Waktu dengan punggung tangan Rianti memeriksa kening Ucok, dia kaget. Suhu badan Ucok panas. Ini bikin ia khawatir dengan kondisi suaminya. Dia jadi merasa liburan ini benar-benar bencana. Tak ada enaknya. Dalam keadaan panik seperti itu beruntung ada Ha-Jun yang rupanya telaten juga. Ia datang, merawat Ucok. Mengatur posisi berbaring Ucok, mengurut badannya, menjerang air panas dan mengkompres pria itu. Tangannya bergerak cekatan sedangkan Rianti yang awam soal perawatan kesehatan hanya sedikit-sedikit aja membantu.
Dengan perawatan yang dilakukan Ucok sekarang bisa tidur nyenyak. Nafasnya naik turun dan kelihatan tenang seperti bayi sedang tidur.
“Oh jadi kalian lagi honeymoon?” tanya Ha-Jun setelah mereka ngobrol sesaat dan bercerita kesana-kemari dan mengenalkan diri masing-masing.
“Iya, ini baru hari ketiga. Eh, empat.”
“Rencana berapa lama?”
“Seminggu. Tambah tiga hari ke kota Busan.”
“Kalo gak ada kasus itu pasti ini jadi pengalaman mengasyikkan. Kamu beruntung punya suami sebaik dia.”
Omongan itu malah seperti menyindir buat Rianti. Mukanya berubah sembab. Matanya berkaca-kaca yang menandakan ia sebentar lagi menangis. “Iya nih. Belum apa-apa udah ngalamin masalah seperti ini.”
“Suami kamu orang yang kuat. Pasti dia cepet koq sembuhnya.”
“Kamu gak tau, dia begitu bukan hanya karena makanan tapi juga gara-gara minum obat herbal.”
Ha-Jun kaget. Dia lantas minta supaya ditunjukan obat yang dimaksud. Begitu Rianti memberikan, orang itu menggeleng kepala. Mimiknya menunjukan kegalauan dan kesedihan.
“Kenapa?” Rianti heran dan cemas.
“Aku malu karena obat ini masih dijual bebas di negeriku. Ini obat yang terlarang sebetulnya. Obat ini memang terlalu keras.”
“Apa?!!”
Ha-Jun lantas dengan lancar bercerita tentang obat herbal itu yang ternyata memang produk yang sudah dilarang diperjualbelikan secara bebas di Korea. Obat itu memang obat kuat. Tapi yang konsumsi justeru bisa jadi lemas tubuhnya, dan lemas juga kepriaannya. Masih untung obat itu belum kadaluarsa karena kalau dikonsumsi terlalu banyak bisa menghilangkan nyawa. Dalam kasus terakhir, malah ada seorang isteri yang dituntut secara hukum karena dianggap sengaja membuat suamiya mengkonsumsi agar ia bisa mengangkangi hartanya.
Penjelasan Ha-Jun membuat Rianti yang cemas pada keadaan suaminya jadi menangis. Bagaimana pun Ucok adalah suaminya yang sangat dicintai. Kalau terjadi apa-apa, pasti dirinya ikut repot. Dan karena ini ada di negara lain, kalau kasus ini diperiksa oleh polisi dan mereka menganggap ada unsur kesengajaan, Rianti bisa dikurung di balik terali.
“Ini obat yang berbahaya. Dalam sisa waktu tiga hari, aku gak yakin suamimu bisa pulih betul.”
“Jadi kami harus bagaimana?” di balik kacamata yang dikenakan mata Rianti berkaca-kaca. “Kami rencana seminggu di Seoul dan tiga hari di tempat lain.”
“Usul saya sih lupain ke tempat lain. Kalian di Seoul aja terus supaya suamimu agak pulih. Kalo nggak, bisa gawat,” Ha-Jun berucap serius dan meyakinkan sampai Rianti sangat percaya.
Tangis Rianti makin menjadi-jadi. Melihatnya Ha-Jun lalu memegang kedua bahu Rianti.
“Aku akan cari obat. Aku yakin dalam tiga atau empat hari, suamimu bisa baikan. Saat itu artinya ada 1 – 2 hari yang bisa dipake untuk jalan-jalan. Aku akan bantu, janji. Kamu jangan khawatir, aku pasti dampingin.”
Rianti terharu mendengar pertolongan yang dijanjikan. Ia diam saja waktu Ha-Jun menyentuh dagu dengan jarinya supaya bisa tatapan.
“Aku ngerti kamu sedih. Aku ngerti kamu galau. Tapi aku ada di sini dan udah janji akan nolong kamu. Jangan pikir yang nakutin. Semuanya pasti oke. Aman-aman aja jadi tenanglah jangan panik, oke?”
Rianti mengangguk dan ia menyandarkan kepala di bahu Ha-Jun. Sambil berdiri berpelukan Ha-Jun menghibur dan mengatakan bahwa dia akan berusaha agar jangan sampe hal buruk itu terjadi atas Rianti. Di kota itu ia punya rekan dokter, polisi, petugas balaikota, dan mereka pasti bersedia membantu. Yang perlu Rianti lakukan hanya bersikap tenang dalam menghadapi kondisi ini. Kalau perlu – demi menghilangkan rasa galau – sebaiknya ia perlu bersenang-senang dulu di luar sana.
Ha-Jun menilai Rianti itu sangat cantik. Kalau tidak melihat langsung orang mungkin akan menduga bahwa kecantikannya hanya di-beautify tapi nyatanya tidak seperti itu. Wanita di depannya, isteri dari seseorang ini, memang cantik luar biasa. Saat berpakain lengkap dan tertutup pun wanita itu amat sexy dengan tonjolan p******a ukuran D yang besar. Ia menduga wanita itu akan melejit mencapai popularitas kalau saja ia bersedia berakting di film dewasa kategori X tiga.
Rianti jadi tenang dan dalam tangisnya – tanpa dirinya sadari – tahu-tahu dirinya sudah semakin menangis di d**a orang yang baru kemarin dikenalnya. Ha-Jun hanya membalas pelukan sambil mengeluarkan kata-kata hiburan dengan tangan mengelus-elus atau membelai kepalanya dengan sayang.
*
Pendirian Jayat untuk nggak lagi ngurusin kedipan mata Rianti, rontok. Gara-gara nonton bokep yang pelakunya dia rasa mirip Rianti, keinginan untuk ngegodain Rianti nongol lagi. Jayat itu kerja sebagai teknisi hape di sebuah lantai parkir mall. Suatu saat dia ngebetulin hape seseorang emak-emak tetangganya karena ada masalah di memori dan layar display.
Lah karena ngutak-utik itu dia jadi ngeliat kalo hape itu nyimpan beberapa video yang adalah rekaman perkawinan Ucok dengan Rianti. Lebih tepatnya momen Rianti ada di ruang rias sebelum masuk ke pelaminan. Emak-emak pemilik hape memang adalah orang yang Rianti tunjuk sebagai juru riasnya.
Video-video itu nggak begitu wah atau hot atau gimana. Masalahnya, cewek yang ada di sana adalah orang yang Jayat kenal banget. Dan karena itu adalah momen rias-merias, ada beberapa adegan dimana Rianti keliatan bagian-bagian tubuhnya.
Jenjang kakinya, lekuk pinggulnya, suspender yang dipake. Video juga sempat nampilin ketika selama beberapa detik Rianti keliatan topless alias kelihatan bagian tubuh privatnya. Jayat sampe harus nge-freeze demi untuk bisa natap lama-lama. Dan dia terkagum dengan kemulusan tubuh – tepatnya d**a - Rianti.
“Gile 36DD.”
Klip itu bikin Jayat jadi ‘bangun’ dan kepikiran lagi dengan senyum Rianti.
*
Hari kelima di Korea.
Ucok merasa beruntung bertemu orang sebaik Ha-Jun. Menurut pengakuannya, Ha-Jun itu bekerja di kompleks pergudangan di Incheon. Tapi selama beberapa hari ini dan sampe seminggu ke depan dia akan kerja secara remote alias online di rumahnya di Seoul. Jadi ketika dalam kesibukannya dia banyak nolong Ucok dan isterinya, hal itu pantas disyukuri. Hanya saja karena memang namanya orang yang bekerja biarpun online di rumah, tak selalu ia sempat datang di apartemen.
Adapun sakitnya Ucok sudah berkurang. Kalau sebelumnya ia merasa mual dan ada juga nyeri di lambung sekarang hanya tinggal lemasnya saja. Harapannya dalam 1 – 2 hari dia bisa sehat lagi. Ucok belum bisa pergi ke luar ruangan apalagi berjalan-jalan sesuai itinerary alias rencana karena dia harus fokus pada kesehatan dirinya. Kondisi ini bikin Ucok sedih sebetulnya karena dia sangat ingin membahagiakan isteri tersayang. Begitu juga Rianti.
Perhatian yang Ha-Jun berikan membuat Ucok percaya total pada orang itu. Apa pun yang disarankan, Ucok lakukan. Apa pun obat yang diberikan, semua dikonsumsi. Dan karena itu ia ikut membujuk isterinya untuk menerima saja obat dari orang sebaik Ha-Jun. Sebuah botol obat berisi puluhan pil yang berguna menjaga stamina selama Rianti di Korea. Alasannya, cukup Ucok saja yang mengalami gangguan kesehatan dan jangan sampai Rianti mengalami masalah yang sama. Tulisan di obat itu huruf kanji semua yang Ucok atau Ranti tak paham sama sekali. Obat itu diberikan Ha-Jun sejak kemarin. Ia pulang sebentar dan sejam kemudian sudah membawa obatnya.