"Kau yakin?" tanya Bagas berusaha meyakinkan. Alana menggigiti ujung kuku jemarinya tanpa melepaskan pandangannya barang sedetik pun dari orang-orang yang kini tengah berada di ruang tengah. "Entahlah, tapi aku tak bisa menahannya lebih lama lagi. Kau tahu? Semakin lama membiarkan ini, semuanya akan semakin rumit," ujarnya kemudian. "Kita bisa menunggu sebentar lagi, ayolah. Kau ingin membuat masalah? Ini bahkan belum sebulan." "Tidak bisa, Gas. Kita harus bercerai secepatnya." Bagas termenung setelahnya. Lelaki itu menatap Alana yang sudah terlebih dahulu berjalan mendekati orang tuanya. "Tidak biasanya kalian menyuruh kami kemari. Ada apa?" David berujar seraya meletakkan cangkir teh di tangannya. Ia beserta sang istri datang sesaat setelah selesai meeting. Alana berkedip dua k

