Hari pertunangan

1015 Kata
"Iya." david menjawab dengan senyuman dan sedikit anggukan, dia langsung masuk kedalam mobilnya. "Dewa asura, apakah ada masalah di luar sana." Sebagai prajurit dimas dapat merasakan aura permusuhan di dari pria yang di hormatinya ini. Bahkan aura itu membuatnya sedikit bergidik ngeri, sebagai kolonel dia selalu mendengar sepak terjang david di dunia perang, jadi wajar jika dimas sedikit takut dengan david. "Bagaimana kalau aku membantu anda untuk menyelesaikannya jendral." dimas kemudia bertanya kepada david sambil sesekali melirik ke spion mobil. Dimas juga sedikit mengeluarkan kata tegasnya, sebagai prajurit yang di hormati di kota jakarta, mana mungkin ada masalah kecil yang dapat membuat dimas tidak dapat menyelesaikannya, terlebih lagi ini adalah kotanya. Dimas terkenal dijajaran prajurit di kota jakarta, dia termasuk orang yang kejam, jika ada yang berani menganggunya. Setidaknya, jika masalah yang dihadapi david selaku pria yang di hormatinya, adalah masalah tentang keluarga yang menaungi grub stage ataupun grub sanjaya, selagi itu masih di kota jakarta, masih kecil di mata dimas. "Beberapa lalat yang tidaj berguna, lupakan saja." David yang duduk di dalam mobil sambil melambai tangannya kemudia dia menutup matanya untuk menenangkan dirinya. Bagaimanapun keluarga sanjaya adalah keluarga karin sekaligus memiliki ikatan darah dengan anaknya, mana mungkin david tega menghancurkannya. Dia dapat melihat, walaupun karin sudah di usir bahkan berkali-kali di sakiti oleh keluarga sanjaya, di matanya masih tersimpan kepedulian kepada keluarganya. Jadi david tidak ingin membuat wanita yang di cintainya merasa sakit melihat keluarganya hancur. Namun, bukan berarti david tidak akan menghancurkan keluarga karin, jika keluarga sanjaya masih gigih untuk melewati batas kesabaran david, maka david sendiri yang akan menghancurkan keluarga itu sendiri, dia tidak keberatan melakukan itu. "Baiklah." Dimas menjawab dengan sedikit anggukan, didalam peraturan militer, perintah dari atasan adalah mutlak dan tidak boleh di langgar. "Kalau begitu, kemana kita pergi selanjutnya ketua?" Pergi kemana? David sedikit berfikir kemana dia harus pergi sekarang, melihat lalu lintas yang padat melalui jendela mobilnya, dia kembali menginggat ayah angkatnya viktor, sebab pertemuan pertamanya hanya sebentar. Kota jakarta, adalah kota pertama kali david di lahirkan, bahkan dapat di sebut sebagai kota yang memiliki sejuta kenangan di hati david. Termasuk ayah dan ibu angkatnya. Dia tidak memiliki hububgan darah sama sekali, tapi ayah dan ibu angkatnya memperlakukannya seperti keluarga. Dan juga, orang yang sudah berubah sikapnya, yaitu dahlia, waktu kecil dia ingat bahwa dahlia sangat suka memakai rok bermotif bunga dan memanggilnya "Kakat david." Sudah 10 tahun dia meninggalkan mereka, tanpa mengucapkan selamat tinggal, jadi wajar jika dahlia sekarang membencinya. "Sudah 10 tahun, dan aku hanya mengunjunginya kemarin walaupun hanya sebentar, tapi mereka semakin tua, untuk saat ini aku akan menjaga mereka." Mata david, dipenuhi dengan rasa terima kasih, untuk saat ini masalah betty dan karin di kesampingkan dulu, masalah sekarang adalah berbakti kepada orang tuanya. "Dimas kita pergi kerumah orang tuaku." "Orang tua? Ketua apakah anda memiliki orang tua di jakarta ini? Bukannya orang tua anda berada di luar negeri?" dimas sangat terkejut mendengar perkataan david, namun dia tiba-tiba menyadari bahwa perkataannya sedikit tidak baik, masalah keluarga adalah masalah yang tidaj di sukai david untuk mengungkitnya. "Dimas aku hanya akan mengatannya sekali!" "Aku david robert, hanya memiliki satu keluarga dijakarta ini, dan untuk keluarga Liam yang berkuasa itu, aku sudah tidak menganggap sebagai keluargaku lagi." "Dimas, apakah kamu sudah mendengarnya?" Dulunya david memiliki marga Liam tapi semenjak dia ditelantarkan, dia mulai menghilangkan marga itu kemudian diangkat jadi anak oleh robert dan mengizinkannya memakai sedikit namanya. Tatapan david tertuju kepada Punggung dimas, walaupun dimas tidak menyadari bahwa dia ditatap dingin oleh david, namun instinnya mengatakan dalam bahaya. Dengan cepat dimas mengangguk: "Mengerti... Aku sangat mengerti jendral." punggung dimas saat ini berkeringat. Setelah mendengar ucapan dimas, david menyebutkan alamatnya, kemudia dia menutup matanya kembali untuk istirahat. "Jika sudah sampai, bangunkan aku." "Baik jendral." *** Setelah sampai kerumah orang tua david. Terlihat kembali rumah itu yang sederhana, walaupun sederhana namun disanalah david dahulu melewati masa kecilnya. Walaupun david sudah datang kemarin, namun tempat terasa seperti asing kembali bagi david. David baru memperhatikan di sekelilingnya, tanah yang luas dulu kini menjadi sebuah pabrik, sudah tidak ada lagi taman bermain dahulu didekat rumahnya. Kemarin david hanya fokus kerumah itu, sehingga tidak melihat sekelilingnya. Dia ingat, tempat pabrik itu dahulunya adalah tempat bermainnya, dia dahulunya sangat suka bermain layangan, menangkap jangkrik dan bermain kelereng dengan anak seumurannya. Namun sekarang semua hanya tinggal kenangan di hati david. Setiap awal musim hujan, dia sangat menginggatnya dia bermain hujan dengan dahlia sampai dia di marahi oleh victor. "Sudah 10 tahun, dan semuanya semakin banyak berubah." David mengelengkan kepalanya dan tertawa. Setelah david turung dari mobil, dimas langsung pergi karena dia tahu, bahwa menganggu reuni keluarga tidak baik bagi orang luar. Pada saat ini, dirumah keluarga viktor, terlihat banyak tamu, suasananya sangat meriah. Sepertinya ada pesta yang berlangsung. "David?" Terdengar suara pria memanggilnya, itu adalah suara viktor yang sedang menyambut tamu, melihat david masuk dia langsung memanggilnya. "Ayah!" david menjawab dengan senyuman. "David, maaf aku tidak memberitahumu, hari ini ada acara di rumah, tadinya aku ingin menelfonmu tapi aku baru ingat bahwa aku belum memiliki nomormu," "Apalagi, pertunangan ini sangat mendadak." Victor menghela nafasnya setelah berbicara. Saat ini terlihat wanita paruh baya keluar dari rumah, setelah melihat david dia sangat gembira, dan segera dia pergi kedekat david. "David, anakku!" "Ibu." david menatap wanita didepannya, terlihat dia sangat sedih setelah melihat lagi wajah tua itu. "Ibu, kenapa kamu bekerja terlalu keras, jagalah kesehatan mu bu." Wanita paruh baya itu tidak lain adalah rahma. "David, ibu masih kuat kok, bahkan ibu masih sangat sehat." David hanya bisa menghela nafasnya, kemudia dia maju dan memegang tangan orang tua itu. "Ibu, jangan lupa bahwa kamu masih memiliki seorang putra disini, jadi ibu kerja yang ringan saja atau ibu istirahat saja." David segera, memandu ibunya untuk duduk di kursi. "Anak nakal, kamu masih saja sepertih dahulu, tidak bisa membiarkan ibu bekerja." "Kamu ingin membuat ibumu ini menganggur ya?" "Ibu, bukankah aku putramu, jadi wajar jika aku menghawatirkan ibuku." David memperhatikan kembali di sekitarnya, lalu bertanya: "Ibu, mengapa sekarang sedang ramai? Apakah ada acara syukuran?" Rahma tersenyum dengan gembira, "Tentu saja, adikmu dahlia akan segera menikah, hari ini adalah hari pertunangannya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN