“Jendra!” panggil Panji yang baru saja pulang kerja dengan wajah sumringah sambil membawa sebuah amplop kecil di tangannya.
Jendra, yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponsel, menoleh malas. “Ada apa, Pah?”
“Ini voucher makan malam di restoran bintang lima, hadiah dari rekan kerja Papah. Kamu harus pergi ke sana sama Mutia malam ini!” perintah Panji penuh semangat.
“Pah, aku capek banget," tolak Jendra menghela napas panjang. “Aku baru pulang dari penerbangan panjang, rasanya ... aku mau istirahat dan tidur aja di rumah.”
"Capek?" Expresi wajah Panji yang tadinya ramah berubah galak. “Kamu pikir Papa nggak capek kerja seharian? Atau ... jangan-jangan, kamu berpikir kalau Mutia nggak layak diajak makan malam romantis di restoran ini ya? Kamu malu ngajak pergi dia ke restoran ini?”
“Enggak ... bukan begitu, Yah.” Meski dalam hati Jendra mengatakan iya.
"Aku emang malu banget ngajak si gadis kampung itu makan malam di restoran bintang lima," batinnya muak. "Dia mah cocok makan di warung kaki lima aja!"
“Sudah, tidak ada alasan menolak! Kamu harus pergi! Titik! Buatlah Mutia bahagia, Jen! Ingat, dia adalah istrimu sekarang!” balas Panji tegas, suaranya lantang terdengar menggema di ruang tamu.
Jendra terpaksa mengangguk. "Iya, Pah."
Dia tahu jika ayahnya sudah berbicara seperti itu, maka tidak ada ruang untuk perdebatan.
"Terpaksa sih, dari pada aku ditampar Ayah lagi. Tamparan Papah lebih menyakitkan soalnya daripada Mama," batin Jendra lalu berdiri masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian.
Sementara itu, Mutia ternyata sudah berada di kamar Nurma. Gadis yang sudah mendengar rencana makan malam terlebih dahulu dari Nurma itu merasa gugup. Dia duduk di tepi ranjang dengan tangan yang gemetar.
“Mama, saya … saya takut kalau Mas Jendra malu membawa saya ke restoran mewah seperti itu,” bisiknya dengan suara lirih.
Nurma tersenyum lembut dan meraih tangan Mutia. “Jangan bicara begitu, Mutia. Kamu itu cantik banget, dan kamu pantas berada di samping Jendra di mana pun dia berada. Ingat, sekarang kan kalian suami istri.”
Dengan penuh semangat, Nurma membuka lemari besar. Mengambil box lalu membuka box itu di samping Mutia, dan tampaklah sebuah gaun elegan berwarna merah dengan potongan sederhana, tapi terlihat anggun.
“Lihat ini, Mut. Gaun ini akan terlihat sangat sempurna di tubuhmu,” ujar Nurma sambil menyerahkan gaun itu pada Mutia. "Kamu tak perlu rendah diri! Kamu itu cantik."
"Gaun ini cantik sekali." Mata Mutia berbinar-binar menatap Nurma. "Terimakasih, Ma. Maafin saya kalau saya selalu bikin repot Mama."
"Mana ada," balas Nurma cepat. "Kamu itu anak Mama. Pokoknya mulai sekarang, Mama akan lebih sering belanjain kamu baju yang cantik-cantik dan kamu wajib pakai baju yang dibeliin Mama, ya."
"Itu ... terlalu berlebihan, Ma. Tidak perlu seperti itu, mama menganggap saya anak saja, saya sudah sangat senang." Mata Mutia berkaca-kaca karena merasa terharu dengan kebaikan Nurma.
"Enggak ada yang berlebihan kalau untuk menantu Mama yang cantik." Nurma memegangi pundak Mutia. "Sekarang, kamu cepet pergi ke kamar mandi dan ganti bajumu!"
Tak hanya itu, Nurma juga dengan cekatan membantu Mutia berdandan. Rambutnya ditata dengan anggun, make-up ringan yang mempertegas kecantikannya, dan sepasang anting kecil melengkapi penampilannya.
Ketika Mutia keluar dari kamar, gaun itu membalut tubuh mungilnya dengan sempurna. Wajah tampak berseri, akan tetapi matanya masih memancarkan keraguan meski semua keluarga Jendra memujinya cantik.
Sementara Jendra yang sudah menunggu di depan mobil, dengan mengenakan setelan kasual yang rapi, nyaris tidak mengenali Mutia saat melihat gadis itu berjalan mendekat. Dia terdiam sejenak, menatap Mutia dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Cantik," pikirnya dalam hati.
"Sial! Aku mikir apa sih!" Segera dia menggelengkan kepala, menepis pikirannya sendiri dan memasang wajah dingin.
“Ayo, cepat masuk!” perintahnya singkat sambil membuka pintu mobil.
"Baik, Mas. Terimakasih." Mutia berlari kecil, membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Hening!
Sepanjang perjalanan, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Jendra yang malas berbicara dan Mutia yang takut mengajak Jendra berbicara. Jadi, hanya terdengar suara mesin mobil yang mengisi keheningan di antara mereka.
Restoran mewah itu tampak elegan dengan lampu-lampu kristal yang menggantung di langit-langit. Mutia merasa canggung saat berjalan di belakang Jendra yang bahkan tidak menoleh sama sekali ke arahnya.
Pelayan mengarahkan mereka ke meja yang sudah direservasi yang berada di pojok ruangan. Jendra duduk dengan tangan disilangkan di d**a, sementara Mutia duduk di depannya dengan gelisah.
Hidangan demi hidangan datang, akan tetapi tak ada satu pun percakapan yang tercipta di antara mereka. Jendra sibuk menatap layar ponsel, sementara Mutia hanya menunduk sambil memainkan garpu di tangan.
“Mas …?” panggil Mutia pelan.
Jendra hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap ponsel.
Mutia akhirnya memilih diam, menahan rasa sesak di dadanya.
Namun, keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara yang familiar.
“Eh, Jendra!”
Jendra mengangkat wajah dan mendapati Dhafa, sahabatnya, berdiri di samping meja mereka dengan senyum lebar.
“Dhafa?" panggil Jendra dengan nada kaget.
Dhafa lalu menatap ke arah Mutia dan dia refleks terdiam karena terpukau dengan penampilan cantik gadis itu. Mata pria itu berbinar memandang Mutia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu, senyum ramah menghiasi wajahnya.
“Hay, Mutia. Ternyata, kita ketemu lagi. Kamu apa kabar?” tanya Dhafa sambil duduk di kursi kosong yang ada di samping Jendra.
Mutia tersenyum kikuk dan mengangguk. “Saya, baik, Mas Madhafa.”
“Mutia, kamu terlihat luar biasa malam ini," puji Dhafa dengan tulus.
Pipi Mutia memerah semerah tomat. “Terima kasih, Mas.”
Jendra merasakan sesuatu yang mengganggu di d**a saat melihat bagaimana cara Dhafa memandang Mutia. Namun, bukannya berbicara atau menunjukkan sesuatu, dia malah meremas sendok di tangan dengan perasaan kesal dan muak.
“Kamu, sudah selesai belum makannya? Kalau sudah, ayo kita pulang!” ajak Jendra dengan nada dingin.
Dhafa mengernyit. “Belum juga larut malam, Jen. Santai dulu lah! Lagian kita ngobrol dulu yuk! Biarin Mutia menikmati makan malamnya.”
“Nggak usah ikut campur!” sahut Jendra ketus. "Aku ngantuk banget, baru pulang dari penerbangan panjangku tadi pagi."
Suasana jadi terasa canggung. Mutia hanya bisa menunduk dan memainkan jari-jarinya di bawah meja. Entah kenapa dia merasa bersalah tanpa tahu apa yang salah.
Dhafa menatap Jendra dengan kening yang berkerut. “Kamu kenapa, sih, Jen? Pengen buru-buru kelon, ya? Wajar sih, Mutia kan cantik, jadi emang ... yah, dia pantes banget dikekepin terus disembunyiin di balik selimut."
Jendra berdiri dari kursi, dia tau Dhafa sedang menggodanya dan dia memutuskan tak ingin meladeni sahabatnya itu. “Mutia! Sekarang, ayo kita pulang!”
"I-iya, Mas." Dengan wajah tertunduk, Mutia berdiri dan berjalan mengikuti Jendra.
Dhafa hanya bisa menatap kepergian mereka dengan gelengan kepala. Pandangannya kembali tertuju pada Mutia yang berjalan dengan kepala tertunduk.
"Jendra bodoh … gadis seperti Mutia itu harusnya disayangi, bukan disia-siakan," batin Dhafa sambil menghela napas panjang.
Di dalam mobil, Mutia menatap jendela dengan mata berkaca-kaca. Jendra menggenggam kemudi dengan erat, wajahnya penuh emosi yang tertahan.
Sesaat kemudian, Jendra bersuara pelan tapi terdengar tajam, “Lain kali, jangan berdandan seperti itu di depan orang lain!”
Mutia terkejut dan menoleh. “Kenapa, Mas? Apa penampilan saya terlihat jelek dan bikin Mas Rajendra malu?”
“Iya!” bentak Jendra mantap. "Mau dipoles gimanapun, kamu tetaplah gadis kampungan yang jelek! Kamu tuh pantasnya pake baju nanny!"
Air mata Mutia jatuh tanpa bisa ditahan. Sementara Jendra tetap cuek, menatap lurus ke depan, tak menyadari betapa dalamnya luka yang baru saja dia torehkan di hati istrinya.