Tapi, semuanya sudah terlambat. Langkah Ririn yang ingin menjauh. Ternyata sudah ketahuan Nenek Sarah. Nenek Sarah sadar jika itu adalah koki yang membuat masakan untuknya kemarin. Meski saat ini, penampilannya sedikit rapi dengan baju santai khas rumahan. Celana pendek selutut, dan kaos longgar yang kedodoran. Apalagi, tubuh mungil Ririn membuat ciri khas tersendiri yang gampang orang ingat. “Lho, hey , kamu! Sini!” Nenek Sarah dengan begitu lantang dan nyaring segera memanggil Ririn. Ia tidak tahu namanya. Tapi, di bagian depan kedai tidak ada siapa-siapa. Jadi, satu-satunya orang yang dipanggil hey oleh nenek pastinya adalah Ririn. Ririn pura-pura tidak tahu, ia berjalan seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa, dan pura-pura tidak mengenal nenek dan kakek itu. Nenek langsung

