sekadar teman?"
Laura menjawab pertanyaan Keenan dengan anggukan kepalanya. Melihat hal itu, raut wajah Keenan nampak sangat senang. Lelaki itu segera membawa Laura ke dalam dekapannya.
"Satu hal yang harus kamu tahu. Kamu adalah perempuan satu-satunya yang susah untuk aku dapatkan."
"Karena yang aku mau adalah hubungan dengan ketulusan. Bukan karena harta, tahta maupun paras."
...
"Pada akhirnya gua mendapatkannya," ucap Keenan seraya menatap kedua sahabatnya yang duduk di sebrangnya.
"Jadi, kalian sudah resmi?" tanya Geo.
Keenan menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kapan?" tanya Angga.
"Saat gua jemput Laura tadi," jawabnya apa adanya.
"Gua turut bersuka cita deh. Jaga dia baik-baik. Lo aja dapatinnya susah payah," ucap Geo.
"Gua tahu apa yang harus gua lakukan," sahut Keenan.
Keenan benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Bahkan saat ia sudah pulang ke rumah. Sang Kakak laki-lakinya, Kavin, pun turun merasakan apa yang sedang Keenan rasakan.
"Kenapa lo? Sumringan banget."
"Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau," jawab Keenan sebelum ia berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
"Jangan lupa ajak ke rumah nanti," ucap Kavin seraya menatap punggung Keenan.
Keenan menghentikan langkah kakinya, ia mengacungkan jari jempolnya kepada Kavin, kemudian lelaki itu kembali berjalan menaiki anak tangga.
...
"Kakak aku suruh aku bawa kamu ke rumah. Kapan kamu bisa?"
Laura tersedak ketika ia mendapatkan pesan suara itu dari Keenan. Roti yang ia makan hampir tertelan padahal belum ia kunyah sama sekali.
"Pagi-pagi bikin aku keselek aja," kesal Laura.
Tin! Tin! Tin!
Bunyi klakson itu membuat Laura tersedak untuk kedua kalinya. "Awas aja kamu, Keenan!" kesal Laura sebelum ia keluar dari dalam rumahnya.
"Keenan!" panggil Laura dari tengah pintu rumah.
Keenan yang masih berada di dalam mobil, ia pun terkekeh sebelum ia membuka pintu mobilnya kemudian turun.
"Kenapa, sayang?"
"Kamu, ya! Bikin aku kesedak 2 kali, tahu?"
"Kenapa?"
"Pertama, karena pesan suara yang kamu kirim. Kedua, karena kamu bunyikan klakson kayak orang mau nabrak aja!"
Keenan hanya terkekeh melihat raut wajah Laura yang sudah tidak terkontrol lagi. Ia marah, namun wajahnya masih imut di mata Keenan.
"Kenapa malah ketawa?" kesal Laura.
"Sarapannya sudah atau belum? Kalau sudah, ayok berangkat sekarang," ucap Keenan.
"Tunggu," ucap Laura kemudian ia berjalan memasuki rumahnya kembali.
Tidak lama, Laura keluar dari rumahnya dan mengunci pintu rumahnya sebelum ia berjalan menghampiri Keenan.
"Bagaimana pertanyaan aku yang tadi? Apa sudah ada jawabannya?"
"Pertanyaan yang mana?"
"Yang aku kirim melalui pesan suara."
"Kamu seriusan tentang itu?"
"Iya lah. Aku mana pernah main-main."
"Kakak kamu, cowok, 'kan?"
"Iya."
"Sudah punya pasangan?"
"Belum."
"Istri?"
"Belum, Ra. Dia baru tahun lalu putus dengan mantannya dan sekarang statusnya masih jomblo."
"Ganteng nggak?"
Pertanyaan itu membuat Keenan kesal.
"Nggak jadi aja ke rumah aku. Batal!" ucap Keenan.
"Aku tanya loh. Kakak kamu itu, ganteng nggak?"
"Gantengan aku."
"Owh. Jadinya batal ke rumah kamu?"
"Kamu begitu. Belum apa-apa, sudah tanya Kakak aku ganteng aja enggak aja."
"Ciee cemburu," goda Laura.
Keenan nampak masih kesal dengan godaan Laura walau sebenarnya ia tahu bahwa kekasihnya itu hanya bercanda.
"Besok malam deh aku ke rumah kamu. Kalau malam ini, aku belum ada persiapan apa-apa." ucap Laura.
"Dibilang batal juga!" sahut Keenan.
"Nanti aku minta jemput aja sama Kakak kamu," goda Laura lagi.
"Gimana caranya?" tanya Keenan heran.
"Aku telfon," jawab Laura santai.
"Caranya bagaimana, Maemunahhh?" kesal Keenan. "Kamu kan enggak punya nomor Kakak aku,". sambungnya.
"Gampang lah. Tinggal aku minta sama Ibu Hanna," jawab Laura.
"Berani?" tanya Keenan.
"Becanda, Keenan. Kamu nih sensitif banget sih," ucap Laura.
...
Di kafe. Laura langsung mendapat perintah untuk membantu Hanna untuk menyelesaikan laporan keuangan kafe. Karena akhir-akhir ini kafe sangat ramai sampai Hanna sendiri sampai kewalahan menyediakan stok bahan kafe.
"Bu, boleh aku tanya sesuatu nggak?" tanya Laura disela pekerjaannya.
"Tanya apa, Ra?" tanya Hanna.
"Soal Keenan."
"Kenapa lagi dia? Gangguin kamu lagi?"
"Enggak, Bu."
"Lalu?"
"Keenan punya Kakak laki-laki?"
"Punya. Dia seumuran dengan saya."
"Orangnya bagaimana?"
"Sifat dan sikapnya kurang lebih sama dengan Keenan. Kamu ada ketemu dengan dia?"
"Enggak, Bu. Cuman tadi Keenan bilang kalau Kakaknya suruh aku berkunjung ke rumahnya."
"Dalam rangka apa nih?"
"Ya gitu deh," sahut Laura kemudian ia kembali fokus ke laptop di hadapannya.
"Kalian pacaran?" tanya Hanna curiga.
"Kalian itu siapa?" tanya Laura kembali.
"Kamu sama Keenan," jawab Hanna.
Laura menganggukkan kepalanya dengan samar, wajahnya nampak memerah karena malu. Hal ini memang sudah seharusnya ia katakan dengan Hanna karena ia menganggap Hanna sudah seperti sanak saudaranya sendiri.
"Serius?!" pekik Hanna tidak percaya.
Sekali lagi, Laura hanya menganggukkan kepalanya.
"Woaahhh! Selamat, sayang. Pokoknya saya harus tagih pajak jadian dengan Keenan," ucap Hanna kegirangan.
...
"Bukannya tadi gua antar Laura ke sini, ya? Ini masih sore, ke mana dia?" tanya Keenan ketika ia tidak mendapati adanya Laura di kafe itu. "Apa dia di atas?"
"Laura lagi bantuin Ibu Hanna untuk memeriksa laporan keuangan," jawab Karin apa adanya.
"Di sana?" tanya Keenan seraya menunjuk ke pintu yang ada di belakang Karin.
Karin pun menganggukkan kepalanya.