42~Menuju Lebna

225 Kata
Crius menutup pintu dari luar dan menghela nafas dengan pelan saat suara kesakitan dari kakaknya itu menguar sampai keluar pintu dan menghantarnya kedalam gendang telinganya. Dirinya masih tidak setuju dengan bagaimana Amorist tetap mempertahankan pilihannga sendiri, ini sama saja menyia - nyiakan kesempatan miliknya. Sudah begitu jelas bahwa Hemera telah lahir memang untuk mengurangi sakit dari pria bermanik merah tersebut. Tapi yang berada pada posisi untuk menentukan pilihan bukanlah Crius melainkan Amorist. Sehingga ia tidak memiliki hak untuk itu dan telah berjanji untuk tidak melakukan hal di luar pengetahuan saudaranya, dirinya juga sudah menerima begitu banyak peringatan. Mengulanginya tidak akan menjamin bahwa sisi iblis dari Amorist akan kembali menolerir sikapnya tersebut, bahkan jika dirinya adalah adiknya. Pria bermanik merah tersebut tidak akan mentolerirnya lagi setelah berkali - kali peringatan. Manik hitam miliknya menatap pada lorong kastil yang sepi tidak adanya tanda - tanda seseorang disana. Memikirkan bagaimana saudaranya tengah berada dalam penderitaan tentu saja hal ini akan selalu berujung dengan para gadis yang terlahir sebagai tumbal. Beberapa hari ini dirinya belum pernah mengunjungi Hemera secara diam - diam untuk memastikan keadaan manusi tersebut. Selain karena Amorist yang memberinya peringatan untuk tidak menyentuhnya, dirinya juga tidak memiliki maksud lain selain dengan tujuan sebelumnya yang kini telah hilang. Tetapi, kepalanya teringat dengan bagaimana kejadian siang tadi. Ini sedikit cukup membuat Crius melangkah menuju ke arah ruangan Hemera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN