Janda Unlimited

1110 Kata
“Astuti sayang Abang kan? Tolong pahamilah dikit. Jangan sekarang.” “Terus abang sendiri paham nggak sama Astuti?” Suara Astuti makin keras. “Masa’ Astuti terus-terusan main sama jari sendiri?” “Abang kan udah beli vibrator.” “Gak mau! Astuti pengen yang asli!” Glk. Glk. Glk. langsung berdiri kejantanannya. Dan makin lama dia nguping makin v****r ucapan mereka berdua. Intinya adalah ada kebutuhan biologis dalam diri Astuti yang nggak mau dipenuhin Ucok.   Ini gila pikirnya. Astuti itu seronok luar dalem dan diabaikan Ucok si g****k itu! Ini pemikiran yang menyiksa bagi yang masih aja perjaka di umurnya yang udah 45 ini.   *                                                                Hari keenam di Korea. Udara pagi di atas kota Seoul cerah luar biasa. Rianti bangun dan memeriksa kondisi suaminya. Masih hangat keningnya. Masih lemas tapi tak separah kemarin. Ucok juga sudah bisa bangun dan bersandar di ranjang. Ah, kondisinya lumayan. Rianti pun bangun, menyiapkan obat yang dibelikan Ha-Jun. Entah apa nama obatnya karena tulisannya Korea semua. Yang jelas kemasannya elit, pasti mahal. Tapi biar pun sepertinya mahal, Ha-Jun memberi obat itu gratis dengan pesan khusus.   “Jangan peduli harganya. Yang penting suamimu cepet sembuh,” itu katanya.   Sebuah ucapan yang membuat Ucok makin senang dengan Ha-Jun yang juga dianggap sebagai teman barunya.   “Papa ngerasa enakan?” “Iya, syukurlah.” Ucok memang sudah bisa berjalan-jalan keliling ruangan. “Yang penting jangan terlalu diforsir. Itu pesan Ha-Jun.” “Iyaaa, Papa tau. Dan Mama juga jangan lupa minum obat dari dia.” Rianti menurut. Pada waktu mengambil dua butir pil, dengan santai dia meminum langsung. Saat itulah mendadak dia lantas teringat bahwa Ha-Jun tak pernah mengatakan berapa yang harus dia minum selain bahwa dia harus minum satu kali satu hari. Tapi berapa butir? Kemarin dia minum satu butir, dan hari ini dua. Ada efek kah? Bermaksud menelpon Ha-Jun, dia lalu mengambil ponselnya. Matanya menunjukan rasa kaget karena ada sebuah pesan masuk dari sebuah nomor. Dan nomor itu adalah nomor ponsel yang dia hafal betul siapa pemiliknya. Mulanya ia ingin menghapus. Tapi dia membatalkan dan putusakan untuk membaca isinya. “Semoga kamu berbahagia, Sayang. Doaku menyertaimu.” Membaca itu membuat Rianti menangis. Air mata keluar dari dua matanya yang indah. Dia menutup mulut dengan jarinya supaya jangan ada suara terlontar keluar. Ia sudah terlalu galau saat itu buat menelpon Ha-Jun soal obat. Brakkk!! Sebuah suara membuat Rianti terkaget. Ia berlari ke sumber suara dan melihat Ucok tergeletak di lantai. Hhhh, gara-gara kepingin cepat sembuh, Ucok bukan hanya jalan, dia juga lompat-lompat. Tadi sewaktu Rianti melihat ulah suaminya ia sempat memperingatkan untuk jangan terlalu diforsir. Tapi peringatannya diabaikan karena diam-diam Ucok  berolahraga ketat dan itu membuat Ucok malah jadi lemas lagi. Dia jatuh tergeletak di lantai. Dan lagi-lagi Rianti harus setengah mati membawa suaminya untuk kembali berbaring di ranjang.   Rianti mulai sebal. Dengan merawat berjam-jam sepertinya hari ini akan sama seperti kemarin dimana dia hanya akan ada di dalam apartemen seharian.   *   Yahya itu puya keterampilan pertukangan dan ia dikasih kepercayaan untuk ngebersihin rumah Ucok selama ditinggalin honeymoon. Kondisi ini dimanfaatkan Jayat. Yayad mulanya diminta untuk ngehubungin Ucok. Yayad ngasih laporan kalo dinding dan langit-langit kamar bossnya ada rembesan air sehingga perlu ditambal. Mereka lagi musim hujan dan ini bisa bikin gawat kalo gak cepat ditanganin. Kondisi langit-langit dari bahan gypsum bisa  rontok dan dinding yang basah bisa bikin ruangan jadi lembab dan gak bagus buat kesehatan. Seperti udah diduga Ucok langsung ngasih persetujuan. Di tahap ini Jayat yang beraksi. Betul bahwa Yayad dengan dibantu Yahya ngebetulin kamar Ucok. Tapi Jayat juga bekerja. Sebagai orang yang jago elektronik, dia diem-diem pasang hidden camera di beberapa titik. Mulusnya tubuh Rianti bikin mereka bertiga super nekad ngelakuin aksi itu. Bagi Jayat dia yakin aksi ini gak bakal ketahuan karena selama Yahya dikasih kepercayaan perbaikan, dia bisa singkirkan camera itu kapan pun mereka mau.   *     Bisnis pulsa yang dirintis Astuti berjalan bagus. Polan juga bisa diandalin dalam ngelaksanain tugas. Bermodal tiga ponsel sebagai sumber pulsa, mereka jualan dan dapet keuntungan lumayan. Sales kartu SIM juga mulai kenal warung Astuti dan nawarin macam-macam paket data Unlimited. Penghuni mess di rumah sebelah, langsung jadi pelanggan-pelanggan pertamanya. Astuti dengan senang hati melayani. Senang banget hatinya karena perhatian yang mereka berikan. Dari jarak sedekat ini dia bisa ngeliat kalo mereka semua emang ganteng-ganteng. Ada Bendri, Cecep, Viktor,  Dominikus, yang asal Papua, dan lain lain yang dia belum hafal. Aih, koq rasanya enak ya dikelilingin cowok-cowok ganteng. Apalagi kalo mereka badannya tinggi, gede, tangannya berbulu. Dari balik kemeja yang kancing atasnya gak ketutup sempurna Astuti juga bisa liat rimbunnya bulu-bulu di sana. Aih. Nggak sadar dia sampe nelan ludah sendiri dan sempat nggak konsentrasi ketika ngelayani permintaan untuk pembelian data paket unlimited-nya.     *   Sadar bahwa yang terbaik bagi dirinya adalah istirahat dan yang terbaik bagi bininya adalah memutari serta melihati fasilitas apartemen, Ucok setuju saja waktu Rianti minta izin berenang kembali di rooftop. Bagi Ucok, melihat Rianti bahagia adalah harapannya biar pun itu berarti isterinya akan pergi tanpa dirinya. Hanya itu dimaklumi karena cuaca sore itu enak buat berenang di tempat terbuka. Tak ada lagi panas dan hanya ada udara sore yang sejuk. “Berenang? Males, Pa. Bentar lagi udah mau gelap. Mana puas berenang sejam.” “Mau berenang berjam-jam? Gapapa. Ya Mama pulang udah gelap juga gapapa.” “Mama maunya sama Papa.” Ucok membelai rambut indah isterinya dengan kasih sayang. “Sabaaar.” Rianti akhirnya mengalah dan pergi sendirian. Begitu pintu kamar apartemen ketutup, Rianti berjalan ke arah lift dan memencet tombol ke atas. Dia hanya nunggu semenit sampai kemudian… Ting! Pintu lift terbuka. Tapi saat pintu lift untuk naik sudah terbuka, dia tak jadi masuk. Entah kenapa dia merasa tubuhnya berasda berbeda. Ia mengelus bagian depan dan belakang leher tanpa merasa pegal. Ia merinding.  s****n, kenapa mendadak dia jadi h***y. Ada cukup lama ia berdiri mematung sampai pintu lift menutup lagi. Dari posisi dirinya berada, dia bisa ngelihat sebagian pemandangan di luar melalui dinding kaca. Seoul yang indah membuat dirinya tersenyum. Dia sadar ada banyak bangunan-bangunan di sekitar apartemen dan satu di antaranya jaraknya deket banget dengan apartemen dimana dia ada. Jaraknya hanya sekitar 50 meter mungkin dan beberapa unit sepertinya terbuka dan gak ada kain gorden. Waktu ngeliatin begitu, mata Rianti yang tajam lantas ngeliat sesuatu di salah satu unit apartemen sebelah, Summerstone Tower 1. ‘Apa itu yang gerak-gerak warna coklat?’ tanyanya dalam hati. Begitu dipantengin, dirinya baru sadar. Jantungnya kayak mau copot karena yang gerak-gerak itu gak lain gak bukan adalah seorang cewek muda dengan pakaian setengah t*******g. Dan lagi m********i di depan kaca. Badannya gemetaran. Nggak nyadar dia jalan ke arah tembok kaca demi untuk liat lebih jelas. Pikirnya, bisa aja dia salah liat.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN