Ningrum menghentikan langkahnya sejenak ketika melihat Lestari yang sedang duduk melamun di kursi kayu di halaman belakang rumah. Mata Lestari menerawang jauh ke depan, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Senja yang temaram memberikan nuansa sendu pada wajah Lestari, mempertegas beban yang seolah tergurat di garis-garis wajahnya. Dengan perlahan, Ningrum berjalan mendekat. Ia tahu Lestari sedang tidak baik-baik saja. Sebagai seorang ibu, Ningrum merasa wajib untuk setidaknya mendengarkan keluh kesah Lestari, meskipun mungkin ia tak bisa memberi solusi. "Lestari, kamu kenapa? Dari tadi aku lihat kamu melamun terus," tanya Ningrum lembut sambil duduk di samping Lestari. Lestari tersentak kecil mendengar suara Ningrum. Ia menghela napas panjang, lalu berusaha tersenyum tipis. "Nggak

