Bab 46. Trauma yang Masih Membekas

1035 Kata

Sore itu, Santi tengah sibuk di dapur menyiapkan makan malam sambil sesekali mengawasi Mandala, yang asyik bermain dengan balok-balok kayu di ruang tengah. Suara mesin mobil yang memasuki halaman membuatnya menoleh ke arah pintu. "Mas Arman sudah pulang," gumamnya sambil cepat-cepat mengelap tangannya dengan kain, lalu berjalan menuju pintu depan. Saat pintu terbuka, Arman berdiri di sana dengan wajah yang tampak lelah, tapi terselip senyuman hangat yang langsung membuat Santi merasa tenang. Ia masih mengenakan setelan kantornya, dengan dasi sedikit longgar dan tas kerja di tangannya. "Selamat datang, Mas," ucap Santi lembut sambil menerima tas kerja Arman dan menciumnya di pipi. "Terima kasih, Sayang," balas Arman sambil tersenyum. Ia melonggarkan dasinya sepenuhnya dan menari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN