Alfian itu ME-NYE-BAL-KAN. Setidaknya itu yang Anneta rasakan saat ini. Ia pikir, setelah pertemuan terakhir mereka waktu itu. Saat Alfian menanyakan perasaannya, akan ada pergerakan lanjutan dari laki-laki itu. Ah, nyatanya Alfian malah terlihat sangat santai. Waktu itu percakapan mereka memang terputus karena Alfian mendapat sebuah telepon entah dari siapa dan selanjutnya laki-laki itu pergi. Setelahnya? Jangan ditanya, karena Anneta terus uring-uringan jika mengingat Alfian yang seolah mengabaikannya. Anneta sendiri tidak terlalu paham apa yang sebenarnya ia inginkan. Bahkan dia tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti dengan yang ia rasakan. Dia sebenarnya takut. Entahlah, Alfian memang terlihat memiliki rasa yang sama sepertinya. Tapi memiliki rasa yang sama saja tidaklah cukup.

