Pagi ini, sinar matahari perlahan-lahan mulai menerobos jendela dapur, memberikan kehangatan lembut yang menerangi ruangan. Santi dengan tenang berdiri di depan kompor, menyiapkan sarapan untuk Arman. Aroma roti panggang dan kopi yang baru saja diseduh menguar di udara, menyebar ke seluruh penjuru dapur. Meskipun perasaan dalam hatinya masih sedikit tak menentu, Santi ingin memberikan yang terbaik untuk Arman pagi ini, sebagai bentuk usahanya untuk mendekatkan diri. Tak lama, langkah kaki Arman terdengar dari arah ruang tamu, membuat Santi menoleh ke arah pintu dapur. Arman muncul dengan penampilan rapi, siap untuk berangkat kerja. Ia menatap Santi dengan sorot mata yang sulit diartikan, campuran antara kehangatan dan mungkin sedikit kebingungan. Baginya, melihat Santi begitu telaten meny

