Wanita Penakluk

1201 Kata

Nathan pun terbelalak tak menyangka bahwa Kanaya akan menyiram ke muka. Lelaki itu mengusap kasar mukanya. Hanya berdeham, lalu melanjutkan perjalanannya. "Licik. Jangan macam-macam." Kanaya memelotot. "Apa sih, Kanaya? Saya tak mungkin memberikan obat itu ke kamu. Lebih baik minta secara langsung," balas Nathan dengan tenangnya. "Awas, kalau tiba-tiba aku naik----" "Naik ke atas tubuh saya. Boleh banget, saya tak akan menolak," potong Nathan. "Cihh, buaya buntung," dumel Kanaya memalingkan wajahnya. Ingin rasanya saat ini dia cakar muka Nathan. Hawanya jika dekat dengan Nathan mendadak darah tinggi. Nathan semakin gemas melihat Kanaya marah-marah seperti itu. Dia pun terus saja menggoda Kanaya sepanjang jalan. Di mana Nathan mengingatkan bahwa mereka berdua pernah saling mencintai.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN