Bagian 4 : Perjodohan

1621 Kata
Ayara baru saja terbangun dari tidurnya dengan muka sembab. Semalaman ia menghabiskan waktunya dengan menangis memikirkan permintaan Ibunya tentang menikah dengan anak dari teman Ibunya itu bahkan ia hanya bisa tidur beberapa jam saja. Keraguan kembali menyelimuti hatinya, meski ia sudah menyetujui hal tersebut tetapi setelah satu minggu berlalu dan tadi malam saat ia di minta pulang oleh Bima, sesampainya di rumah ia langsung berlari ke arah kamarnya, merenungkan semuanya kembali lalu ia kembali ragu. Bukan tentang siapa calon suaminya itu tetapi tentang bagaimana hidupnya menjalani sebuah pernikahan di saat dia masih berstatus sebagai Mahasiswa. Semuanya tampak rumit bagi Ayara, bahkan hanya sekedar membayangkannya saja. Ayara enggan beranjak dari tempat tidur, jam di atas meja di sampingnya masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Ia kemudian mengambil buku catatan hariannya yang berada di dalam laci meja. Buku berwarna biru langit dengan gambar bintang bertaburan. Ayara membuka lembar demi lembar halaman buku tersebut sampai ia berhenti di halaman yang ia sudah beri tanda dengan sebuah stiker note. Di halaman itu tertulis rencana yang sudah Ayara susun selama ini, dari mulai masuk kuliah di jurusan yang ia impikan, sampai kehidupan dia di masa nanti termasuk soal pernikahan. Ayara menuliskannya di sana bahwa ia siap menikah di umur 24 tahun atau paling telatnya di umur 25 tahun, dengan laki-laki yang ia cinta dan mencintai dirinya. Sekarang semua itu hanya sebuah tulisan belaka, karena kenyataannya ia harus menikah di umur yang baru saja genap 20 tahun dan dengan laki-laki yang sama sekali tak ia kenali. Satu rencananya terpaksa gagal dan tak sesuai dengan yang ia tulis di buku tersebut, namun bukan hanya itu saja Ayara rasa satu mimpinya juga akan gagal, menjadi sorang pelukis terkenal. Meski ia tak pernah tahu akan rencana yang telah Tuhan persiapkan untuknya di kemudian hari. Ayara menutup kembali buku harian itu, kemudian segera beranjak dari tempat tidurnya. Satu-satunya cara ampuh untuk menenangkan hatinya adalah dengan ia sholat. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, berharap dengan sholat hatinya akan kembali tenang dan ia meminta pada Tuhan agar semua yang memang baik bagi dirinya berjalan dengan lancar. Termasuk jika itu adalah pernikahan yang Ibunya inginkan.   ***   “Pagi, Bun, Kak,” sapa Ayara saat bergabung di meja makan bersama Ibu dan juga kakaknya. Ibunya sudah kembali bergabung dengan mereka meski baru saja menjalani operasi dan dalam masa pemulihan, semalam Bima memang pulang dengan Ibunya karena beliau memaksa untuk pulang malam itu juga, padahal masih harus beristirahat tetapi Bima tak bisa menolaknya, yang akhirnya Ibunya pulang malam itu juga. Ayara duduk di hadapan kakanya, tidak seperti biasanya, pagi ini gadis itu tak membantu Ibu dan juga Mbok Jum di dapur untuk menyiapkan sarapan mereka. Setelah terbangun di pukul 02.00 tadi ia tak kembali tidur sampai menjelang subuh dan setelah sholat subuh ia baru bisa tidur sampai akhirnya bangun setelah matahari menampakan sinarnya lewat celah-celah jendela kamar miliknya. “Pagi, Dek.” “Maaf ya Bun, tadi aku enggak bantuin di dapur,” ucap Ayara setelah menerima piring yang berisi nasi dari tangan Ibunya. Sarah yang melihat anak perempuannya bermata sembab hanya bisa menghela napas pelan. Ia tahu Ayara pasti menangis karena permintaannya waktu itu, tetapi semua itu memang yang terbaik dan Sarah yakin dengan keputusan yang ia ambil bersama temannya. “Gapapa, Sayang. Kan ada Mbok juga yang masak, lagian Bunda juga tadi cuma bantuin dikit gara-gara dilarang sama Kakak kamu, takut Bunda capek katanya,” ucap Sarah tersenyum lembut. Setelah itu mereka pun sibuk dengan makanan masing-masing, sementara Ayara terlihat tak napsu makan dan hanya mengaduk-aduk makanan saja. Hal tersebut terlihat oleh Bima, Kakak laki-lakinya.   “Kamu kenap Dek? Makanannya ko malah diaduk gitu,” tanya Bima. Ayara yang merasa terpanggil, menatap Kakaknya dan menggeleng pelan. “Enggak apa-apa, Kak. Cuma enggak enak aja tenggorokannya, jadi susah nelen,” balasnya berbohong. “Coba nanti Kakak check ya, takutnya kenapa-napa,” ucap Bima terlihat khawatir karena adiknya itu jarang sekali sakit. Ayara mengangguk dan kembali melanjutkan sarapannya meski hanya menyuapkan beberapa kali saja. “Yara ke kampus duluan, Bun, Kak,” pamit Ayara beranjak dari kursi. “Sebentar, kakak check dulu panas apa nggak badan kamu.” Sela Bima kemudian menarik Ayara untuk kembali duduk di tampat semula. Setelah itu Bima meletakan tangannya pada kening Ayara untuk mengetahui tubuh adiknya panas atau tidak. Tetapi suhu tubuhnya normal, hanya saja muka adiknya itu tampak lesu tak seperti biasanya. “Kamu beneran gapapa?” tanya Bima yang di jawab dengan gelengan oleh Ayara. “Enggak mau di anter?” tawar Bima yang kembali di balas dengan gelengan. Bima dan Sarah melihat kepergian Ayara dengan tatapan berbeda, terutama Sarah yang menatap kepergian anaknya itu dengan wajah sendu. “Bunda kenapa?” tanya Bima pada Ibunya. “Bunda ngerasa bersalah sama adik kamu.” “Memangnya ada apa Bun? Ada yang Bima gak tahu ya?” “Beberapa hari lalu Bunda minta adek kamu menikah sama anak dari temen Bunda da–-” “Menikah?! Bunda bercanda kan, umur Ayara baru 20 tahun, Bun,” potong Bima saat mendengar ucapan Ibunya tersebut. Sekarang Bima mengerti kenapa sedari tadi adiknya hanya diam saja padahal Ayara bukanlah gadis yang pendiam, dia bisa di katakan cerewet jika bersama dengan keluarganya. “Tapi semua demi kebaikan Ayara, Bim.” “Iya Bima paham, tapi kenapa enggak nunggu sampe Ayara siap, Bun?” “Bunda takut adik kamu terjerumus sama pergaulan bebas di luar sana.” “Ayara bukan anak yang seperti itu, Bun. Harusnya Bunda ngerti,” ucap Bima kali ini dengan nada sedikit tegas. “Ini juga permintaan Ayah kamu sebelum beliau meninggal.” Bima terdiam saat mendengar perkataan Ibunya, mendengar kata Ayah membuat dia tak bisa lagi berkomentar karena artinya semua demi kebaikan anak-anaknya. Bima menghela napas pelan menatap Ibunya yang saat ini tengah merenung. “Kalau ini memang yang terbaik, Bima dukung. Ayara pasti ngerti Bun, dia pasti masih kaget dan nanti juga biasa. Dia butuh waktu aja.” “Iya Bunda tahu itu.” “Memangnya siapa yang Bunda pilih buat jadi suami Ayara?” tanya Bima. “Sahabat kamu, Arion.”   ***   Bima baru saja tiba di rumah sakit, ia berjalan terburu-buru untuk mencari keberadaan Arion. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang di katakan oleh Ibunya saat tadi di rumah. Perjodohan antara adik dan juga rekan satu profesinya yang benar-benar tak terduga, bahkan membayangkannya saja ia tak bisa.  Belum lagi Arion laki-laki yang akan di jodohkan dengan adiknya itu yang ia tahu telah memiliki kekasih dan mereka akan segera menikah.   Bima masuk ke dalam ruangan Arion tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia terlanjur penasaran dan ingin segera mengetahui kebenarannya.  Arion melihat pintu ruangannya yang di buka melihat kedatangan sang Dokter senior yang tak memiliki wibawa itu jika bersama dengannya, sepertinya ia sudah tahu apa yang akan Bima bicarakan padanya. “Kebiasaan banget, lo.,” protes Arion setelah rekannya itu duduk di kursi yang ada di hadapannya. Meski Bima adalah Dokter seniorr di tempat kerja mereka, namun sikap Arion pada Bima bisa di katakan terlalu santai seperti kepada teman sendiri, itu karena Bima sendiri yang memintanya, laki-laki itu seolah ingin tetap muda dan bergaul dengan Dokter muda seperti Arion. “Udah enggak usah protes, gue mau penjelasannya sekarang juga,” ucap Bima. Bahkan yang biasanya terkenal dengan sikap penuh wibawa, irit bicara. JIka bersama dengan orang terdekatnya, Bima akan berubah tidak seperti yang dia tunjukkan untuk orang-orang di luar sana. Dan Arion sudah sangat paham dengan sikap dari seniorr-nya ini.  “Penjelasan apa?” kening Arion mengernyit. Tiba-tiba saja Bima datang dan berbicara hal yang sama sekali tidak dia mengerti arahnya ke mana.  “Rion, lo enggak usah pura-pura gak paham. Udah jelasin sekarang!” Arion mengangguk, kali ini dia paham dengan arah pembicaraan Bima. Sudah pasti tentang perjodohan yang melibatkan dia dengan adik Bima.  “Ck..! Ya lo udah tahu juga kan, apalagi yang mau lo tahu? Gue sama adik lo di jodohin, selesai.” Balasan Arion terdengar begitu santai, membuat Bima berdecak kesal. Apalagi penjelasan Arion sama sekali tak membuat ia puas karena bukan itu yang ingin ia ketahui. “Lo mau bikin adek gue jadi istri kedua?! Demi Tuhan gue enggak akan rela..!” Ucapan Bima membuat Arion terkejut, seniornya ini bagaimana bisa ia berpikir jauh sekali bahkan satu istri saja Arion belum tahu harus bagaimana, apalagi dengan dua istri sekaligus.  Benar-benar tak punya otak. “Lo kalau ngomong yang bener dikit, Bang. Satu aja gue bisa pusing apalagi kalau dua, yang ada gue bisa mati muda. Lo aja kali mau punya istri dua.” “Gak usah bahas gue, sekarang gue lagi bahas lo sama adek gue. Terus pacar lo ke mana? Bukannya kalian mau nikah? Lah perjodohan sama adek gue otomatis batal dong.” “Gue udah gak mau bahas dia lagi, intinya gue udah terima perjodohan ini. Toh gue gak bisa nolak juga apa yang di mau sama orang tua gue jadi ya udah jalani aja yang ada ini.” “Lo putus sama si Vena?” “Hmm..” “Lah, si bucin putus juga.” Ejekan Bima membuat Arion melemparkan pulpen yang sedari tadi ia pegang ke arah Bima membuat laki-laki itu tertawa karena berhasil menghindar sekaligus meledek Arion kembali. “Ekhm ... kalau emang lo terima, gue cuma mau titip adek gue sama lo, kalau sampe dia sakit hati dan itu gara-gara lo, gue yang akan jadi orang pertama yang bawa dia balik,” sambungnya.  Kali ini Bima kembali serius. “Belum juga jadi kakak ipar, lo udah main ancam segala,” protes Arion. “Antisipasi aja kalau gue mah.” Arion mengangguk, dalam hatinya ia berjanji akan menjaga wanita yang menjadi istrinya dan berusaha untuk tak membuat kecewa karena Arion juga ingin menikah satu kali saja. Meski pernikahan ini karena sebuah perjodohan orang tuanya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN