BAB 6

1323 Kata
Cos i am your lady and you are my man.... Nada dering ponselku bergema di ruangan tiga kali empat meter ini. Aku melihat nama mas Roy sebagai pemanggil. Aku biarkan sejenak sampai panggilan itu berhenti. Tak menunggu lama, ponselku berdering lagi dari kontak yang sama. "Hallo, mas!" "Sayang, siap-siap yah. Kita dinner di luar!" "Benar, kah? Padahal aku baru saja mau masak makan malam kita." "Benar dong, honey. Tiga puluh menit lagi aku sampai. Kita langsung pergi aja " "Kamu nggak mandi dulu?" "Nggak usahlah. Toh aku udah mandi tadi pagi. Semprot parfum aja nanti biar nggak bau." Aku berdecak pura-pura kesal dan dia balas dengan tawa renyah. "Kebiasaan deh!" "Kan kamu suka bauku yang seperti itu. Lagian, ntar kalau aku wangi, aku jadi pusat perhatian cewek-cewek. Malas lah!" Alamak makjang, dia kira aku nggak bisa sepadan sama dia kalau lagi hang out dan pujian akan selalu padanya? Hey suami! Bukan bermaksud sombong yah, tapi aku masih lebih dari cocok dan pantas di ajak kondangan. Bahkan orang mungkin akan bilang kamu beruntung bisa dapetin perempuan kayak aku. Lookingku bahkan lebih mewah dari kamu, you know! Oh Tuhan, tolong hentikan kenarsisannya. Ketok kepalanya biar sadar dikit. "Ya udah deh. Udah yah. Aku siap-siap dulu. Aku mau tampil glowing biar ntar kamu nggak cuma kamu yang jadi pusat perhatian orang, tapi aku juga. Byeee!" Aku memutus panggilan sebelum penyakit narsisnya semakin kumat. Bahaya! Aku ke dapur dan membereskan kekacauan yang aku buat tadi. Aku menutup semua tirai lalu aku ke kamar kami. Mandi sebentar dan mengenakan kulot high waist di padankan dengan one shoulder sleeveless ngepas badan warna putih krem. Pinggangku yang no lemak dan perut kencang milikku terlihat ramping dan menakjubkan. "Hope i meet someone who fall in love at the first sight with me!" Aku tersenyum pada diriku sendiri setelah membisikkan kalimat itu. "Tau diri dong, lu itu istri orang, masa ngarepin di jatuh cintai lagi sama orang lain," ujarku pada diri sendiri sambil tersenyum. Sepertinya aku udah ketularan narsis kayak si Roy l4knat itu. Aku memutar tubuhku untuk melihat penampilan terakhirku setelah make up tipis on. "Perfect!" gumamku seraya mengambil beberapa poto di standing mirror. Biasa! Poto dulu sebelum go way. **** Aku mendengus melihat mas Roy yang rambutnya lembab dan tubuhnya wangi segar. Ya, dia pasti mandi setelah berpanas-panasan dengan si creamy pvssy itu. "Wangi!" pancingku setelah pura-pura mengendusnya. Padahal aku sedang mencoba mencari bau yang lain yang mungkin sama dengan bau yang aku kenal. "The power of minyak wangi!" ujarnya sambil tertawa. Dia mengambil minyak wangi dari tasnya lalu menyemprotkannya sekali lagi setelah aku menjauh. Sial, sepertinya dia sadar. Dia langsung menyemprotkannya lagi sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau. "Gimana meetingnya!?" tanyaku basa basi sambil memasang seat belt. Aku memalingkan wajah karena kesal atas kegagalan itu. Bukan sok ingin tahu pekerjaannya, tapi aku ingin melihat reaksi dia seperti apa. Ingin mendengar jawaban bohongnya dan ingin mempelajari mimik dan cara dia bicara saat berbohong. "Just so so. Biasalah!" jawabnya seraya mengendikkan bahu dan pura-pura membenarkan seat beltnya yang sudah terpasang. Dia juga menggosok hidungnya. Biasa kayak gimana? Aku kan nggak pernah ikut meeting kayak dia. Aku dulu bagian accounting. Jadi tidak ada meeting membahas proyek. Jawaban mengambang karena sebenarnya tidak ada meeting. Biasanya, dia akan heboh menceritakan apa yang di bahas dan pujian apa yang di layangkan padanya. Dia juga kadang memaki kesal pak Daniel atasannya karena 'semua mata tertuju pada Daniel' si tukang perintah. Melihat sikapnya yang tidak seperti biasa, aku hanya tersenyum meresponnya. Mataku sesekali meliriknya dan sepertinya dia salah tingkah dan sedang sibuk mencari bahan pembicaraan tapi tidak ada. Pada akhirnya, dia hanya berdehem dan pura-pura batuk tak jelas. Dalam perjalanan kali ini, entah kenapa kami lebih memilih untuk diam. Tidak seperti biasa yang punya banyak sekali bahan pembicaraan bahkan membahas perang dunia ketiga. Saking tidak bisanya diam, aku juga sering membahas seseorang yang sedang boncengan naik motor di samping mobil kami, mulai dari lengketnya pelukannya sampai sepatu dan bajunya juga. Sorry, julid! Hahahah Aku scroll toktok dan mataku melebar kala melihat unggahan seseorang tiga jam lalu. Milasari_Ng Thanks big bos ups big bro i mean. @NgL_L Aku menoleh pada mas Roy yang fokus menyetir. Dia juga menoleh lalu tersenyum padaku. Senyum hambar. Satu kebohongan aku temukan. Dia tidak meeting bareng Leon karena Leon sedang bersama adik dan mamanya di sebuah pusat perbelanjaan siang tadi. Terbukti dari unggahan Mila adik perempuannya. . . "Uli?" Aku segera menoleh lalu aku tersenyum melihat siapa yang baru saja menyebut namaku. "Hallo Tante, apa kabar?" Aku membilas tanganku cepat lalu mengeringkannya di mesin pengering yang tersedia di dalam toilet ini lalu aku mendekat dan salim pada wanita paruh baya yang memanggil namaku dengan begitu nyaringnya. "Sama siapa, Tan?" tanyaku lagi walau sedari tadi di kacang goreng i. Wanita itu tersenyum lalu mengelus lenganku yang terbuka. "Kamu tambah cantik." Aku tersenyum dan membetulkan anak rambutku. Salting. "Tante bisa aja, hehehe. Tante sama siapa?" kutanya ulang karena aku penasaran. "Biasa, sama si bontot. Dan di kawal jagoan. Nih orangnya," tunjuknya pada gadis muda yang barusan keluar dari salah satu bilik toilet. Si bontot. "Ka Uliiiiiiii..." Aku tertawa melihat reaksinya ketika bertemu denganku. Udah sekitar tiga tahun tidak bertemu dengannya dan sekarang dia sudah menjadi gadis manis yang modis. Uang memang sungguh berkuasa. "Hai Mila, how are you?" "Absolutely good dong kakak. Kakak makin cantik bangat tau nggak. udah ada baby belum?" "Milaaa!" Sebelum aku jawab, dia di tegur duluan sama mamanya, tante Bintang. "Nggak sopan!" ujarnya dengan wajah geram tapi tidak ada seram-seramnya. Balik lagi, uang memang berkuasa. Wajah tua yang mulai keriput biasanya kalau marah pasti sedikit menyeramkan, tapi karena perawatan mahal, keriput bisa di tutupi oleh lembaran uang kasat mata sehingga ketika marah, wajahnya tetap cantik. "Yeee, nggak apa-apa kali, Mom. Mila kan pengen tahu. Soalnya kan, dulu waktu sama ..." "Belum ada baby, belum cocok mungkin jadi parents," jawabku cepat untuk memotong seraya mengendikkan bahu dan detik berikutnya aku kena omel tante Bintang. "Kalau nggak belajar siap ya nggak akan di kasih. Bukan karena belum cocok, kamunya aja mungkin yang belum siap. Every women cocok jadi ibu bahkan yang jauh lebih muda dari kamu. Sekarang balik lagi ke orangnya, yang bikin dia tidak cocok itu ya karena dia belum memantaskan diri, belum mempersiapkan diri dan mental. Kamu ini gimana, sih! Bilang aja masih mau pacaran dulu kek, lagi di tunda kek. Jangan bilang nggak cocok. Tuhan marah." Aku tersenyum saja menanggapinya karena tante Bintang adalah tipe orang yang nggak bisa di lawan. Dia akan selalu ada jawaban untuk menyangkal apa yang kita bilang. "Tapi kakak beneran tambah cantik loh, kak. Serius!" Mila sepertinya belum puas. Dia melihatku seperti sedang melihat pujaan hatinya. Aku jadi salting dong. Jadi benar yang aku bilang kan? Aku cantik. Cuma suamiku saja yang kurang bersyukur. Mungkin tunggu aku di taksir orang lain baru dia sadar punya bini oke punya dan menyesal telah menduakan aku. "Kamu bisa aja Mil. Kamu tuh yang tambah cantik." "Harus dong. Kan udah kuliah, harus bisa mempercantik diri biar bisa jadi cewek rebutan kayak kakak, hihihi." "Kamu sama siapa?" Mamanya langsung memotong ucapan Mila lagi sebelum aku menjawab. "Sama mas Roy, Tante." Wanita itu mengangguk lalu kami bertiga secara beriringan keluar dari toilet dan berjalan menuju meja masing masing. Stttt, sini aku kasih tahu. Tante Bintang adalah mamanya Leon dan beliau adalah salah satu alasanku untuk menikah. Dia bukannya benci atau tidak suka padaku walaupun dia kadang tidak menjawab apa yang aku tanya. Dia sayang padaku buktinya dia sering kasih aku nasehat bahkan nasehat agar aku segera menikah waktu itu. Menikah muda alias menikah di umur dua puluh lima tahun. Padahal umur segitu masih panas-panasnya cari uang dan cari jati diri, kan? Tapi, ada satu kejadian yang seharusnya tidak di ungkit bahkan harus di lupakan karena mungkin masih menyisakan satu luka yang masih membekas. Aku merasakan tatapan tajam mengikuti aku ketika hendak berjalan ke arah meja kami. Bulu romaku merinding, entahlah. Mungkin karena pakaianku yang minim jadi aku kedinginan kali yah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN