Dana membuka mata dengan perasaan yang ringan. Dia menarik napasnya dalam saat mendengar suara Adzan subuh yang kembali terdengar. Selama di Indonesia, telinganya seolah terbiasa mendengar panggilan untuk sholat itu. Dia duduk di atas ranjang dengan tangan mengeliat ke atas, untuk merenggangkan tubuhnya yang kaku. Dia menatap lampu hias dengan siluet dia dan keempat sahabatnya hadiah ibu dari Adnan, bayi yang dia tolong saat insiden tempo hari. Lampu berbentuk plakat itu terlihat cantik dengan warna putih kekuningan yang keluar saat dihidupkan. Terlihat seperti lilin yang menerangi kegelapan untuknya. Mungkin, seperti itulah sakti baginya selama beberapa hari terakhir. Pria itu selalu membuatnya merasakan keceriaan yang dulu dia rasa tidak pantas dia dapatkan. Pria itu tidak pernah mema

