Chapter 7

870 Kata
   "Caca coming everybody!"teriak Caca saat membuka pintu rumahnya. Dia melirik tak ada satupun tanda-tanda kehidupan di rumah. Tumben sekali rumah sepi,padahal ini sudah jam pulang sekolah pikirnya. Dia pun menaiki satu demi satu anak tangga untuk menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Namun saat  Caca melewati kamar Devan, dia mendengar suara desahan yang aneh. Penasaran,dia pun mencoba mendengarkan dari balik  pintu kamar Devan. "Ah,pelan-pelan sakit,"ucap seseorang dari dalam yang tak lain suara Devan adiknya,membuat Caca semakin penasaran. "Iya ini juga pelan-pelan. Bentar lagi masuk kok,sabar dong." Caca mendengar suara Aksa juga di dalam kamar. "Aw,itu nusuk b**o!"teriak Devan,membuat Caca sedikit panik. Apa yang mereka berdua lakukan di kamar siang- siang begini disertai desahan dan suara aneh. Tak mau gegabah, Caca tak langsung masuk ke kamar adiknya. Dia tetap berdiri di depan pintu kamar. "Lepas celana lo kak,biar enak." "Udahlah gak usah, mager gue." ucapan itu membuat Caca semakin panik. Dia pun membuka pintu kamar Devan. Sungguh adegan yang sangat tidak disangka,Caca melihat Devan tidur di lantai dan Aksa yang duduk diatasnya. Meskipun posisi Aksa membelakangi Caca,tapi dia tahu apa yang mereka lakukan "Woy,kalian homo!"teriak Caca tak percaya. Aksa dan Devan sedikit terperanjat mendengar teriakan sang kakak. Aksa pun menyingkir dari tubuh Devan. Caca semakin terkejut tatkala melihat sleting celana Devan terbuka. Dia membekap mulutnya tak percaya. "Ka..kalian,"ucap Caca pelan. Devan pun bangkit tanpa membenarkan sleting celananya yang terbuka, membuat Caca sontak menutup kedua matanya. "Astaga Devan,aurat!"teriak Caca. "Hahahahahahaha."Aksa tak bisa menahan tawanya melihat sang Kakak begitu tak mau melihat kearah Devan.Padahal jika di pikir,dulu mereka sering tak memakai baju di depan Caca. Tapi itu 10 tahun yang lalu,saat mereka masih imut dan belum mempunyai roti sobek di perut mereka. "Bentar kak,ini tanggung." Devan mencoba menaikan celananya namun tetap saja melorot. "Lanjut lagi bang?"tanya Aksa setelah berhenti tertawa. "Lanjutlah,"jawab Devan. "Kalian ngapain b**o?astaga cewek masih banyak Van,Sa. Jangan malu-maluin dong!”ucap Caca. Devan dan Aksa mengerutkan kening karena tak mengerti dengan apa yang di ucapkan sang kakak. "Apanya yang malu-maluin?perasaan si Asa cuman benerin resleting celana gue?"pikir Devan Sebuah ide jahilpun melintas di otaknya. Dia memberi kedipan mata pada Aksa agar mengikuti rencananya. Aksa pun menganggukan kepala tanda setuju dengan rencana sang kakak. Devan kembali berbaring di lantai,dan Aksa pun kembali duduk diatas tubuhnya. Sementara Caca masih setia menutup kedua matanya. "Ah..ah..ah masuk Sa masuk,"ucap Devan dengan desahan yang dibuat-buat. "Masuk bang,masuk."Aksa melirik sang Kakak dengan cengiran khasnya. "Devan,Aksa,berhenti!"bentak Caca yang tak membuka matanya sama sekali. "Enak kan bang?"tanya Aksa. "Enak Sa,enak banget ah," Caca pun berlari meninggalkan kamar entah kemana. Sedangkan Aksa dan Devan hanya tertawa puas karena mengerjai sang kakak. "Hahaha ekspresi kak Caca lucu amat,"ucap Devan. "Dia kayanya serem banget Kak lihat kita,"timpal Aksa. "Hooh,tapi turun b**o! berat nih,"ucap Devan. Aksa pun menyingkir dari tubuh Devan.Tak lama Caca datang kembali bersama sang Oma. "Oma lihat cucu-cucu Oma gak normal!” Caca mengarahkan telunjuknya kearah Devan dan Aksa. "Gak normal gimana?itu mereka gak lagi ngapa-ngapain,"jawab Widi ketika melihat Devan sedang membenarkan celana, sedangkan Aksa bermain ponsel. "Tadi mereka anu Oma anu,"ucap Caca meyakinkan. "Ih kak Caca anu apaan ih,"ucap Aksa. "Gak usah pura-pura deh,ayo ngaku aja." "Benar yang di katakan Caca,Devan?"tanya Widi pada Devan. Devan dan Aksa serempak menggelengkan kepala mereka untuk menyangkal,membuat Caca geram. "Ih gak mau ngaku juga!"bentak Caca. "Kak Ca,ngaku apaan sih kak?" Tanya Aksa. Devan pun berjalan menghampiri Widi dan mengelus pundaknya halus. "Begini ya Oma, tadi celana Devan sletingnya jebol. Karena males buka celana,Asa benerin celana Devan. Eh pas kak Ca masuk,dia kira kita homo. Yaudah kita kerjain aja Kak Caca,hehe"Devan membentuk huruf V dengan tangannya pada Caca. "Jadi lo pura-pura?" "Iyalah pura-pura, Aksa gak doyan batang kak." "Ih Devan,Asa kalian ngeselin!" *** “Jadi ini tuh kaya gini. Lo ngerti gak?”tanya Caca pada Aksa. Dia sedang membantu Aksa, Devan, dan Dimas mengerjakan pr mereka  yang kebetulan sama. “Ngerti Kak,”jawab Aksa. “Lo ngerti gak?”tanya Caca pada Devan. “Lumayan lah gak terlalu suram.” “Heh lo main hp mulu! Ngerti gak apa yang barusan gue jelasin?!”tanya Caca ketika Dimas hanya sibuk menatap layar ponsel dan senyum tidak jelas. Dimas langsung menyimpan ponselnya ketika mendengar pertanyaan sang Kakak, “Emang barusan lo ngejelasin apa Kak?” “Tuh kan, cewek mulu yang lo urusin!” “Iya, coba kalo ceweknya baik. Inimah cerewetnya ngalahin emak-emak komplek sebelah,”cibir Devan. “Eh lo gak tahu. Vina itu aslinya baik, cuman luaran doang kaya gitu,”bela Dimas. Meskipun Vina galak dan bawel tapi Dimas tahu isi hati kekasihnya. Menurut Dimas, Vina itu beda dari kebanyakan wanita. “Kaya gitu gimana?”tanya Aksa. “Ya gitu kaya yang barusan si Devan omongin,”jawab Dimas. Barusaja Caca hendak menimpali ucapan Dimas, suara ponsel berbunyi. Dimas yang menyadari suara itu adalah dering ponselnya langsung meraih ponselnya namun kalah cepat dari Caca. “Hallo,”ucap Caca ketika ponsel Dimas menempel di telinganya. “...” “Dimas di rumah lagi belajar sama gue. Gak usah khawatir berlebihan, cuman lo kok yang mau sama adik gue. Jadi si Imas gak bakalan selingkuh,”ucap Caca panjang lebar. “...” “Iya nanti gue bilangin sama Dimas.” setelah itu Caca menutup percakapan. “Dia ngomong apa barusan?”tanya Dimas. “Kata dia lo jangan lupa cebok kalo udah boker,”jawab Caca asal. “Tahu aja Vina, kalo si Dimas jarang cebok,”ujar Aksa. “Enak aja lo!” “Seriusan Kak, Vina barusan nanya apa?”tanya Dimas pada Caca. “Dia cuman nanyain lo lagi dimana, gitu doang.” “Dia takut lo hilang Dim, nyari cowok jelek sama bogel kaya lo kan susah,”ledek Devan, membuat Aksa dan Caca tak bisa menahan tawanya. “Bener Van. Kayanya pas pembagian tinggi badan si Imas ngantri paling belakang,”ucap Caca. “Lo juga bogel Kak, gak usah pake ledek gue segala!”ujar Dimas yang merasa tak terima karena tinggi badannya selalu menjadi guyonan. “Eh gue cewek ya, bogel gak jadi masalah buat cewek.” “Sepertinya akan berbuntut panjang,”gumam Aksa yang kembali fokus pada buku catatannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN