Sesak, melihat semua cobaan yang Allah berikan, dari mulai kembalinya Mbak Mala, lalu Mbak Yusfa, dan sekarang aku dihadapi kenyataan bahwa Mbak Mala hamil anak dari Pak Bara, alasan ia terusir dari keluarga dan rumahnya karena ia mengakui kehamilannya didepan keluarga. Meskipun berulang kali Pak Bara mengatakan bahwa bayi yang di kandung Mbak Mala bukan darah dagingnya, ia menangis bersimpuh dilututku bersumpah bahwa apa yang Mbak Mala katakan hanya bualan dan kebohongan. Aku putus asa tak ada penopang hidup, semuanya berjalan diluar nalar, aku tak sekuat istri Rasullah yang tabah dan sabar luar biasa, aku hanya manusia biasa yang lemah. Seperti kali ini aku hanya diam menatap Pak Bara yang tengah memohon-mohon disebrangku. Aku melempar bulpen kasar. “Apa susahnya tinggal tanda ta

