15. Pria dan Wanita Itu Berbeda.

1327 Kata
Letak kelemahan pria dan wanita jelas berbeda. Cobalah saling mengerti di posisi lawan pasangan, agar paham perihal saling melengkapi. -My Kayang- PAGI dini hari Prilly sudah berkutat dengan alat dapurnya, ia tampak bersemangat ingin membuatkan sarapan kesukaan Ali, Iga goreng saus tiram. Prilly terjengit kaget saat tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggang rampingnya. "Eh ... Kayang ngangetin aja," sahut Prilly memprotes tindakan Ali. Bukannya berhenti, Ali malah menaruh dagunya di pundak Prilly. "Wangi...." Ali menciumi leher Prilly. "Mandi sana ih, bau." "Kapan kamu mau disentuh Kakak, Prill," batin Ali sedih. Sejak pertama kali menikah, Ali belum pernah melakukan apa pun pada istrinya itu, karena Prilly selalu menolak dengan alasan belum siap. Sebagai pria normal, Ali sering kali bersusah payah menahan birahinya jika sudah di dekat Prilly. "Kak geliii. Udah ihh, Kakak tunggu di sana dulu, aku mau masak." Prilly risih dengan pergerakkan Ali yang semakin erat memeluknya. "Kakak akan menunggu kamu sampai kamu siap, Sayang." Ali membatin sebelum akhirnya melengos pergi. -oO0Oo- "Gimana hasilnya, Dok. Suami saya baik-baik aja, 'kan?" tanya Prilly begitu dokter telah selesai memeriksa luka di tangan Ali. Ia tampak cemas. "Sedikit sulit ya, Bu. Ada bagian keretakkan tulang kecil di dalamnya. Ini saya hilangkan lukanya dulu. Kalau lukanya sudah lumayan kering, bawa pasien ke sini lagi." Dokter itu menatap Ali dan Prilly secara bergantian. "Nggak bahaya, 'kan, Dok?" Mata Prilly berkaca-kaca. "Kalau diobatin pasti sembuh." Ali turun dari brankar dan duduk di samping Prilly. "Dok, tolong sekalian, periksa istri saya. Biar merah di pipinya cepat hilang." Ali angkat bicara. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan luka dirinya. "Baik. Silakan tiduran, Bu." Prilly bangkit dan berjalan ke arah brankar. "Gimana, Dok?" tanya Ali tak sabar. "Kalian habis bertengkar, ya?" Dokter ini tersenyum. Ali pikir dokter hanya bisa serius. "Kami saling melindungi, Dok." Prilly menyahut sebelum Ali bicara. "Pasangan romantis," komentar dokter itu. Rupanya dia menghumor. Pikir Ali. "Dokter belum jawab pertanyaan saya," ucap Ali mengingatkan. "Ah ya! Ini saya tulis resep obat Bapaknya. Nanti buat Ibunya dipake teratur antiseptiknya, Pak. Kalau merahnya sudah hilang, boleh berhenti." Dokter itu paham bila Ali lebih mengutamakan luka istrinya. "Terima kasih, Dok." Seusai melakukan transaksi pembayaran, keduanya meninggalkan tempat ini. -oO0Oo- "Kakak baik-baik aja, Sayang. Jangan lagi sedih, yah." Ali menggenggam jemari Prilly kala melihat Prilly yang sejak tadi diam dalam mobil. "Prilly takut Kakak kenapa-kenapa." Prilly berkata lirih. "Nanti depan Mama kamu boleh nangis sepuasnya. Kalau Kakak ini kan pria, Sayang. Kakak gak bisa buat kamu tenang selama ini juga, 'kan?" "Pokoknya kalo Kak Ali ulang kejadian ini, Prilly benar-benar marah! Prilly mau mogok makan!" "Iya, Sayang." "Kakak kalo marah sama Prilly cukup nyakitin Prilly! Gak perlu nyakitin diri sendiri! Prilly gak suka!" Prilly menghapus kasar air matanya. "Kakak ini pria, Sayang. Kakak gak pa-pa kalau cuma luka begini. Lemahnya pria tidak sama dengan lemahnya wanita. Mungkin menurut kamu ini kenapa-kenapa, tapi buat Kakak ini sudah biasa." "Tapi Kakak gak tau kalau lemahnya Prilly ada sama Kakak, hiks." "Begitu pun dengan Kakak. Lemahnya Kakak ada sama kamu. Saat melihat kamu terluka. Untuk itu Kakak melukai diri sendiri. Paham yah." Plak! Ali menggeleng cepat kala bayangan itu memutar dalam benaknya. "Semua ini salah Kakak, andai malam itu Kakak tidak sampai menam-" "Prilly gak suka Kakak membahas yang sudah-sudah! Prilly sudah ikhlas menerima tamparan Kakak, please jangan dibahas lagi." "Ya udah kamu senyum, baru Kakak bisa melupakan." -oO0Oo- "Assalamualaikum, Ma." Ali mengetuk pintu rumah Eci dengan lengan kirinya. "Ke mana, Sayang? Gak muncul-muncul si Mama." ucap Ali diakhiri dengan kekehan. "Lagi mandi atau salat Duha mungkin, Kak." "Pintunya kebuka, langsung masuk yuk," ajak Ali yang langsung ditahan Prilly. "Kakak ih, gak sopan!" protes Prilly atas tindakan Ali. "Tunggu Mama sampai keluar," tambah Prilly sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena kepanasan. "Panas, Sayang, nih kamu sampe keringetan." Ali yang cukup peka menyeka peluh Prilly yang membasahi keningnya. "Ehem! Ada couple nyasar nih," goda Eci yang sudah berdiri dekat pintu. "Eh, Mama!" Prilly langsung menyambut tangan Eci lalu menciumnya. "Assalamualaikum, Ma." Prilly cpika-cpiki dengan ibu mertuanya itu. "Waalaikumsalam, anak-anak Mama." Tak lama Ali melakukan hal yang sama. "Ya udah yuk masuk, kok gak langsung masuk aja, Li? Kan pintunya gak Mama kunci." "Tau tuh Ma, Prilly," adu Ali. "Kalian kok ke sini gak bilang? Tau gitu, Mama kan bisa masak yang spesial untuk kalian," omel Eci. "Semalam Prilly nangis, Ma. Dia kangen sama Bunda Ully katanya, jadi Ali ajak ke sini," jelas Ali. "Ya ampun. Sini, Sayang. Mama peluk. Kangen yah sama Bunda yah?" Eci merangkul pundak Prilly yang langsung membenamkan di caruk lehernya. Prilly merasa beruntung memiliki ibu mertua yang sangat perhatian dan murah hati, ia sudah menganggap Eci seperti ibu kandungnya sendiri. "Eh, Sayang ini kenapa pipi kamu merah kayak gini?" tanya Eci terkejut, sama terkejutnya dengan Ali maupun Prilly dihadiahi pertanyaan seperti itu. "Li, kamu apain Prilly? KDRT?" tanya Eci membuat Ali menundukkan wajahnya. "Mama, jangan salahkan Kak Ali. Ini atas kecerobohan Prilly kok. Semalam Prilly tidur gak mau diam, semacam ngelindur itu loh, Ma. Prilly jalan-jalan sambil merem dan nabrak lemari. Jadi kayak gini, hehe," cengir Prilly lalu melirik Ali yang sejak tadi diam "Yakin? Kalian gak berantem, 'kan? Terus itu kenapa tanganmu diperban, Li?" Ali bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dirinya jujur disaat Prilly telah menutupi keadaan yang sebenarnya. "Ma ... Kemarin Kak Ali cerita sama Prilly dia abis berantem sama pencopet karena mau nolongin ibu-ibu yang kecopet. Jadi Kak Ali kena luka deh. Tapi Mama tenang aja, kami udah ke dokter kok." Ali bernapas lega setelah Prilly menggambil alih untuk menjawab pertanyaan Eci. "Ya ampun. Kalian yah. Terluka aja barengan. Ya udah, Li! besok-besok harusnya kamu jagain Prilly kalo tidur kan bisa gitu kamu peluk dia biar gak ngelindur lagi. Kan kasian pipinya sampe merah kayak gini." Mau dibela sehebat apa pun, Ali di sini seperti pihak yang tersalahkan. "Iya, Ma. Maafin Ali, Prillynya jadi terluka gara-gara Ali." "Iyalah gara-gara kamu. Jagain istri kok gak becus! Di mana tanggung jawabnya kamu!" Kata-kata pedas itu akhirnya terlontar dari mulut Eci untuk anaknya. "Kak Ali bertanggung jawab atas Prilly ko, Ma." "Suami salah, kok dibela terus, Prill?" Eci terlihat marah ketika menantunya terluka kecil, bagaimana jika ia tahu kenyataan yang sebenarnya? "Maaf, Ma." Prilly menggigit bibir bawahnya. Ia sedih melihat Ali disudutkan terus menerus di sana. "Awas Mama lihat kamu terluka lagi, Mama kasih pelajaran tuh buat Ali." Sikap Eci dan anaknya tak jauh beda. Keduanya mudah tersulut emosi. "Udah ya, Ma. Jangan dibahas terus, bukan sepenuhnya salah Kak Ali kok. Prilly aja yang kurang hati-hati." Prilly menatap Ali dan tersenyum. "Kakak gak tau hati kamu terbuat dari apa, Prill. Sebegitunya kamu membela Kakak di depan Mama," batin Ali tersenyum kecil. "Ma, kita masak yuk. Udah lama kita gak masak bareng, mumpung aku di sini," ajak Prilly. "Iya, Sayang, kita bikin menu spesial yuk." "Li kamu tunggu bentar ya, Mama sama Prilly mau masak dulu, kalo kamu bosen tidur aja dulu di kamar kamu yang dulu itu," kata Eci kepada anaknya. "Hmm iya, Ma," jawab Ali singkat. "Kak gak pa-pa, 'kan aku masak dulu?" tanya Prilly meminta ijin. "Iya, Sayang, bikinin yang spesial buat Kakak yah." Ali mengacak pelan rambut Prilly di hadapan Eci. "Li, jangan diacak-acak dong kan Prilly udah cantik gini." Entah perasaan macam apa, Ali merasa ibunya lebih perhatian pada Prilly ketimbang dirinya. "Ya udah Ali ke kamar dulu," ucap Ali berlalu dari hadapan keduanya. Sepeninggalan Ali, dua wanita ini justru asik melakukan aktivitas bersama di area dapur. "Sayang, gimana kamu sama Ali baik-baik aja, 'kan? Gak ada masalah apa-apa, 'kan?" tanyanya sedikit curiga. "Gak ada kok. Aku sama Kak Ali baik-baik aja, Ma." Lagi Prilly menjawab dengan kebohongan. "Syukur kalo gitu, kalo ada masalah kamu boleh berbagi sama Mama, soalnya Ali tertutup banget, Prill." "Ohehe. Siap, Ma." "Ngomong-ngomong kapan nih Mama punya cucu?" "Awh...," lirih Prilly karena jarinya teriris pisau begitu mendengar pertanyaan Eci spontan ia terkejut hingga pisau itu meleset mengenai jarinya. -oO0Oo- "Ini sebenernya yang jadi anaknya itu siapa sih? Kok mereka yang akrab gue yang dicuekin? huft." Ali mendumel sendirian di kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN