Kedatangan Anika

1680 Kata
Bab 12 Aku tersentak ketika mendengar pertanyaannya. Papa Sandi dan Mama Ratna terus menerus menatapku. Mereka menunggu pernyataan tentang penyakit Mayang. “Ardan, kenapa bengong?” tanya papa. “Pah, Mah, aku baik-baik saja,” ucap Mayang. Ia tidak pernah berhenti meyakinkan kami bahwa ia baik-baik saja. Krekek .... Suara pintu dibuka oleh salah seorang suster. Ternyata dokter yang menangani Mayang datang untuk visit. “Pagi, Mayang ....” sapa dokter dan susternya. Kuperhatikan mereka sudah amat dekat, seperti sudah lama bertemu. “Pagi, Dokter Sulis,” jawab Mayang. Ia mengenal nama dokternya. Itu artinya sudah sering bertemu. Kami semua mundur, mempersilahkan dokter memeriksa kondisi Mayang. “Bagaimana si, kan saya bilang banyak-banyak istirahat di rumah, nggak usah becicilan,” canda dokternya. “Dokter bisa saja,” ejek Mayang gantian. Kemudian, setelah diperiksa, aku pun mendekatinya. “Dok, bagaimana dengan istri saya?” tanyaku. “Bapak suaminya? Bisa kita bicarakan ini di ruangan saya?” ajak dokter. “Bisa, Dok.” “Saya ikut!” Tiba-tiba papa meminta untuk ikut ke ruangan Dokter Sulis, dan ia pun mengangguk, tanda mengizinkan kami ikut ke ruangannya untuk bicara. “Mas, aku baik-baik saja, percayalah,” sambung Mayang. Kemudian, aku tersenyum tipis ke arahnya dan melangkah ke ruangan Dokter Sulis bersama papa. Kami berdua melewati lorong-lorong rumah sakit tanpa suara. Sepertinya papa marah padaku. Ia begitu cuek dan tak mempedulikanku. Wajahnya yang garang ditambah amarah yang seakan meledak, membuatku takut untuk bersuara. Setelah melewati 3 lantai, akhirnya kami masuk ke ruangan Dokter Sulis. “Silahkan duduk, bapak-bapak,” suruhnya. Aku dan papa duduk bersebelahan, ada rasa takut mendengar kenyataan yang disebutkan dokter. Aku takut Dokter Sulis mengatakan bahwa penyakit Mayang tidak akan bisa disembuhkan. Kemudian, dokter mulai membuka layar komputernya. Mungkin sedang mencari data rekam medis dari Mayang Kartika, istriku. “Baik, Pak. Saya akan menjelaskan penyakit Mayang. Sebelumnya, saya mau tanyakan pada bapak-bapak, apakah Mayang memberi tahu kalian tentang hal ini sebelumnya? Misalnya sering kontrol ke rumah sakit ini sebulan sekali,” tutur Dokter Sulis. Kami menoleh secara bersamaan, kedua tatapan papa sangat sinis menatapku. Ada kebencian yang ia pancarkan kepadaku. “Tidak, Dok,” sahutku. Kemudian disusul oleh papa yang menggelengkan kepalanya. “Baik, kalau begitu Bu Mayang mendam ini selama satu tahun lebih. Ya, saya tidak menyangka ini ia mampu menyembunyikan penyakit yang ia derita. Mayang mengidap kanker darah stadium awal, tapi kemarin ketika kontrol, kankernya sudah semakin menyebar, bisa-bisa berlanjut jika tidak diatasi buru-buru,” ungkap Dokter Sulis. Seketika jantungku berdetak hebat, hatiku hancur bagaikan kepingan kerikil yang dilindas beton. Rasa sesal kian menjadi ketika mendengar penuturan dokter bahwa ia merahasiakan ini sudah setahun lebih. Itu artinya, penyakit ini dideritanya setelah ia mengalami goncangan mental terhadap ibuku. Aku menghela napas panjang sambil mengelus d**a yang sesak ini. Langit seakan runtuh ketika dokter menyatakan bahwa kemarin ia kontrol dan dokter menyatakan kankernya sudah semakin menyebar. Ini yang membuat kondisi Mayang menurun secara tiba-tiba. “Pak, ada yang ingin ditanyakan?” tanya Dokter Sulis mengejutkan kami berdua. Ternyata pernyataan dokter barusan membuat kami berpikir macam-macam tentang kondisi Mayang. “Dok, apa Mayang masih bisa disembuhkan?” tanyaku dengan serius. Tangan ini kuletakkan di bawah dagu, agar lebih mencermati apa yang beliau ucapkan. “Tentunya, makanya kemarin saya meminta Mayang untuk bicara pada keluarga dan menyuruhnya banyak istirahat,” sambung Dokter Sulis. Papa bangkit dari duduknya, dan hendak pergi dari ruangan dokter. “Terima kasih banyak, Dok. Saya akan bicarakan ini pada Mamanya Mayang, kalau memang harus terbang ke luar negeri pun saya akan lakukan, demi anak saya,” tegasnya membuatku malu. Rasanya aku malu bercampur sesal, tidak dapat melakukan apapun pada Mayang. “Sama-sama, Pak,” sahut Dokter Sulis. Kemudian papa meninggalkan kami. “Dok, kalau gitu saya permisi juga, terima kasih,” susulku. Dokter pun mengangguk keheranan, terlihat dari matanya yang menyipit. Aku susul papa, langkah kakinya begitu patah, ia seperti kehilangan semangat dalam melangkah. “Pah, tunggu!” teriakku dengan langkah sedikit berlari. Aku menghadang di depan papa, sosok laki-laki yang begitu menyayangi anaknya. Plak .... Tamparan keras melayang tepat di pipi kiriku. Aku menghela napas, menerima kekecewaannya terhadapku. “Maaf, Pah. Maafkan aku,” ucapku dengan amat menyesal. “Suami macam apa kamu?” sentaknya. Bibirku sudah tak mampu mengelak ujarannya. Aku tahu betapa sakitnya hati seorang ayah, mengetahui anak wanitanya kini tengah sakit melawan penyakit yang sungguh serius. “Pah, maaf kalau aku gagal menjadi seorang suami,” lirihku. Plak .... Satu lagi tamparan keras meluncur di pipi kananku. “Tampar aku terus, Pah. Jika itu bisa membuat Papa memaafkan aku,” suruhku pasrah. Tatapannya kini mengalahkan segalanya, aku rasa hewan buas pun takut melihat amarahnya seorang ayah. “Kamu tahu tentang Ibumu yang selalu memusuhi Mayang? Kamu tahu itu nggak? Ia menutupi ini semua demi kamu!” sentaknya. “Pah, aku baru tahu, maafkan aku,” lirihku. “Mayang sudah lama bercerita pada Papa, tapi aku rasa urusan ini bisa diselesaikan jika kamu memberikan perhatian lebih pada Mayang, tapi kenyataannya apa? Begini jadinya,” sambungnya. “Pah, aku akan menebus semua kesalahanku, tapi tolong maafkan segala salah yang pernah kulakukan,” ujarku memohon. Ia pun melanjutkan langkahnya kembali ke kamar. Sepertinya perasaan papa sedang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Lebih baik aku biarkan saja dulu. Kemudian, aku ikut menemui Mayang lagi. Ada rasa sungkan berhadapan dengan orang tuanya, terasa berdosa atas apa yang diderita oleh Mayang. “Mayang, malam ini biar kami yang menemani kamu di rumah sakit,” ucap papa setelah sampai di ruangan. “Pah, nanti Papa ikut sakit, biar Mas Ardan saja yang di sini,” sahut Mayang. “Mayang, biarkan laki-laki ini pulang, tidak pantas ia menjadi suamimu. Jika sudah tidak becus, lebih baik pulangkan saja kamu pada kami!” tekan papa. Aku menghela napas, berharap ini semua hanya emosi sesaat. “Pah ....” Mayang merayunya. “Pah, ada apa sih?” tanya Mama Ratna. Sepertinya ia belum mengetahui duduk masalahnya. “Sudahlah, Ardan. Kamu pulang sana! Urus Ibumu saja,” cetus papa. Aku memejamkan mata, mencoba menerima kenyataan ini. Dibenci oleh mertuaku sendiri, sakit rasanya. Apalagi Mayang, yang tidak salah tapi ibuku teramat membencinya. Pasti luka itu takkan bisa terobati. Luka yang ibu torehkan pada Mayang, ibarat paku yang menancap di sebuah kayu. Meskipun sudah dicabut, masih akan ada bekasnya sampai kapanpun. “Mayang, aku pulang dulu, ya. Ngambil baju untuk nemenin kamu nanti malam,” ucapku pada Mayang. Agar ia tidak memikirkan pertikaian ini “Mas, kamu jangan ambil hati ucapan Papa, ya,” sahut Mayang. Wanita sudah terluka, tapi tetap saja menyayangiku dengan tulus. “Iya, aku tahu Papa sedang emosi, ia sangat menyayangimu, sama sepertiku.” Aku membelai rambutnya, kemudian mengecup kening wanita yang kini terbaring lemah. “Hati-hati, Mas, jangan lupa balik lagi, ya,” pesannya. Kemudian, aku pamit pada mertuaku. “Mah, Pah, aku pamit dulu.” Mata papa tidak ingin melihat ke arahku. Ia memalingkan pandangannya. “Hati-hati, Ardan. Tidak usah ke rumah, ya. Ada Reina dan Mbok Ani yang menjaga Arya. Khawatir Arya malah jadi tidak ingin ditinggal, melihatmu di sana,” pesan mama mertuaku. Sambil mengecup tangannya aku pun mengangguk. Dengan perasaan yang sudah terkoyak oleh ucapan papa mertua, aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Memang aku adalah laki-laki bodoh, tidak dapat menjadi teman cerita keluh kesah seorang istri. Ini akibatnya, penyakit pun menyerang istriku. Untuk saat ini, tidak ada yang bisa aku lakukan. Apalagi mengembalikan keadaan menjadi seperti semula, itu tidak akan pernah bisa aku lakukan. Sesampainya di rumah, aku melihat ada ibu dan Sita sedang merapikan rumahku. Rasanya enggan sekali bicara padanya. Sudah mati rasa setelah mendengar kelakuan mereka. “Ardan, bagaimana dengan keadaan Mayang?” tanyanya. Entahlah, ia hanya pura-pura atau serius perhatian pada istriku. Aku menunduk, lalu melempar tas yang aku bawa. Kemudian, merebahkan tubuh ini yang amat lelah. Semalaman aku tidak tidur, hanya terus menerus menyesali apa yang telah terjadi. “Mas, maafkan Ibu, gitu-gitu kan Ibu telah melahirkanmu, masa hanya gara-gara seorang wanita yang tidak kaukenal sebelumnya, sikapmu berubah seperti ini,” tutur Sita sambil mendekati ibuku. “Diam, kamu! Siapa yang suruh kamu ikut campur?” sentakku kesal. Sita hanya menantu yang kebetulan sangat dekat dengan ibu. Kenapa ia sudah berani menasihatiku? “Ardan, Ibu sudah mengakui kesalahan yang telah kulakukan, apa tidak ada celah maaf untuk Ibu?” rayunya dengan sejuta iba dan belas kasih. Aku mendesah kesal, lalu memalingkan wajah dari mereka. Kusandarkan tubuh ini pada sofa, dan merebahkan sejenak sambil memejamkan mata. Akhirnya mereka pun menjauhiku. Mungkin merasa aku tak mempedulikan segala ucapan dan rayuannya. Aku melirik dengan mata sedikit tertutup kedua tangan, yang aku letakkan di kening ini. “Ayo Sita, kita pulang saja! Percuma di sini jadi patung, ngomong juga dicuekin,” celetuk ibu pada Sita. Namun, yang kulihat, mereka tetap berdiri di depan sofa yang aku duduki. Jangankan mendengarkan ucapannya, melihat wajah mereka sebenarnya sudah tidak mau. Teringat ucapan yang pernah mereka lontarkan. Itu teramat perih, padahal hanya lewat cerita yang Mayang paparkan. Apalagi Mayang yang mendengar langsung celetukkan mereka dari mulutnya? Tentu takkan pernah bisa ia lupa. Tidak lama kemudian, suara mereka sudah tidak terdengar. Sepertinya ada di dapur, mungkin sedang merapikan perlengkapan dapur yang kotor. Aku segera bangkit, lalu melangkah ke kamar mandi, untuk melunturkan rasa lelah yang kurasakan sejak kemarin. Usai mandi, kuperhatikan ternyata ibu dan Sita belum juga pulang. Ia masih berada di dapur. Jenuh rasanya yang mereka katakan hanya kata maaf dan maaf. Tidak berusaha menunjukkan rasa penyesalan atas ucapan yang dulu pernah mereka katakan. Hanya persoalan uang yang mereka peras terhadap Mayang yang dibahasnya. Tok ... tok ... tok .... Suara ketukan pintu terdengar, ada tamu datang ke rumah. Aku segera membuka pintu untuk melihat siapa yang bertamu. Setelah kubuka, ternyata ada sosok wanita sebaya dengan ibuku. Kira-kira usianya sepantaran ibu, hanya penampilannya saja yang berbeda. “Selamat siang,” ucapnya dengan senyum merekah. Tidak lama kemudian ibu dan Sita pun muncul. Namun, yang membuatku terkejut, ibu mengenal wanita tersebut. Aku mengetahuinya karena ia menyebutkan nama wanita yang berdiri tepat di hadapanku. “Anika ....” Aku menoleh ke belakang. Kulihat wajah ibu terperangah melihat kedatangan sosok wanita yang ternyata bernama Anika. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN