30~Pria Berambut Putih

4999 Kata
Saat Amorist telah merasa bahwa adiknya itu telah berhasil menangkap poin dari peringatannya maka dirinya kemudian mulai melepaskan cekikan pada leher Crius bersama dirinya yang kini mengambil langkah mundur selangkah, untuk jarak di anatara mereka. Sementara Crius yang telah lepas dari cengkraman Amorist tidak dapat menahan dirinya sendiri agar tidak dapat terbatuk - batuk sembari sebelah tangannya yang meraba lehernya sendiri, mencoba memanilitmisir rasa sakit pada lehernya tersebut. “Aku mengerti dengan maksudmu Crius tapi, sebenarnya tidak ada yang perlu kau khawatirkan.” Ucap Amorist mulai membelakangi Crius yang masih sibuk dengan bagian tubuhnya tersebut. Rasa sakit pada lehernya karena cengkraman dari saudaranya sendiri masih terasa membekas pada lehernya yang sebenarnya dengan mudah dapat patah di tangan pria bermanik merah itu. Mengingat ikatan mereka berdua membuatnya selamat untuk kali ini namun, karena ikatan kuat tersebut Crius sampai dapat bertindak dengan gegabah yang membuat Amorist kesal. Saat mendengar Amorist kembali berbicara dirinya hanya melirik singkat pada punggung saudaranya sebelum kembali fokus pada kulit di lehernya yang mengeluarkan darah karena telah tergores oleh kuku tajam dari saudaranya. Membuatnya menatap sebentar cairan merah yang untungnya tidak keluar banyak karena, luka goresnya juga tak begitu dalam. Crius hanya melap noda darah pada jemarinya di bawah pakaian yang di pakainya lalu kembali fokus memandang pada Amorist. Jelas penjelasan yang di tungguinya itu lebih penting terlebih setelah dirinya telah menerima kekesalan dari pria bermanik merah itu. “Seperti yang sudah kukatakan. Aku hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya gadis manusia itu simpan sebagai tumbal ke seratus satu.” Crius jelas sudah paham setelah berkali - kali Amorist mengatakan pada dirinya bahwa gadis manusia ke-101 itu berbeda dari 100 gadis lainnya namun, sampai sejauh ini dirinya belum melihat ada yang berbeda dari manusia tersebut. Baginya Hemera dan 100 gadis lainnya sama dan tak memiliki kesan yang spesial ataupun berbeda dari sebelum - sebelumnya. Bagaimanapun Amorist mengatakan pada Crius dirinya tidak akan pernah mengerti hal tersebut. “Karena itu kau mencoba untuk mengenal dekat dirinya ?” Tanya Crius mengonfirmasi apa yang sebenarny telah terbaca tepat di depan matanya sendiri. Dirinya tidak bisa mengatakan pada Amorist bahwa pria itu kemungkinan salah akan apa presepsinya melihat bagaimana saudaranya sendiri bersikeras sementara dirinya dan kawanan lain jelas tidak merasakan hal yang sama. “Aku tidak berniat dekat dengannya. Aku hanya ingin memuaskan rasa ingin tahuku.” Lagipula Crius telah meyakinkan Amorist akan hal itu sama seperti Amorist yang berkali - kali mengatakan bahwa Hemera berbeda maka, dirinya juga sama telah berkali - kali mengatakan bahwa tidak ada yang spesial. Jadi, lebih baik membiarkan pria bermanik merah itu menyelesaikan semuanya selama tidak ada hal di luar keinginan mereka terjadi. Itu tidak akan baik. Amorist dan Hemera seharusnya tidak dapat menjadi teman karena, takdir mereka adalah membunuh dan terbunuh. Crius menatap punggung saudaranya dalam diam beberapa saat sebelum menghembuskan nafasnya, tanda mengalah. Meskipun kwnyataannya dirinya memanglah tidak akan bisa menang dari pria tersebut sekalipun dirinya bersikeras untuk menang. “Baiklah. Aku tidak akan ikut campur mengenai hal ini lagi. Tapi, di saat aku merasa ada yang tak seharusnya terjadi maka aku tak punya pilihan untuk ikut turun tangan.” Amorist mengerutkan keningnya saat mendengar kembali perkataan dari saudaranya tersebut hingga membuat dirinya membalikan tubuh menatap pada Crius yang juga menatapnya. Melihat bahwa adiknya telah kembali serius dan mencoba mengambil kesepakatan. Hal itu jelas membuatnya tersenyum sinis, Crius rupanya belum begitu memahami Amorist bahkan setelah lehernya itu berada dalam genggaman tangan dingin yang hampir membunuhnya tadi. “Rupanya kau tidak benar - benar memahamiku. Tapi, tak perlu memikirkannya lagi karena, kau tidak akan pernah berada dalam posisi yang mengharuskanmu untuk ikut campur.” Tutup Amorist lalu mulai berjalan melewati Crius yang masih terdim di tempatnya itu. “Sekarang aku akan mendengar segala laporanmu yang menyangkut Keaton.” Mungkin Amorist sekarang mengatakan bahwa tak ada yang perlu di khawatirkan tapi, tingkah pria bermanik merah itu jelas akan membuatnya khawatir melihat bagaimana hal pertama dalam ratusan ribu tahun Crius mengenalnya ini adalah merupakan langkah pertama yang tak biasa. Setelah mencoba memantapkan semua kepercayaannya pada Amorist yang sudah lebih dahulu keluar meninggalkannya maka Crius kali ini ikut melangkah keluar menyusul pria berambut hitam itu menuju aula kastil, sesuai dengan sang pemimpin perintahkan. Mereka akan kembali fokus pada Keaton mebahas segaal urusan politik. *** Kali ini senyuman cantik milik Nesrin telah kembali terbit setelah berhasil membuat Hemera yang baru saja mencoba menunjukan taring pada dirinya itu kini justru kembali mengerutkan kening hingga sebelum, menampakan wajah terkejutnya setelah memproses perkataan miliknya. Nesrin tidak tahu apa yang jelas berada dalam pikiran gadis manusia di depannya tetapi, bola yang di lemparkannya pada gadis tersebut jelas telah berhasil di tangkap hingga membuatnya terkejut sendiri. Menggoda dan menghasut manusia itu merupakan hal yang mudah bagi klan Demons terlebih saat manusia itu sendiri tengah goyah, sama halnya sekarang dengan Hemera. Ditariknya wajahnya mundur dari Hemera ingin kembali menekankan pada gadis manusia tersebut bahwa dirinya bukanlah lawan yang mampu di lawan oleh gadis itu sendiri. “Apa kau mengerti Hemera ?” Tanya Nesrin kembali lagi - lagi berhasil membuat manik biru laut itu menatap kearahnya. Tidak menjawab hingga tangan putih milik Nesrin terangkay berniat menyentuh rambut ungu panjang yang berkilau dengan indah tersebut. Melihat rambut indah itu membuat sisi iblisnya berpikir untuk ingin memilikinya, mungkin saat dirinya nanti berhasil membujuk Amorist maka dirinya akan menggunduli rambut itu dan memajangnya di kastil miliknya sendiri sebagai salah satu tirai pintu. “Apa yang kau lakukan ?” Sayangnya sebelum jemari lentik milik Nesrin berhasil menyentuh rambut indah tersebut sebuah sura berat dan khas yang jelas sudah familiar di antara kedua perempuan tersebut berhasil menghentikannya dan langsung membalikan tubuhnya ke arah suara berat itu berasal. Bukan hanya Nesrin yang terkejut jelas Hemera juga begitu terkejut dengan kehadiran sosok lain di tengah lorong itu. Bunyi sepatu yang menggema di lorong mendekati mereka berdua hingga tatapan mata berbeda warna dari kedua perempuan tersebut tak dapat lepas dari sosok Amorist yang berjalan semakin mendekat ke aranya dengan tegas dan penuh wibawa. Di ikuti oleh sesosok Crius yang tak jauh di belakang pria bermanik merah tersebut, postur tubuh mereka yang kembar membuatnya terlihat sama. “Apa yang kau lakukan disini ?” Setibanya di depan Hemera dan Nesrin manik merah itu melihat sebentar ke arah tubuh gadis manusia yang juga menatapnya dalam diam, mencoba memastikan bahwa tumbal miliknya berada dalam kondisi tubuh yang aman lalu berbalik menatap pada sosok wanita yang seharusnya menjauh dari Hemera untuk sementara. Jika Amorist adalah pria yang paling berbahaya di Keaton maka Nesrin adalah versi sosok wanita berbahaya di negeri Keaton ini. Mengingat bagaimana bengis dan kejinya wanita bermata ular tersbeut terlepas dari penampilannya yang memukau adanya. “Sayadatang untuk berdiskusi dengan Crius mengenai pengelolaan para klan.” Saat manik merah dari Amorist menatapnya dengan pandangan tidak suka justru sebaliknya sebuah senyuman indah menggoda yang di lontarkannya pda pria tersebut. “Lalu sedang apa kau disini dan bukannya menemui Crius di aula ?” Nesrin melirik sebentar ke arah Hemera yang masih saja terus menatap pada Amorist di depannya, manik biru itu jelas tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok pria rupawan yang merupakan sang pemimpin klan Demon sebelum, kembali fokus pada pria tersebut yang masih menantikan jawabannya. “Saat saya berjalan kemari saya tidak sengaja melihatnya berdiri di tengah lorong sendirian. Anda tahu sehaeusnya dia tidak seharusnya berada disini. Ini tidak seperti biasanya.” Jawab Nesrin yang kali ini berhasil melepaskan minat Hemera dari Amoeist dan kini berbalik menatap pada dirinya. Menatap Nesrin dengan tanda tanya akan apa yang wanita tersbeut ucapkan. Sepertinya wanita cantik tersebut jelas mengetahui lebih banyak dari dirinya bahkan mengenai sosoknya sendiri yang Hemera tidak ketahui. Amorist jelas tahu jika Nesrin yang kini sedang mencoba mencari informasi mengenai keberadaan gadis manusia itu yang terlihat seolah dapat berkeliaran bebas di kastil dan tidak di kurung. Seperti yang di katakan oleh Crius, tidak akan baik bila orang lain mengetahui bagaimana dirinya benar - benar memperlakukan Hemera dengan berbeda dari 100 gadis lainnya. Termasuk memberinya kebebasan dengan tangannya sendiri tadi. “Crius.” Panggil Amorist hingga saudaranya tersebut maju selangkah kesamping tubuhnya membuatnya dapat melihat pria berambut putih tersebut dari ujung ekor matanya yang masih saja terus menatap lurus pada manik kuning di depannya. “Antarkan Hemera kembali ke ruangannya, sepertinya imp yang kau perintahkan tadi kehilangan dirinya.” Crius tidak menjawab dan hanya menganggukan kepala miliknya lalu mulai berjalan mendekat kepada Hemera yang kini beralih menatapnya. Gadis manusia itu tidak dapat hersuara atau jelasnya dirinya tidak memiliki hak untuk berbicara sekarang. “Ayo.” Crius berjalan lebih dahulu di susuk dengan Hemera di belkangnya kembali meninggalkan kedua sosok rupawan yang terlihat serasi di mata manusia miliknya. Mereka berdua terlihat sama. Sama - sama memiliki sifat licik dan memanipulasi. Setelah Hemera telah berjalan menjauh dari kedua orang itu maka Nesrin tidak dapat menahan senyuman miliknya sendiri hingga Amorist harus memicingkan mata merah miliknya itu. “Kurasa saya akan berdiskusi dengan anda mengenai politik di Keaton hari ini.” Nesrin tidak menyukai bagaimana pria di depannya tidak membiarkannya mendapatkan apapun mengenai Hemera. Dirinya tahu bahwa sosok iblis pria tersebut adalah hal yang sulit dirinya imbangkan sekarang. Amorist sudah terlihat tidak akan memihaknya kali ini dilihat dari caranya yang menutup . “Kalau begitu akan aku dengarkan.” Jawab Amorist sebelum melanjutkan jalanya melewati Nesrin hingga wanita cantik pemimpin bagian lilith itu memudarkan sneyuman indah miliknya sebelum, ikut melangkah di belakangnya. Kali imi dirinya berhasil menutup kembali kecurigaand ari Nesrin namun, suatu saat kejadian ini terus terulang dimana Hemera terus tertangkap oleh wanita tersbeut mendapatkan belas kasih dari Amorist maka dirinya tidak mempunyai pilihan lain selain harus berterus terang. Maka dari itu jauh sebelum hal tersbeut terjadi maka semuanya sudah harus sleesai tanpa terendus. *** Hemera mengikuti langkah kaki besar di depannya dengan sedikit kesusahan saat Crius berjalan dengan cukup cepat, tidak memperhatikan dirinya. Terlebih di dalam kepala kecilnya yang kini sibuk berpikir untuk mencoba menyatukan segala potongan keping teka - teki yang telah tersebar di depannya, justru jauh semakin membuatnya sulit untuk fokus mengimbangi langkah dari pria berambut putih itu. Hanya fokus pada isi kepalanya sementara matanya terus tertuju pda kaki panjang di depan sana, sulit untuk menyikronkan langkahnya. Membuatnya terkejut dan terlambat menghentikan langkah kaki kecil miliknya sendiri saat pemilik dari kaki panjang itu telah menghentikan langkahnya, hingga membuat Hemera harus menubruk d**a tegap keras Crius. Hal ini jelas berhasil membuat Hemera berhenti untuk berpikir akan kepingan - kepingan pertanyaan dalam benak miliknya dan kini sepenuhnya hanya fokus pada sosok tubuh pria tersebut. Hemera menatap dengan penuh keterkejutan di wajah miliknya dan rasa takut sembari mulai mendongak menatap pada Crius yang juga tengah menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Ini jelas jauh lebih buruk, tidak melihat respon apapun dari Crius justru membuat gadis manusia tersebut mewanti - wanti dengan perasaan yang was - was. “Ma—. Maafkan aku.” Ucap Hemera melirik dengan sedikit takut - takut pada wajah datar itu sebelum dengan cepat menundukan kepalanya lagi. “Perhatikan langkahmu dengan baik. Ini tidak boleh terjadi lagi kedepannya. Aku dapat menoleransinya tapi, beberapa makhluk disini tidak dan justru akan mematahkan tulangmu.” Mendengar perkataan Crius membuat Hemera langsung saja mendongakan kepalanya . Ucapan yang di keluarkan oleh pria tersebut jelas jauh lebih kejam di bandingkan nada yang di pakainya untuk berbicara. “Sekarang kembali ke ruanganmu.” Saat Crius baru saja akan meminggir dari depan pintu yang telah di bukanya dirinya justru terdiam saat mendengar gadis manusia tersebut kembali membuka suaranya. “Apa kau baik - baik saja ?” Ceius jelas tidak mengerti dengan apa yang di katakan Hemera padanya. Apa yang di maksudkan oleh gadis manusia terswbut dengan menanyakannya keadaannya di saat Hemera sendiei sudah kesulitan untuk mempertahan dirinya sendiri. “Apa ?” Ulangnya mencoba memastikan dengan apa yang di dengarnya, mata biru laut itu kini tidaklah menatapnya dan hanya fokus pada satu titik yaitu lehernya. Crius spontan termundur dengan refleks hingga membuatnya yang masih memegang handel pintu menabrak pintu besar itu hingga berbunyi gedebum yang cukup keras akibat tabrakan pada tembok. Sayangnya, gadis manusia yang dengan cepat melangkah mendekatinya dengan jarak dekat itu hanya terdokus pada leher miliknya. Bahkan raut wajah dari Hemera terlihat khawatir dengan apa yang di lihatnya, seolah melupakan dengan siapa dirinya sekarang berada. “Kau baik - baik saja ? Lehermu terluka, bahkan darahnya masih mengalir dan beberapa mulai mengering disana.” Ucap Hemera kembali mendongakan kepalanya dengan posisi tubuh kecil miliknya yang telah berada dekat pada tubuh Crius, membuatnya harus berjinjit dan tangannya harus mencengkram kerah dari pakaian pria tersebut. Crius tidak menjawab dan hanya terdiam menatap dari jarak dekat wajah Hemera yang mendongak menatapnya hingga beberapa kedipan mata polos dari gadis tersebut kembali berubah membola dan kini telah termundur menjauh darinya, bahkan dengan sedikit melompat kecil. “Ma— Maaf. Ak— aku hanya khawatir me— melihat darahmu.” Untuk beberapa saat Crius hanya terdiam merespon ucapan Hemera yang kini telah kembali terbata - bata menyampaikan permintaan maafnya namun, jelas terlihat bahwa gadis manusia itu kini tidaklah sedang menyampaikan permintaan maaf dengan ketakutan justru lebih ke arah gugup. Tidak menjawab ucapan Hemera membuatnya kemudian memperbaiki posisi berdiri dengan berdehem kecil yang menarik kembali lirikan kecil dari gadis manusia tersebut hingga tatapan mereka berdua kembali bertemu sebelum, Hemera yang memilih memutuskan pandangan di antara mereka. Melihat bagaimana gadis tersebut telah memutuskan pandangan di antara mereka terlebih dahulu kali ini membuat Crius memilih untuk mencoba tidak mengambil pusing akan hal tersebut. Dengan diam memilh untuk kembali tak membuka suaranya di sentuhkannya telapak tangan kanan miliknya ke arah lehernya yang tergores beberapa saat sembari, mulutnya mengucapkan sesuatu dengan mata hitamnya yang menutup. Mengucap mantera dengan menggumam yang kali ini berhasil kembali menarik minat dari Hemera. Hemera menatap pada Crius yang sedang sibuk melakukan sesuatu yang tak di ketahui olehnya sendiri hingga dirinya hanya dapat diam menatap pada pria brambut putih yang memiliki kesaaman dengan Amorist. Setelah di pikir - pikir hanya pria tersebut yang belum memperkenalkan dirinya sendiri padanya padahal pria berambut putih itu yang lebih dahulu di temuinya di kastil ini. Namun, pria yang memiliki rupawan hampir sama dengan Amorist tersebut justru terlihat tidak berniat untuk mengenalnya lebih jauh bahkan pria tersebut tak terdengar memanggil nama yang di berikan oleh Amorist padanya, meskipun dirinya telihat mematuhi pria bermanik merah. Sepertinya Hemera mendapatkan pengecualian. Sinar cahaya muncur di balik telapak tangan Crius beberapa saat kemudian hingga gadis manusia itu harus menutup mulutnya dengan mata miliknya yang membola tidak pecaya akan apa di lihitnya saat tangan milik Crius telah menjauh dari lehernya. Dirinya tidak menemukan adanya sebuah luka yang membuatnya mengalirkan darah seperti tadi. Tidak ada lagi goresan di kulit cokelat bersih tersebut dan hanya ada sebuah kulit mulus tanpa jejak. "Sekarang kau tidak perlu bertanya lagi dan jangan pernah menanyakan hal seperti ini lagi kedepannya. Kepada siapapun." Tekan Crius kembali menarik manik biru Hemera untuk menatap pada manik hitamnya yang datar. "Kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri disini." Mulut Hemera mengering mendengar ucapan tersebut. Dirinya tidak memiliki maksud tertentu saat menanyakan keadaan dari pria di depannya melainkan dirinya benar - benar hanya terkejut dengan darah yang mengering di leher Crius. Tetapi pria tersebut sepertinya tidak ingin dirinya memberikan alasan apapun itu bahkan setelah perhatian kecil murni darinya yang di balasnya dengan dingin. Beberapa saat gadis manusia ke-101 dan salah satu kaum dari Demon itu hanya bertukar pandang tanpa ekspresi hingga, lagi - lagi Hemera yang menganggukan kepala miliknya mengerti. “Aku mengerti. Kau ingin mengatakan bahwa aku yang terlemah bukan di sini. Aku rasa sudah cukup dengan apa yang aku terima hari ini, akan kuingat.” Sikap berani itu menguar keluar dari Hemera tanpa hadis tersebut sadari hingga Crius di buatnua sedikit terkejut melihat perubahan sikap tersebut. Sejauh ini Hemera hanya menunjukan sikap pasif yang kalah bagai buruan dan bukan sikap melawan balik, ini cukup berhasil mengejutkan dirinya. Hemera tidak menunggu lagi ucapan dari Crius dan kini lebih memilih untuk berjalan masuk kedalam reuangan tempatnya di kurung, melewati Crius yang berada di depan pintu masih tidak menyangka akan perubahan sikapnya. Saat dirinya telah berjalan masuk kedalm tanpa halangan apapun, Hemera hanya berharap bahwa pintu besar yang membatasinya dari dunia luar itu segera menutup kembali. “Hemera.” Sayangnya panggilan dengan intonasi rendah itu berhasil menghentikan langkahnya kembali, dirinya cukup terkejut dengan bagaimana pria berambut putih itu kini mau memanggilnya dengan nama. Hemera pikir tidak akan ada kesempatan untuk pria tersebut memanghilnya dengan benar. Di balikannya tubuh mungil miliknya ke arah Crius yang masih berdiri di depan pintu, masih sama dengan tatapan datar yang di miliki olehnya. Tidak ada yang berubah bahkan sinar tatapan dingin itu masih sama tidak berubah, hanya saja nada yang di keluarkan oleh Crius kini jauh lebih rendah sehingga terdengar tak begitu dingin lagi. “Lainkali jika kau menemui wanita di lorong tadi, segeralah jauhi bahkan jangan pernah berpikir untuk muncul di dalam pandangannya.” Hemera terdiam dengan kening berkerut mencoba menebak siapa yang di maksud oleh pria tersebut, sbeelum ingatannya membawanya pda kejadian di lorong baru - baru. “Maksudmu Nesrin ? Jangan khawatir, seperti yang sudah kubilang aku sudah cukup banyak menerima berbagai perkataan hari ini.” Mata hitam tersebut memicing mendengar Hemera menyebutkan nama Nesrin yang menandakan bahwa mereka telah cukup jauh berbincang hingga berkenalan. “Ya. Jauhi saja dia.” Hemera menganggukan kepalanya mengerti. Lagipula wanita bermanik kuing itu memang sudah cukup berhasil membuatnya berpikir untuk menghindar sementara ini namun, tidak untuk selamamanya. Dirinya tidak tahu kedepannya jika sewaktu - wajtu justru dirinya sendiri lah yang akan melangkah menemui Nesrin. “Apa itu saja ?” “Mengenai kejadian kau keluar dari kastil jangan katakan pada siapapun.” Saat Crius telah menyampaikan semuanya dan Hemera juga terlihat mengerti semua akan apa yang dirinya pinta, ditariknya kemudian gagang pintu besar itu agar segera menutup. “Apa kau tidak akan memberiku namamu ?” Kali ini gadis manusia tersebutlah yang menghentikan Crius dengan pertanyaannya yang terdengar ragu. Bahkan saat manik hitam Crius kembali menatapnya, Hemera hanya melihat ke arah lain, kembali menghindari terjadinya kontak mata di antara mereka berdua. “Semuanya telah mengenalkan dirinya padaku. Hanya kau yang tidak. Aku hanya bingung harus memanggilmu apa.” Crisu terdiam terlihat menimbang sebentar lalu kembali membuka suaranya. “Crius.” Dan sesaat setelah itu pintu menutup tanpa aba - aba . *** Crius menatap imp yang di perintahkan olehnya untuk mengatar Hemera muncul dari ujung loromg bersama dua orang kartakan yang seharusnya berjaga di pintu ruangan Hemera. Makhluk tersebut terlihat ketakutan akan apa yang di lakukan oleh tuannya pada dirinya karena gagal menjalankan tugasnya, tidak mengantar gadis manusia itu kembali ke ruangan bahkan sampai sekarang gadis tersebut belum di temukan. Membuatnya menundukan pandangan miliknya dengan takut dan tangan yang bertaut gelisah. Saat Crius berjalan mendekat ke arahnya maka makhluk gabungan iblis dan peri tersebut tidak dapat menahan gemetaran pada tubuh kurus kecilnya. Telinga panjangnya bahkan telah melayu turun. “Lain kali jangan sampai kehilangan lagi. Aku akan mengampunimu untuk ini karena, gadis manusia itu sudah kembali berada dalam ruangan.” Imp yang mendengar ucapan dari Crius dan merasa lega itu spontan saja mendongakan kepalanya antusias dengan telinga miliknya yang sudah kembali mekR naik. Sebelum dengan cepat di turunkannya kembali pandanganya dengan ketakutan saat melihat wajah tuannya yang dingin dan menahan murka padanya. Saat sepatu hitam milik Crius berhasil menginjak kaki kurus milik pelayan iblisnya itu hingga, sang imp harus menahan sakit karena injakan dari tuannya tanpa bersuara. Ini merupakan hal lumrah yang sering terjadi bagi para pelayan. Mereka sudah berkali - kali menerima siksaan keji dan tak berperasaan yang begitu menyakitkan tak terhitung jumlahnya itu. Bahkan jika mereka melakukan tugas dengan benar dan baik tetapi, jika tuannya ingin menyiksa mereka maka para imp di garis terbawah itu tak memiliki pilihan lain dan hanya dapat menerima semua perlakuan tuannya Jadi ini seperti telah menjadi sebuah rutinitas bagi mereka sayangnya, berapa kalipun mereka menerimanya. Tubuh kecilnya tidak akan pernah terbiasa dengan rasa sakit tersebut. “Tapi, jika lain kali kau melakukan hal yang sama lagi. Maka tidak cukup ekor dan tandukmu yang telah di tebas melainkan, satu persatu kaki dan tanganmu yang selanjunya akan kulepaskan dari tubuhmu itu. Kau mengerti ?” Ancam Crius dengan keji bersama kakinya yang semakin kuat menginjak kaki dari imp tersebut sampai terdengar sebuah bunyi retak sari tulang pelayannya. Barulah setelah merasa cukup dengan penyiksaan yang di berikan olehnya di tariknya kakinya menjauh dari makhluk yang masih menampakan wajah penuh kesakitan tapi, tak berani untuk bersura tersebut. “Berikan gadis tersebut gaun baru segera.” Imp yang baru saja mendapatkan penyiksaan itu langsung segera menganggukan kepalanya dan segera berbalik pergi dari sana dengan menyeret sebelah kakinya yang mengalami keretakan tulang atau mungkin telah patah. “Untuk kalian berdua jangan ada yang meninggalkan posisi berjaga.” Sambungnya pada dua kartakan yang segera kembali berdiri pada posisinya di depan pintu. Menjaga ruangan Hemera. Setelah selesai dengan semuanya barulah pria berambut putih itu berlalu pergi dari sana meninggalkan hawa kekejamannya pada bawahannya sendiri. Hal terburuknya menjadi seorang bawahan di negeri Keaton adalah tidak adanya keadilan bagi mereka yang terlahir sebagai garis terendah. Tepatnya, hal ini hanya berlaku bagi klan Demon sendiri dan tidak ada yang berani menentangnya, bahkan dari 2 klan yaitu Centaur serta Nymph. Tepatnya kekejian itu hanya terjadi pada garis klan Demon dan tidak berlaku untuk Klan Centaur serta Nymph yang memperlakukan garis terbawah kaum mereka dalam kondisi baik. Meksipun begitu 2 klan itu tak dapat membantu kaum garis rendah dari Demon, tidak hanya kalah dalam kekuatan melainkan mereka jelas akan kalah telak dalam segi apapun. Melihat siapa yang berkuasa sekarang. Sehingga para klan hanya dapat melindungi bagian dari kaum mereka masing - masing. *** Amorist mengibarkan jubah kenesaran miliknya mengibar sebelum, mendudukan dirinya di atas tahta dengan tenang dan penuh akan kuasa. Menatap lurus pada Nesrin yang hanya tersenyum menatapnya duduk di kusrus tahta yang menunjukan kepemilikannya sebagai penguasa di Keaton. “Jadi, apa yang ingin kau laporkan ?” Amorist membuka suaranya lebih dahulu mempersilahkan wanita tersebut untuk mulai membuka suaranya. “Jumlah Lilith yang berhasil bertelur telah bertambah sehingga menyebarkan kaum Demons di setiap penjuru Keaton sudah pasti telah cukup.” Amorist menaikan sebelah alisnya mendengar kabar tersebur. Klan Demon tidaklah kekurangan pasukan hanya saja kaum lilith sebagai perempuan dari klan Demon beberapa ribuan tahun ini sedikit mengalami kemunduran sehingga, tidak kenyeimbangkan mereka. “Apa semua telurnya telah menetas sempurna ? Kau tahu kemunduran dari kaummu itu mengalami penurunan belakangan ini, apa kalian telah sulit untuk mempengaruhi para pria agar mau meniduri kalian ?” Nesrin yang mendengar hal tersebut hanya dapat tersenyum saat Amorist mengeluarkan perkataan yang seolah menunjukan penghinaan bagi kaumnya. Sayangnya dirinya tidak akan menanggapi hal itu dengan panas. Para kaum Lilith yang terlahir begitu cantik dan rupawan tersebut memiliki bakat yang tak perlu di ragukan lagi untuk menyesatkan para manusia terlebih para pria yang buka akan nafsu semata. Membuat para pria tersesat dalam pesonanya hingga mau melakukan apapun bagi mereka, sebelum membiarkan para manusia menidurinya yang akan berakhir dengan hal itu membunuh mereka. Beginilah alam bekerja. Menyeimbangkannya. Lagipula para orang jahat tidak akan pernah habis dan justru akan terus terlahir dengan sendirinya. Karena itulah tugas para lilith menyesatkan para lelaki dan mengambil jiwanya. Menggunakan lelaki yang hanya memikirkan hal duniawi untuk kesenangan mereka sendiri. “Butuh satu bulan lagi untuk mereka bertelur. Tentu saja tidak. Hanya saja butuh beberapa kandidat yang benar - benar ingin bertelur. Tidak semua lilith ingin melakukannya.” Jawab Nesrin hingga Amorist menganggukan kepalanya. “Apa mungkin karena pemimpin mereka sendiri tidak secara sukarela ikut untuk melakukannya. Jika bawahanmu tidak ingin melakukannya seharusnya kau mencoba membujuknya dengan menunjukan hal serupa.” Nesrin yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum dengan pandangannya yang menunduk sebelum mendongakan kembali kepalanya, menatap manik merah di atas sana dengan manik kuning miliknya. “Anda tahu ada cara lain agar mereka mau melakukannya secara sukarela. Lagipula jika harus saya, saya sedikit pemilih untuk melakukannya.” Semua orang tahu jika para kaum Lilith telah berhasil menggoda dan meniduri berbagai macam pria dari saat usia mereka muda. Jadi bukanlah rahasia umum lagi bila Nesrin yang merupakan bagian Lilith jelas sudah memiliki pengalaman ranjang yang tak terbatas. Hanya saja kaum lilith dapat memilih ingin mengandung telur dengan siapa ataukah hanya ingin mengambil jiwanya saja. “Baiklah aku mengerti. Jika mereka semua telah menetas kau harus kembali datang untuk menyampaikan kembali, jaga mereka dengan baik agar kau tidak perlu memaksa kaummu untuk bertelur lagi kedepannya.” “Baik Yang Mulia.” Jika Lilith dapat menggoda dengan intrik kecantikan dan rupawan milik mereka. Maka hal ini berbeda dengan kaun Demon sempurna seperti Amorist dan Crius agar dapat terpengaruh, mereka jauh lebih kuat dari pertahanan yang ada. Karena itu Nesrin yang memang telah memiliki tujuan jelas telah menetapkan dirinya bahwa bila memang dirinya telah tiba untuk bertelur, maka dirinya hanya akan mengandurng terlu dari Amorist. Jika kaum lilith dan Demon sempurna bersatu entah sekuat apakah keturunannya tersebut. Dengan kekuatan yang besar dan wajah rupawan yang membungkusnya, jelas keturunannya ridak akan terkalahkan adanya. Suara pintu besar dari aula tersebut kembali terbuka di susul dengan penamapakan dari Crius yang kini berjalan masuk kedalam dengan tegap. Berdiri tepat di samping posisi Nesrin yang sama sembari matanya yang lueus menatap pada saudaranya di atas singgasana. Membiarkan wanita dari kaum lilith itu yang meliriknya sebentar sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada Amorist di atas sana. Melihat kehadiran Crius jelas memberi tahu Nesrin bahwa gadis manusia itu pastinya telah kembali berada di dalam ruangan Lebna, fempat seharusnya memang terkurung disana. Memikirkan gadis manusia ke-101 itu berhasil merubah mood Nesrin menjadi jelek hingga tidak mendengarkan penyampaian dari Crius pada Amorist. Kepalanya hanya di penuhi oleh bagaimana gadis manusia itu sepertinya telah mendapatkan pelayanan jauh lebih baik dari 100 gadis manusia sebelumnya. Ini jelas mengganggunya. Amorist dan Crus jelas tidak akan pernah ikut campur jika, dirinya menyiksa para gadis manusia itu tetapi, untuk Hemera dirinya telah mendapatkan peringatan dari Amorist secara tak langsung begitupula dengan Crius. Membuatnya semakin ingin mencabik - cabil gadis bermanik biru laut itu. “Jika sudah tak ada yang ingin kalian laporkan. Kalian bisa kembali.” Crius telah bersiap untuk berbalik pergi sesuai dengan perintah Amorist padanya namun, melihat Nesrin yang tak kunjung bergerak dari posisi tersebut membuatnya kembali pada posisinya semula dan menatap wanita cantik di sampingnya yang tak terlihat fokus. “Masih ada yang ingin kau sampaikan ?” Mendengar Amorist yang telah memanggilnya hingga menaikan nadanya sedikit, berhasil membuat Nesrin tersadar mendongak pada pria di ujung sana yang menatapnya menunggu. Begitu pula dengan Crius yang hanya diam menatap dirinya membuatnya berdehem lalu kembali tersenyum menggoda. “Maaf ada beberap hal yang mengganggu saya.” “Katakan.” “Yang Mulia anda tahu bahwa saya telah melihat beberapa hal yang seharusnya tidak terjadi, ini membuat saya khawatir. Karena ini bukanlah kali pertama.” Amorist mengerutkan keningnya dengan apa yang di maksud oleh Nesrin, menunggu kelanjutan dari perkataan wanita tersebut kepadanya. “Seperti yang anda ketahui gadis manusia itu jelas adalah tumbal terakhir yang anda butuhkan dan jelas dia bukan yang pertama. Tapi, anda jelas memperlakukannya secara berbeda. Ini mengkhawatirkan Yang Mulia.” Sambungnya. Tidak hanya Amorist yang mendapatkan akur dari Nesrin melainkan Crius juga telah mendapatkannya. Nesrin terlihat tidak akan menghentikan langkahnya tersebut bahkan setelah Amorist menutupinya. “Apa kau sedang mempertanyakan dengan tindakan yang ku ambil ?” Kali ini suara Amorist terdengar tidak senang sebagai tanda untuk lebih berhati - hati akan kalimat yang akan di keluarkan oleh wanita cantik di depannya. “Ini bukan kali pertama untukmu mempertanyakan akan tindakan yang ku ambil. Apa kau merasa ini tidak lancang ?” Seharusnya saat Amorist telah berbicara dengan mempertanyakan kembali tingkahnya maka dirinya harusnya berhenti saat itu juga, namun Mesrin tidak melakukannya dan justru bertekad untuk mendapatkan apa yang ingin di ketahui olehnya hari ini juga. “Maafkan saya bila anda merasa ini lancang. Tapi ini demi kebaikan anda Yang Mulia. Anda memberikan nama pada gadis manusia yang seharusnya tidak mendapatkan perhatian anda bahkan anda membirkannya berkeliaran bebas di kastil ini. Seharusnya ini tidak terjadi Yang Mulia,” “Sebaiknya kau pergi sekarang selagi aku membiarkanmu pergi.” Desis Amorist bahkan manik merahnya telah berkibar akan peringatan, sinar kilat merah itu menyiratkan tidak akan bersabar dengan apa yang akan di katakan oleh wanita di depannya. Dirinya telah cukup kesal dengan bagaimana Crius mempertanyakan tingkahnya sekarang wanita yang jauh di bawahnya kini berani ikut mempertanyakannya dan terlebih memperingatinya mengenai hal yang seharusnya benar. “Yang Mulia tidak akan baik bila klan—“ BRUUUK… Saat Nesrin akan kembali berbicara menyanggah ucapan sang penguasa di depannya, dirinya justru telah kalah cepat dengan Amorist yang sudah berlari secepat kilat ke arahnya dan menghantamkannya ke bawah lantai keras yang di alasi oleh karpet merah. Mencengkram leher waniata tersebut hany dengan sebelah tangannya yang berhasil melingkari seluruh leher mungil tersebut. “Kau tidak berhak untuk mempertanyakan keputusanku !. Jika aku ingin memberikannya nama ataupun membiarkan gadis manusia tersebut berkeliaran bebas kau tidak dapat melakukan apapun.” Di dekatkannya wajah penuh amarahnya pada wajah Lilith tersebut dengan bengis, semakin menekankan cengkramannya hingga Nesrin menggeliat, karena tak dapat bernafas begitupula dengan lehernya yang kesakitan karena cekikan tersebut. “Keputusanku adalah sesuatu yang tidak dapat kau campuri, Nesrin. Siapa kau berani menanyakan keputusanku ? Berani sekali kau !.” Desisnya dengan kejam bahkan Nesrin yang telah terbaring tercekik tersebut mulai bergerak secara lemah. Sayangnya Amorist yang melihat hal itu tak kunjung menarik tangannya menjauh dari leher mungil di bawahnya. Jelas Lilith itu jauh lebih lemah darinya jadi, mereka akn dengan mudah di hancurkan oleh Amorist. Berbeda dengan Crius yang juga menerima cekikan yang sama tadi justru sedikit lebih dapat bertahan karena darah iblis murni yang di milikinya. “Dia akan mati.” Ucap Crius dengan nada tenang miliknya dan hanya menatap datar pada Nesrin yang mulai secara perlahan tak sadarkan dirinya, pergerakannya semakin melemah bahkan kakinya sudah berhenti bergerak hanya tangannya yang masih dengan lemah menyentuh telapak tanga dari Amorist. Jika Amorist menambah sedikit kekuatannya maka dengan cepat wanita tersebut tak perlu merasakan penderitaan sebelum ajal menjemputnya, melainkan langsung mati karena lehernya yang patah. Saat Mesrin benar - benar telah berada di batasnya maka di tariknya tangannya tersebut .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN