"Kamu, sudah punya pacar?" Tawa menggelegar menghiasi ruang pertemuan siang itu. Liona tersenyum sinis. Beberapa orang menutup mulutnya menahan tawa sembari melirik-lirik ke arahnya dengan tatapan serba salah. Pria itu merasakan darahnya mendidih ke kepala. Ia mengepalkan tangannya erat di bawah meja. Ingin rasanya ia menghajar Arjuna yang tidak tahu malu dan masih sempat tersenyum polos. Ia melirik ke arah Fara yang terlihat tidak nyaman dengan muka merah padam menahan malu. Pria itu menahan diri untuk tidak membela wanita yang dicintainya. Ada banyak hal yang ia pertaruhkan disana. Ia tidak ingin bertindak bodoh layaknya bocah yang beringas berebut mainan. Bukannya tidak berusaha, dia sendiri telah berjuang keras mengubur perasaannya yang ia yakini mati setelah dikhianati. Ia meyaki

