Alana meregangkan otot-otot lengannya yang terasa kaku seraya membuka kedua matanya. Ia memicingkan kedua matanya begitu mendapati sepasang tangan yang bertengger di pinggangnya entah sejak kapan. Ia lalu menatap lelaki di depannya yang masih terlelap. Gadis itu menatap penampilannya yang berbalut kemeja kebesaran milik Bagas dan kedua matanya membulat di detik berikutnya. Ia mengedarkan pandangannya dan benar-benar mendapati dirinya berada di dalam kamar. "Ah, sial." Alana memijat keningnya. "Ini masih pagi dan kau sudah mengumpat." Alana menatap Bagas yang sudah membuka kedua matanya. "Sudahlah. Kita harus bersiap-siap ke sekolah atau kita akan terlambat." Alana menyingkirkan tangan Bagas namun lelaki itu malah semakin menarik tubuhnya. "Biarkan seperti ini," gumam Bagas. "Hari

