Dana mendesah, menatap pintu kamar VVIP yang ada di depannya dengan risau. Debaran jantungnya bergemuruh cepat. Dia gugup. Telapak tangannya basah akan keringat dingin. Dia tak menyangka bahwa ibu paruh baya yang dia tolong tadi adalah ibu dari Sakti. Awalnya dia merasakan biasa saja saat menangani ibu itu. Tapi, setelah melihat panggilan ‘Mama’ yang dilontarkan Sakti tadi. Dan raut khawatir yang diperlihatkannya membuat tubuhnya seakan menciut. Benar, ibu tadi ramah kepadanya. Dia pun menangani ibu itu dengan ramah dan melakukan semuanya sesuai penanganan pasien yang lain. Tangan Dana bergerak seolah mengetik di tangan kirinya. Otaknya mulai berpikir apakah dia melakukan hal yang di luar prosedur atau ada satu hal yang membuat ibu itu tak nyaman. Dana menggeleng, meyakinkan dirinya bah

