Bab 3 Young and Hot Mommy

1388 Kata
            Semenjak kehadiran Aiyra, banyak yang berubah dari hidupku. Awalnya, aku hanya dikenal dengan nama ‘Ibu Erlan’, ‘Dek Erlan’, ‘Mbak Erlan’, atau Nabilla. Sekarang, namaku jadi berubah ‘Mama Aiyra’, ‘Bunda Aiyra’, dan lain sebagainya. Kecuali tubuhku, aku juga sudah berubah dari IRT Alay menjadi IRT Serba Bisa. Dulu, aku paling malas bawa mobil kemana-mana, sekarang tidak lagi. Aku sudah sering membawa mobil demi berbelanja kebutuhan Baby A ketika si papa tak bisa mengantar karena kesibukan dinas. Dengan alasan itu pula, di ulang tahun Aiyra yang ke-1, mamanya mendapat hadiah mobil Brio putih, si mungil tapi gesit dari Papa Erlan.                 Dulu aku selalu lebay ketika menghadapi sesuatu atau masalah kecil semisal cicak nemplok di meja. Atau kecoak terbang. Atau mungkin tikus kesasar. Hewan-hewan nakal itu berhasil membuatku merinding disko dan nemplok di pelukan Babang Erlan semalaman. Namun, setelah ada Baby A, hewan usil itu yang takut padaku. Aiyra memang meniru sifatku yang takut pada hewan aneh itu, sehingga dia selalu histeris ketika mereka lewat. Tenang Sayang, ada sapu dan mama yang siap mengusir mereka. Babang Erlan saja sampai heran dibuatnya. Menjadi seorang ibu membuatku menjadi serba bisa.                 Ada lagi, aku sekarang bisa multitasking. Hahahaha. Iya, aku bisa menyuap Aiyra sekalian mencuci baju di mesin. Memanggang cookies kacang favorit papanya sambil menyapu rumah. Mencuci baju Kak Erlan yang harus dicuci tangan sambil mengawasi Aiyra mencicipi rumput teras belakang. Duh, anakku memang suka mencoba makan benda-benda aneh yang menurutnya enak. Bahkan, yang paling ajaib, aku bisa menyetir mobil sembari menyuapi Aiyra pure apple dan jeruk dari gelasnya. Huaha. Memuji diri sendiri itu perlu kan?                 Tak hanya jadi ibu super bisa, di malam harinya aku juga bisa dong jadi hot mommy. Mungkin karena usiaku masih muda, sehingga hasratku masih menggelora. Selain itu, di saat kami sedang asyik-asyiknya menikmati bulan madu, Aiyra hadir dalam rahimku. Maka dari itu aktivitas 18++ sempat di-pause beberapa saat. Untungnya Kak Erlan tetap sabar sekalipun aku sibuk di siang harinya. Sebab di malam harinya, aku masih sempat berdandan hot alias panas untuknya. Ya, walau kadang sering kutinggal tidur duluan sih. Hehe. Kupikir, anak bukanlah halangan kami untuk terus bermesraan. Semua hanya tinggal pintar-pintarnya kita cari celah saja. “Halo Yangti, ini lagi siapin sarapan buat Baby A dan papanya,” ujarku terburu sambil menerima telepon dari mama. “Masak apa buat Baby A, Nak?” tanya mama di seberang. “Sop Salmon dan pure kentang. Nasi uduk jakarta buat si papa,” ujarku antusias. Lantas tersenyum pada Kak Erlan yang sedang menyuapi Aiyra dengan buah naga yang dicacah kecil-kecil. “Wah enak tuh. Dek, ke rumah Mama dong. Yangti kangen sama Aiyra,” bujuk mama yang membuatku ingat dengan janji kemarin. “Iya Yangti, lupa. Insyaallah nanti deh sepulang belanja bulanan di supermarket, Abel mampir,” ujarku pelan. “Iya deh, Yangti tunggu ya? Kamu hati-hati bawa mobilnya,” pesan mama. “Siap Mama. Assalamualaikum,” ujarku menutup telepon. Mama membalas salam dan menutup teleponnya. “Kak, nanti aku izin belanja bulanan ya? Sekalian ke rumah Yangti,” ujarku pelan sambil meniup hawa panas di sarapan Aiyra. “Iya Sayang, maaf ya gak bisa anter sampai besok. Aku sibuk sekali di kompi,” ujarnya pelan. “Gak apa-apa kok, Kak. Ibu Persit kan harus mandiri,” ujarku menenangkannya. “Hati-hati ya bawa Aiyra, dia super aktif lho. Apa mau kuteleponkan Pratu Jajang biar anterin kamu?” tanya Kak Erlan perhatian sambil menyebut sopirnya. “Serius gak usah, Kak. Aku baik-baik aja. Malah bisa memupuk jiwa petualangan Aiyra. Kita lihat kali ini apa yang dia masukkan ke troli belanjaan. Apa mungkin shampoo mobil? Atau sikat kamar mandi? Kita lihat nanti,” ujarku yang membuat Kak Erlan terkekeh. Lantas dia mencium bayi kecilnya yang asyik memakan sarapan pagi. Anakku ini memang pintar, dia sangat rapi ketika sedang makan. Mirip sekali dengan papanya. “Ya udah, happy shoping ya Princess-nya Papa. I love you, Aiyra,” ujar Kak Erlan manis. “Pa pa youuu,” balas Aiyra yang berarti ‘I love you too, Papa’. “Lihatlah anak kita, Bel. Dia semakin pandai. Mirip sekali denganku.” “Iya, mirip papa deh,“ sahutku pasrah yang membuat Kak Erlan menatapku mesra. “I love you, Sayang,” ujarnya pelan. “Aku juga cinta kamu, Kak.” Balasanku sembari mencium tangannya. Aku sangat mencintai suami saat ini. Berharap kebahagiaan kami akan selalu abadi. --- “Halo Dea, ini aku lagi di jalan. Mau belanja sama Baby A. Kamu dimana?” tanyaku sambil berbicara dengan Dea di telepon memakai headset. Aku dan Baby A terjebak macet ibukota. Biasalah… “Bel, aku mau nemenin kamu belanja kok. Di hypermart biasa kan? Aku udah di depan mall,” balas Dea. “Oh, sabar ya. Kira-kira 5 menitan sampai. Udah deket kok,” ujarku pelan. “Ya Bel, santai aja.” Balasan Dea membuatku tenang. Untung saja hari ini aku tak sendiri. Dea yang saat ini sedang menempuh S2 ilmu psikologi anak mendadak mengajakku belanja kebutuhan bulanan.                 Aku mulai menjalankan Honda Brio putihku dengan pelan. Syukurlah kemacetan berangsur cair. Sehingga aku bisa cepat sampai di mall dan bertemu Dea. Apalagi sedari tadi kaki Aiyra sudah gatal ingin lepas dari car seat. Mainan dan biskuit tak lagi dapat mengalihkannya. Bagi Aiyra, supermarket adalah taman bermainnya yang paling luas. Ya ya, kesukaannya belanja sama denganku. Bedanya, Aiyra sangat tertarik pada benda aneh macam shampoo, sabun, dan sikat kamar mandi. Kalau mamanya sih jelas, sepatu dan tas boookk. “Deaaa!” panggilku antusias sambil menggendong Aiyra. Kami sudah sampai di depan pelataran mall dan siap untuk belanja. “Aiyraaa. Onti kangennn,” ujar Dea sambil menarik Aiyra dan menciuminya. Dia melakukan itu tanpa membalas panggilan rinduku. “Oti? Othiiiii,” celetuk Aiyra sesekali sambil memainkan rambut Dea. “Tambah gimbul aja kamu, Dek,” puji Dea sambil menggendong Aiyra. Aku menggandengnya masuk ke mall dan langsung ke hypermart. Tanpa tolah-toleh ke kanan kiri baju diskonan. Aku kan sudah berubah! “Aiyra, pelan-pelan jalannya, Nak,” ujarku sambil mengawasi Aiyra yang berjalan lincah di dalam supermarket. Tapi, tampaknya anak bayi itu tak mendengarkan kata-kataku. Dia berlari ke sana kemari seperti bermain di kolam bola.                 Tangan mungilnya memasukkan sebuah jeruk ke troli belanjaan. Lalu tanganku dengan lincah mengembalikannya ke kaca etalase. Aiyra Sayang, gak boleh keleus Nak cuma ambil 1. Harusnya minimal sekilo. Duh. Aku sedikit tertolong dengan Dea yang membantuku mengawasi Aiyra. Dengan begitu, aku bisa konsentrasi memilih sayur-sayuran sebagai isi kulkas. Dengan cepat kupilih wortel, brokoli, kacang polong, dan labu. Tak lupa kuambil ikan salmon dan mackerel sebagai bahan MPASI Aiyra. Bagian sayur sudah selesai. Tapi, aku tertahan ketika melihat tumpukan buah pear. Itukan buah kesukaan Kak Erlan. Ah, kesempatan nelepon yayang ah dengan alasan buah pear. Mumpung Aiyra sedang bersama Dea. “Halo Sayang,” sapa Kak Erlan lembut setelah mengucap salam. “Kak, mau buah pear gak?” tanyaku setelah membalas salam. “Masih segar, gak? Kalau iya boleh deh. 2 kg ya, Sayang. Terus kalau ada semangka non biji, kamu pilihkan yang bagus,” pintanya pelan. “Okay, siap Pak Danki. Lagi apa, Kak? Udah makan siang?” tanyaku perhatian sambil memilih buah pear. “Udah kok Sayang. Tadi ada yang bawa rujak gitu deh. Jadi kenyang sekarang. Aiyra mana? Kok kamu malah asyik nelepon?” tanyanya kemudian panik. “Tenang, ada tante Deanya kok. Tuh lagi maen kejar-kejaran kayak film India,” selorohku. “Oh, jangan sampai lengah ya. Udahan deh nanti lagi,” pamitnya. Yah, kok cepet sih. “Jangan ditutup dong, jarang-jarang loh kita bisa telepon-telepon manja kayak gini,” ujarku manja. “Sayang, kamu itu lagi ngawasi anak. Aku juga lagi dinas. Masak kita harus cuap-cuap sih?” elaknya. “Iya sih, tapi…” ujarku tak terlanjut karena terlanjur dipotongnya. “Sayang, udah ya. Kamu awasi Dedek baik-baik. Nanti kita ketemu di rumah mama. Aku susul,” pungkasnya.                 Dengan sedikit kecewa, aku menutup teleponnya. Ya harus kuakui, Kak Erlan memang sedikit berubah. Wajar kalau seorang ayah lebih sayang anak daripada istrinya. Tapi, Kak Erlan seharusnya tak seperti itu. Aku hanya ingin mengambil sedikit celah di hatinya untuk bermanja-manja. Bagaimana juga aku juga masih suka dimanja olehnya. Maklum usia kami berbeda 8 tahun kan. Cukup jauh dan aku cukup pantas untuk bermanja dengannya. Ah, aku kok malah melantur. Mana ya anakku dan tantenya tadi? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN