Raphael berada di atas. Terbang. Lelaki itu dengan perlahan merendah mendekati jasad Kirania. Raut wajahnya menyimpan seribu kecewa, saat kaki-kaki jenjangnya menendang tubuh Kirania dan tidak ada respons. "Dia terlalu cepat mati, padahal belum melaksanakan tugasnya," ucapnya dengan menghela napas kasar. Tangan kanannya mengacak rambut dengan agak frustrasi. Seperti seorang ilmuwan yang gagal dalam melakukan uji coba. "Kau yang menciptakan kloningan Kirania?" Byakko berkata dengan raut wajah waspada. Lelaki itu... berbahaya. Jangan-jangan cuplikan di masa depan yang kemarin sempat ditunjukkan oleh Peri Mimpi adalah Kirania versi Raphael. Barangkali lelaki itu memiliki dendam tersendiri kepadanya, atau sekadar ingin meminum darah keturunan asli Sang Penyihir Terhebat Sepanjang Masa. D

