Seharian ini digunakan oleh Altair dan Alesha bermain di rumah keluarga Zachari, tapi ada yang berbeda dengan anak-anak itu, mereka memilih bermain sendiri-sendiri. Saat Peter menawarkan Altair bermain bola bersama, anak itu menolak dengan dalih kasihan pada kakeknya karena kelelahan.
"Al, dimakan dulu pudingnya mumpung masih segar." Dari arah ruang keluarga muncul Davika yang sedang menenteng nampan sedang yang berisi irisan puding buah yang ia buat.
Aleya dan Johan menoleh ke sumber suara, Davika memang suka membuatkan menu camilan bermacam-macam ketika cucu-cucunya datang berkunjung. Namun, hanya es krim dan puding saja lah yang Altair suka, selebihnya ia menolak.
Altair menyudahi bermainnya, ia mendekati Davika dan melihat yang dibawa oleh perempuan baya itu. Seketika matanya berbinar senang.
"Papa, besok kita renang ya?" Tiba-tiba saja Alesha berseru, anak itu berjalan mendekati Johan yang berada tepat di samping Aleya.
Johan menangkup tubuh anak gadisnya, tak lupa ia mencium lembut pipi gembul anak itu.
"Iya, besok kita renang. Alesha mau renang di rumah atau pergi ke wisata air 'hm?"
Alesha berpikir sejenak, ia menimbang-nimbang mau dimana ia berlatih renang bersama ayahnya.
"Kalau di rumah saja bagaimana?" jawabnya. Rumah ini memiliki kolam renang yang cukup luas, ada dibagian belakang yang merupakan favorit Davika untuk menjernihkan pikiran dikala sedang pusing mengenai masalah.
"Boleh-boleh." jawab Johan, ia mengangguk senang.
Aleya yang mendengar perbincangan antara ayah dan anak itu pun langsung ikut menimbrung pembicaraan.
"Kalau begitu Alesha menginap di sini saja, biar besok bisa main sama Papa. Jadi kan tidak perlu bolak-balik, kasihan Papa nanti." Aleya berujar, ia merasa kasihan jika Johan harus bolak-balik mengantar jemput Alesha.
"Memangnya Alesha boleh menginap di sini?"
"Boleh dong, kenapa tidak?" Kini Davika yang berujar.
Alesha mengulas senyumnya dengan lebar, ia pun menganggukkan kepala kuat-kuat.
"Alesha mau, nanti tidur sama Nenek aja." balasnya.
Davika menyambut cucunya dengan senang hati. "Ya, nanti Alesha tidurnya sama nenek."
"Nanti aku sama Altair aja yang pulang, biar Alesha ada di sini." ujar Aleya pada Johan, ia menatap mata pria itu dengan teduh.
"Kamu yakin? Bagaimana kalau Alesha mengigau memanggilmu." Johan sebenarnya sangat senang jika Alesha mau menginap, hanya saja ia takut bila anaknya memanggil-manggil Alesha ditengah malam.
"Tidak, ia sudah besar dan tak seperti dulu." balas Aleya menenangkan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang nanti, kemungkinan besok sore aku akan memulangkan Alesha ke rumahmu."
Terkadang Aleya merasa kasihan melihat anak-anaknya yang harus berpindah-pindah tempat seperti ini, tapi bagaimana lagi?
Keadaan yang memaksa mereka untuk melakukannya.