Dalam perjalanan pulang kembali ke kantornya, Fara melamun. Perasaannya campur aduk. Satu tetes bulir bening lolos dari sudut mata Fara yang segera dihapus oleh perempuan cantik tersebut. Fara memalingkan matanya ke arah jendela. Kendaraan berlalu lalang saling mengadu kecepatan masing-masing dibawah teriknya sang mentari. Sayatan di hatinya karena dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, masih menyisakan bekas yang belum sembuh sempurna. Melihat Andra kembali walau hanya sekadar tatapan mata, membuatnya mengingat kembali pedihnya luka itu. Dirinya ternyata masih labil. Berkali-kali meyakinkan hati dan melupakan kejadian di masa lampau, namun bayangan pengkhianatan itu masih tak jua pergi. Mungkin nanti, setelah mereka bicara. "Seto." Panggilnya memecah keheningan. "Ya?" Seto

