Mutia menghentikan langkah di balik pintu ruang tamu. Niat wanita muda itu mengantarkan minuman untuk Jendra dan Dhafa seketika dia urungkan setelah mendengar suara Jendra yang sangat jelas, tegas, dan penuh amarah.
"Aku nggak akan pernah mencintai dia, Dhaf. Dia itu cuma pelayan rendahan. Nenek, Ibu, dan Ayah maksa aku menikahinya karena keadaan darurat. Aku bahkan jijik harus berbagi kamar dengan dia, apalagi cinta? Itu nggak mungkin!" Suara Jendra menggema dalam ruangan, membuat hati Mutia terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk benda tajam.
Dhafa tampak terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Jendra, kadang cinta itu nggak harus direncanakan. Siapa tahu Mutia adalah berkah yang Allah kirimkan buatmu. Jangan terlalu keras menilai dia hanya karena statusnya. Dia adalah istrimu sekarang."
Jendra menggeleng cepat sebelum menjawab, "Nggak, Dhaf! Mana mungkin dia membawa berkah. Dia itu malah pembawa sial di hidupku. Kalau saja aku punya pilihan, aku akan membatalkan semuanya. Sudah kubilang dia itu gadis kampung rendahan!"
Lagi, kata-kata Jendra terasa seperti palu besar yang menghantam d**a Mutia hingga dia kesulitan bernapas. Matanya mulai memanas dan air mata turun perlahan. Segera dia menghapus air mata itu dengan punggung tangan, berusaha meredam tangis.
Hingga akhirnya Mutia memutuskan mundur perlahan tanpa mengganggu pembicaraan mereka. Dia kembali ke dapur, meletakkan nampan di meja, dan berjongkok di sudut, menutup mulut agar suara isakannya tidak terdengar.
Di sisi lain, Dhafa menghela napas panjang. "Jen, aku nggak tahu apa yang kamu rasakan sekarang, tapi satu hal yang pasti, nggak ada orang yang pantas dihina seperti itu, apalagi dia istrimu sendiri meski pernikahan kalian dipaksakan. Kamu sangat keterlaluan."
"Sudahlah, Dhaf. Aku menikahinya cuma untuk menyelamatkan muka keluargaku. Jangan memaksaku untuk berbuat apapun yang lebih dari itu. Sampai dunia kiamat pun, aku enggak bakal mencintai dia," jawab Jendra dingin.
Setelah itu, obrolan mereka berubah topik, tapi kata-kata Jendra sudah cukup untuk meninggalkan bekas luka yang mendalam di hati Mutia. Dia menguatkan diri, menghapus air mata, lalu kembali mengantarkan minuman untuk kedua pria yang sedang asik mengobrol.
Mutia berjalan perlahan ke ruang tamu dengan nampan berisi minuman dan camilan di tangan. Wajahnya tampak pucat, mata sembab, hidung memerah, tapi dia berusaha tersenyum saat meletakkan gelas-gelas di meja di hadapan Jendra dan Dhafa.
"Silakan diminum," ucap Mutia dengan suara lembut dan sedikit gemetar.
Dhafa menatap wajahnya dalam-dalam saat Mutia membungkuk sopan dan mundur perlahan hingga dia refleks membatin, "Eh, cantik banget. Dia mungil kayak boneka. Menurutku malah cantikan dia daripada si Inez."
Tapi Dhafa juga menyadari ada sesuatu di sorot mata Mutia yang membuat dia merasa iba dan tidak nyaman — seperti ada kesedihan yang berusaha disembunyikan di balik senyum manis di bibir ranum wanita cantik itu.
"Terima kasih, Mutia," ujar Dhafa ramah.
Sementara Jendra hanya diam, dia bahkan memalingkan wajah dan memilih sibuk dengan ponselnya.
Saat Mutia hendak berbalik, Dhafa tiba-tiba bertanya, "Mutia, bagaimana kondisi Nenek Harni sekarang? Aku perhatikan tadi beliau keliatan sedikit ... pucat dan lelah."
Mutia berhenti melangkah dan menatap wajah Dhafa dengan senyum tipis di wajahnya. "Alhamdulillah, kesehatan Nenek masih cukup stabil, Mas. Tapi beberapa hari ini beliau memang mengeluh cepat lelah dan selera makannya berkurang. Tekanan darah terakhirnya 140/90, kolesterol sedikit naik di angka 230, dan kadar asam urat juga sedikit di atas normal."
Dhafa mengangguk sambil mengerutkan kening, tanda dia tengah mencerna informasi yang disampaikan Mutia. "Berat badan Nenek gimana? Apa ada penurunan signifikan?"
"Iya, Mas. Berat badan Nenek turun hampir 2 kilogram dalam dua minggu terakhir. Tapi beliau masih bisa beraktivitas seperti biasa meskipun sering mengeluh pegal di area punggung," jelas Mutia dengan detail.
Jendra yang tadinya sibuk dengan ponselnya, sesaat melirik ke arah Mutia dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bahkan dia sendiri tak bisa menyangkal bahwa penjelasan orang yang sudah sah menjadi istrinya itu begitu rinci, seperti seorang perawat profesional.
"Kamu hafal semua itu?" tanya Dhafa dengan nada kagum.
Mutia mengangguk kecil. "Iya, Mas. Saya selalu mencatat setiap keluhan dan perkembangan kesehatan Nenek setiap hari. Saya juga rutin memeriksa tekanan darah dan asupan makanannya saat bangun tidur dan sebelum tidur. Itu sudah jadi tugas saya."
Dhafa tersenyum sambil menggeleng pelan. "Kamu luar biasa, Mutia. Biasanya, banyak perawat dari agensi yang sekadar bekerja sesuai instruksi, tapi kamu benar-benar telaten dan perhatian. Aku salut sama kamu."
Mutia hanya tersenyum dan menunduk. "Terima kasih atas pujian yang Mas Madhafa berikan. Saya hanya melakukan tugas saya sebaik mungkin."
Jendra mendengus pelan dan meletakkan ponselnya di meja dengan kasar. "Sudah, cukup basa-basinya. Kalau sudah selesai tanya jawabnya, kamu pergilah sekarang!"
Mutia refleks menunduk. "Baik, Mas Rajendra. Saya permisi."
Saat Mutia berjalan pergi, Dhafa menatap gadis itu hingga sosoknya menghilang di balik pintu. Dia kemudian menoleh ke arah Jendra dengan tatapan tajam.
"Jen, aku heran kenapa kamu bisa sebegitu bencinya sama Mutia. Dia itu gadis yang luar biasa. Kamu tahu nggak, banyak orang di luar sana yang bahkan nggak sanggup melakukan apa yang dia lakukan? Kalau kamu buka mata dan hati sedikit aja, mungkin kamu bakal sadar bahwa Mutia adalah perempuan yang lebih berharga dari yang kamu pikirkan."
Jendra mendecakkan lidah, bersandar ke sofa dengan wajah penuh kejengkelan. "Sudah, Dhaf. Aku nggak mau membahas dia lagi. Buatku, dia cuma pelayan kampungan. Nggak lebih."
Dhafa menghela napas panjang, lalu menatap sahabatnya dengan kecewa. "Kamu keras kepala, Jen. Suatu hari nanti, aku harap kamu nggak menyesal sudah menghina istrimu seperti ini."
"Dih istri apa? Aku bahkan ingin cepat-cepat menceraikan dia!" timpal Jendra tersenyum smirk. "Pokoknya enggak ada kata menyesal kalau dia pergi dari hidupku."
"Ya udah, Jen. Kalau kamu cerai sama dia, biar aku yang nikahin dia nanti, boleh nggak?" tantang Dhafa menaik turunkan kedua alisnya.
Jendra terkejut mendengar ucapan Dhafa. Sesaat dia ragu menjawab, dan akhirnya dia berkata, "Ya udah, kamu ambil dia aja sana!"
Dhafa pun tersenyum. Menatap Jendra yang terlihat canggung menanggapi ucapannya. "Nggaklah, aku bercanda kok. Ya kali aku menikahi mantan istri sahabatku. Teman-teman kita pasti bakal ketawa."
"Lagian kok kamu aneh sih, masak kamu yang seorang dokter spesialis kandungan mau sama pelayan jelek dari kampung yang menjijikan itu. Bahkan, jika dia berada di rumah bordil, aku yakin enggak ada satupun p****************g yang mau menyewa jasanya."
"Astaga, Jen!" Dhafa mengelus dadanya sambil geleng-geleng kepala. "Semenjak jadi pilot, omonganmu kok jadi toxic kayak gitu."
"Paan sih kamu! Makanya, jangan bahas pelayan kampungan itu! Bikin emosi aja!" sentak Jendra.
Sementara itu, di balik pintu dapur, Mutia kembali bersandar dengan mata yang mulai memerah. Air mata yang tadi sudah dia tahan kembali jatuh tanpa bisa dihentikan.
Dalam hatinya, dia berbisik lirih, "Ya Allah, beri aku kekuatan untuk terus bertahan di sini. Apa mencintai cinta pertamaku sesakit ini?"
Faktanya, Jendra adalah cinta pertama Mutia. Saat pertama kali dia melangkahkan kakinya di rumah itu, saat itu pula Mutia melihat Jendra yang mengenakan seragam pilotnya. Lalu rasa kagum itu berubah menjadi rasa cinta yang dia pendam.
Sementara di ruang tamu, Dhafa masih menatap Jendra dengan tatapan tajam. Hatinya dipenuhi rasa penasaran dan simpati yang mendalam untuk gadis bernama Mutia. Ada sesuatu tentang Mutia yang begitu tulus, yang membuat Dhafa merasa ingin melindunginya.
"Jendra keterlaluan banget, aku sumpahin dia biar jatuh cinta sama Mutia. Bukan ... bukan hanya jatuh cinta biasa, tapi rasa bucin yang ada di level tertinggi! Lalu, setelah itu, aku akan merebutnya, karena gadis cantik dan mungil itu adalah tipeku," batin Dhafa sambil mengepalkan tangan.