6~Bekas Luka

1389 Kata
Nesrin dan Crius berjalan keluar dari pintu besar aula kerajaan meninggalkan Amorist seorang diri di dalam ruangan tempat biasanya di lakukan pertemuan penting untuk membahas masalah yang melanda Negeri Keaton bersama para klan lainnya. Crius sendiri yang beberapa tahun belakangan ini terus menggantikan posisi kakaknya tersebut untuk memimpin dan memberikan keputusan yang tentu saja sudah di diskusikannya bersama Amorist sebelum menyampaikannya kepada para petinggi 2 klan lainnya . Hal ini mulai terjadi semenjak Amorist mendapatkan kutukannya akibat kesalahannya sendiri membuatnya berada posisi lemah sebagai sang pemimpin untuk terus berada di atas singgasananya sehingga memicu konflik dari tiap klan untuk mengakhiri masa pemerintahannya. Sayangnya setelah semua yang di lakukan oleh Amorist untuk mendapatkan posisi tersebut tentu saja ia tidak ingin tahta tersebut bergeser pada orang lain, maka ia memutuskan untuk membiarkan adiknya Crius yang menjadi sosok bayangannya sendiri. Pada awalnya ini sedikit memicu perdebatan anatara klan yang berhasil di kendalikan olehnya. Mungkin ia tidak berada pada situasi yang baik sebagai seorang pemimpin jika dilihat dari kelemahannya sekarang, namun ini tidak menutup fakta bahwa meskipun dengan kutukan yang di terimanya ia tetaplah sosok terkuat di negeri Keaton sendiri sehingga setelah ratusan tahun berlalu sampai sekarang ia masih dapat mengamankan kekuasaannya sendiri. “Apa sebaiknya manusia ke seratus satu itu berada di kastilku saja ? Kau bisa membicarakannya pada Amorist untuk hal ini.” Nesrin bersuara secara tiba - tiba setelah pintu besar di belakang mereka telah tertutup dengn rapat. “Sama seperti seratus gadis manusia lainnya, gadis ke seratus satu itu juga akan tetap berada di kastil ini.” Jelas Crius dengan tenang dan mengambil langkah lebih dahulu, mengabaikan Nesrin yang kini menyusulnya dan mengambil langkah yang sejajar sama dengannya. Crius dan Nesrin merupakan klan yang sama sehingga sifat mereka tidak kalah jauh sebagai seorang Demon atau Iblis, jadi tidak sulit bagi Crius tahu apa yang tengah di pikirkan oleh wanita tersebut. Terlebih melihat ambisi Nesrin yang tidak di tutupinya sejak ratusan tahun lalu untuk benar - benar mencoba merangkak naik ke atas tahta. “Crius. Sebaiknya manusia itu bisa kau kontrol dengan baik. Dia dapat menimbulkan masalah nantinya yang akan melukai Amorist.” Seratus gadis lainnya dahulu berada di bawah tanggung jawab dan pengawasannya sendiri, itulah kepercayaan yang di berikan oleh Amorist padanya melihat kakaknya tersebut berani mempercayakan penawarnya untuk berada di tangan adiknya yang sebenarnya bisa saja melengserkan dirinya. Bagaikan racun yang tengah berada di dalam tubuh Amorist, dirinya yang memegang kuasa atas penawar dari racun tersebut, dapat saja ia menghancurkan bahkan memusnahkan segala tumbal bagi kakaknya untuk mendapatkan kekuasaan seterusnya .Mungkin dirinya kejam dan licik selayaknya asal dari klannya namun, ia memiliki rasa loyalitas dan tanggung jawab pada Amorist. Mengingat bagaimana mereka dahulu memperlakukan 100 gadis lainnya membuatnya menghentikan langkah kakinya saat wanita berwujud iblis ular yang di sampingnya itu kini mencoba memerintahnya. “Dia pemilik dari jantung yang terakhir dan sekarang manusia itu berada dalam tangan kekuasaan dari Amorist, kau tidak bisa seenaknya pada gadis manusia yang satu ini.” Mungkin dulu Amorist tidak akan peduli bagaimana sekaratnya seratus gadis lainnya saat darahnya terus di ambil setiap malam dan mereka tetap di paksa hidup hingga bulan purnama tiba, mereka menyiksanya dan hanya menjadikan seratus gadis lainnya seperti sapi perah yang di ambil darahnya tanpa adanya belas kasih. Terlebih Nesrin, wanita kejam itu terus saja menyiksa para gadis tumbal untuk kesenangannya semata membuat para gadis - gadis tersebut terus hidup dalam ketakutan di tiap detiknya, hingga mereka mulai berubah menjadi sesosok yang tidak terlihat memiliki jiwa dan hanya seonggok tubuh rentan yang masih bernafas saja. “Kecuali kau ingin kepala ularmu itu di injak sampai hancur berkeping - keping.” Sambung Crius sedikit melirik pada wajah Nesrin di sampingnya yang tengah menatapnya dengan mata kuning yang bersinar terang, sedikit tersinggung dengan ucapan pria tinggi berambut putih tersebut. Kali ini dirinya tidak lagi ikut menyamai langkah dari pria tersebut dan hanya diam menatap lurus pada punggung tegap di depannya. Ternyata menghasut Crius masih saja sulit, melihat kepekaan dari pria tersebut yang terlihat memang tidak begitu menyukainya. Hemera,tumbal ke-101 itu terlihat seperti tengah di kelilingi oleh iblis yang menyamar menjadi malaikat untuk menjaganya agar tidak ada yang menyentuhnya, membuatnya tersenyum sinis. Justru karena ini ia harus mulai mempertimbangkan sesuatu. *** Hemera membuka matanya dengan kepalanya yang terasa begitu pening karena kehilangan begitu banyak darah namun, tak dapat lagi menutup kedua kelopak matanya saat memikirkan dirinya berada pada tempat yang tengah mengancam nyawanya. Rasa pusing menghantamnya dengan kuat terlebih tubuhnya sebagai seorang manusia biasa belum mengkonsumsi apapun dari semalam dan hanya terus kehilangan darahnya saja. Sebuah botol kecil yang muncul di depannya, tengah di genggam oleh sebuah tangan keriput kembali menyentaknya dan mencari sesosok dari pemilik tangan tersebut. Ulzana wanita pendek itu ternyata yang kini tengah menyodorkannya botol kecil tersebut. Melihat wanita yang mengambil darahnya semalam membuatnya waspada dan menghindari Ulzana dengan menarik mundur tubuhnya hingga terkantuk pada batas ranjang. Masih dengan wajah yang datar melihat ketakutan dari gadis tersebut, Ulzana hanya lagi - lagi menyerahkan botol kecil berisi ramuan untuk memulihkan kesehatan Hemera ke depan wajahnya. “Minumlah ini akan memulihkan kesehatanmu.” Hemera tidak merespon apa - apa dan hanya sibuk mengamati artibut apa saja yang tengah di bawah wanita tua tersebut, untung saja ia tidak menemukan adanya benda tajam yang dapat melukainya. Namun botol kecil berisi cairan berwarna putih bening yang terlihat tidak berbahaya itu kini menjadi sasarannya untuk di waspadai olehnya. Ulzana bisa saja mengatakan itu tidak berbahaya namun sebenarnya itu dapat membunuhnya. Ia tidak bisa mempercayai siapapun setelah apa yang mereka semua lakukan padanya. “Minumlah ini sebelum mereka yang membantumu untuk menelannya, aku pastikan kau tidak akan menyukainya.” Ulang Ulzana lagi sembari menunjukan pada Hemera melalui gerakan kepalanya saat melihat dua orang imp berjalan masuk mengantarkan makanan. Rasa ketakutan itu kembali menjalarinya melihat makhluk yang tidak di ketahui kejelasannya itu muncul dari balik pintu besar dan kini masuk kedalam ruangan yang sama dengannya. Meskipun makhluk tersebut terlihat tidak berbahaya karena tubuh kecilnya yang terlihat rentan dan rapuh namun, bentukan mereka berhasil membuatnya panik. Ia tidak ingin mati namun jika memang dalam botol kecil tersebut berisi racun dan bukannya ramuan untuk membantunya memulihkan kesehatannya, maka lebih baik mati karena racun di banding mati karena di siksa. Dengan tangan gemetar dirinya mengambil botol kecil tersebut lalu mulai menelannya hingga tandas, membuat tubuhnya langsung saja bereaksi merasakan rasa panas dari dalam tubuhnya untuk sesaat sebelum hilang dan tidak terjadi apa - apa lagi. Para makhluk kecil kurus tersebut mendorong troli makanan mendekatinya sebelum mereka hanya menatapnya dengan mata besar miliknya dan segera berbalik pergi. “Mereka adalah golongan imp yang bekerja sebagai pelayan. Campuran peri dan iblis. Dia tidak akan menyakitimu tapi, jangan mencoba mengusiknya tetap saja kau yang terlemah di negeri ini.” Jelas Ulzana sembari mengemas peralatannya menarik perhatian Hemera dari arah pintu yang sudah di tutup oleh makhluk kecil tersebut. “Kalian semua terlihat berbeda dariku. Lalu kenapa aku berada disini ?” Suara Hemera sedikit ragu untuk bertanya namun tetap di paksanya menyeruakan isi pikirannya, dirinya tidak bisa lagi hanya terdiam untuk tunggu di jelaskan sementara begitu banyak pertanyaan memenuhi kepalanya. Ulzana tidak memberikan jawaban sampai semua artibutnya telah selesai di kemasnya. “Aku tidah tahu. Itu jawaban yang harus kau cari tahu sendiri. Kenapa kau yang terpilih.” Hanya itu sepatah kata yang di ucapkan oleh Ulzana sebelum berjalan pergi dari sana meninggalkan Hemera sendirian di dalam ruangan, lagi - lagi dengan jawaban yang kosong dan tidak memuskan keinginantahuannya. Disaat perutnya mulai berbunyi bersama itu matanya menangkap berbagai hidangan lezat di atas troli dan tercium begitu lezat, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk turun dan mendekat pada troli makanan itu guna meraih salah satu makanan yang ada. Hemera baru saja sadar ketika tangan kanannya itu telah berhasil meraih satu roti, bahwa tidak ada lagi luka ataupun jejak - jejak bekas sobekan pada lengannya. Mengamati lengan kanan miliknya dengan lebih dekat bahkan menyentuhnya untuk memastikan bahwa ia tidak salah. Tidak terdapatnya jejak sobekan yang mengindikasikan bahwa ia baru saja terluka. Hingga ingatannya sendiri membawanya pada pria berambut putih dan pemilik dari mata merah yang mengisap darahnya langsung dari lengannya. Pria itu berkata akan menunjukan sesuatu yang menarik untuknya dan pikirannya hanya menangkap bahwa pria tersebut tengah menunjukan keganasannya saja. Ia tidak tahu dari mana yang menyembuhkannya, entah ramuan yang baru saja di minumnya atau mungkin dari pria asing yang menjilati lengannya pagi tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN