Kedatangan Byakko

1623 Kata
"Maaf, aku terlambat." "Bry—Bryan?" Mata Athela terbelalak sempurna. Sulit memercayai kehadiran pemuda itu di saat-saat seperti ini. Byakko tersenyum, lantas masuk ke lingkaran sihir itu dan mendekati mereka. Dia berdiri di antara kedua gadis yang masih melongo itu. "Tidak usah terkejut begitu. Bukankah seharusnya seperti ini? Aku menyelamatkan kalian. Aku, kan, pahlawan kalian." Dia tertawa nyaring. Athela memelotot karena marah. "Tidak bisakah kau kecilkan volume suaramu? Bagaimana nanti jika dia mengetahui keberadaan kita?" Kirania mengangguk. "Ini adalah lingkaran sihir pelindung senyap. Siapa pun yang berada di dalam lingkaran sihir ini tidak akan dilihat siapa pun, tidak akan tercium baunya oleh siapa pun, dan yang terpeting, saat kita berbicara begini pun tidak terdengar oleh siapa pun." Benar-benar barang yang berguna. Athela tertawa, walaupun masih dia tahan. Gadis itu setengah tak percaya dengan kemampuan Byakko yang seperti itu. Lelaki itu telah menjadi superhero mereka. "Ternyata kau memiliki sihir begini juga, ya." Byakko mengangguk. Lantas berbalik badan dan menatap ke arah kedua gadis itu. Dia menatap Kirania kemudian beralih menatapnya. Mata mereka bertemu. DEG! Dada Athela berdesir hebat. Dia seperti tak ingin melepas pandangan matanya itu dengan Byakko. Terlihat egois, memang. Akan tetapi, dia benar-benar menginginkan itu. Jangan alihkan pandanganmu. Tetaplah tatap mataku. Mata oranye itu teduh, menatapnya dalam-dalam. Sampai-sampai Athela kesusahan bernapas saking gugupnya. "Kau tidak apa-apa?" Tiba-tiba pipi gadis itu bersemu merah seperti kepiting rebus. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, lantas menengok ke arah bintang yang bertaburan di atas sana dengan indahnya. Kemudian beralih menatap pemandangan sekitar yang penuh dengan semak belukar. Bibirnya menggelembung, dia tak ingin Byakko melihat rona di pipinya itu. Kedua tangan Byakko menggapai pundak Athela, lantas tangannya merangkak naik ke pipi. Byakko mendekatkan diri ke arah Athela. Hidung gadis itu kembang kempis, dadanya berdesir hebat. Rona di pipinya semakin memerah. "Kau tahu aku sangat mencemaskanmu." Kini pandangan Byakko tak lagi ke matanya, melainkan ke arah tubuh-tubuh Athela yang dipenuhi luka lebam akibat p********n yang dia derita selama dua hari. Ya, ternyata gadis itu telah menghilang dari pandangan Byakko selama dua hari. Wajar saja pemuda di depannya yang berparas rupawan itu mencemaskannya. Dengan segera Athela menurunkan tangan Byakko, gadis itu mendengkus. "Heh, aku tahu kau sangat mencemaskanku. Tapi, berhentilah bersikap seperti orang bodoh. Ini bukan saatnya mencemaskan siapa-siapa. Selama aku masih selamat, tidak apa-apa, kan?" Byakko menarik kedua sudut bibirnya, menimbulkan senyuman yang begitu tipis. Hampir tidak bisa dilihat oleh t*******g mata jika tidak hati-hati dan teliti. Terlebih lagi saat malam-malam begini, yang ada hanya cahaya rembulan yang menembus pohon-pohon rindag menerangi mereka. "Ya, selama kau berada di depanku. Itu sudah cukup bagiku." Setelah berkata seperti itu dia kembali menatap ke depan, berbalik badan dan membelakangi kedua gadis itu. "Sepertinya kalian memiliki hubungan yang begitu rumit." Kirania sedikit berdahem, satu alisnya terangkat karena sedang memikirkan sesuatu. Pipi Athela memanas. "Kami tidak memiliki hubungan apa pun." Byakko menoleh, dia menatap ke arah Athela. "Tidak ada kau bilang?" Sontak Athela terkejut, matanya terbelalak. Bukankah memang tidak ada? Melihat ekspresi itu Byakko pun kembali menatap ke depan. "Kurasa ini bukan saatnya membahas hubungan-hubungan itu. Ada sesuatu yang harus kita bereskan terlebih dahulu. Bukankah begitu, ha—" katanya menggantung. Kedua orang itu meliriknya. Dia ingin berkata, "Bukankah begitu, Harimau Jelek!". Akan tetapi, lagi-lagi gadis itu mengurungkannya. Dia tidak mau Kirania tahu wujud Byakko yang sebenarnya. Selama ini pun sepertinya Byakko sudah mulai memakai nama samarannya dengan sempurna. "Kau tadi ingin berkata apa? Mengapa kau tak melanjutkan ucapanmu?" tanya Kirania keheranan. Dari raut wajahnya jelas sekali jika gadis itu sedang kebingungan. Diliriknya Byakko. Sepertinya setelah kejadian itu dia tak memperhatikannya lagi. Entah, dia mengambek atau apa. Namun jika dikatakan mengambek, rasanya sangat aneh. Mereka, kan, bukan pasangan pemuda-pemudi yang sedang memadu kasih. Mereka bukan pasangan. Tak ada kata mengambek atau merajuk. "Eh? Hachiin. Tadi aku ingin bersin tapi terlalu lambat." Humor yang sangat tidak berkelas. Untung saja mereka tidak memedulikan itu. BLEDAR! Kilat cahaya putih menyapu langit malam. "k*****t DI MANA KAU? DI MANA GADIS KECIL ITU? DIA MILIKKU!" Suara itu menggelegar membelah langit malam. Tidak ada jawaban, hanya ada suara nyanyian jangkrik yang nyaring memekakkan telinga. Mereka bertiga menelan ludah saat dedaunan samping mereka bergerak, tanda bahwa ada sesuatu yang sedang datang dengan kecepatan tinggi. Tunggu. Bahkan Byakko juga menelan ludah. "Kau yakin jika ini bisa menyembunyikan kita?" tanya Athela kepada Byakko. Pemuda itu sedikit terkejut dengan pertanyaan Athela. "Eh? Entahlah, aku belum pernah mencobanya," ujarnya dengan santai. Di saat-saat seperti ini bisa-bisanya Byakko santai? Kucing Tak Sopan itu memang kelewat santuy. "K—kau...." Kirania menepuk pundak Athela, mencoba menenangkannya yang tengah marah akibat Byakko. Lelaki itu memang super menyebalkan! "Untuk berjaga-jaga, kalian jangan bersuara terlebih dahulu." Byakko mengisyaratkan mereka untuk diam dengan isyarat tangan. Wajah Athela mendadak sebal. Sejak kapan Byakko sepengecut itu? BLEDAR! Kilat cahaya itu kembali membelah langit malam. Sepertinya, lelaki tua vampir tipe petarung itu mampu mengeluarkan kilatan cahaya yang seperti petir dengan cakaran kukunya yang panjang-panjang. Lalu kecepatannya itu mengerikan. Kalaupun Athela saat itu bisa melarikan diri, mustahil dia bisa keluar dari pengawasan makhluk jadi-jadian yang seperti monster itu. Ini berbeda dengan pertarungan mereka tempo lalu dengan Al Bersaudara. Kecepatan yang dimiliki sang Raja Baaj sangat mengerikan, lebih monster daripada penyihir sekelas Al bersaudara. Atau... kemarin-kemarin itu Al bersaudara adalah penyihir yang sangat lemah? Daun kembali bergerak seperti terkena angin. Dua puluh meter. Sepuluh meter. BLEDAR! Cahaya itu keluar dari tangannya. Kemudian dia ayunkan ke sana kemari seperti sebuah pecut dan menimbulkan kilatan besar yang mampu membelah tanah dengan singkat. Apa-apaan monster itu? Athela bergidik ngeri. Dia tidak percaya pernah mengatakan mulut dan kakinya bau. Sesosok lelaki tua dengan badan kekar dan kuat itu berhenti. Matanya yang mendelik memerah menatap ke sepenjuru hutan. Merah penuh dengan darah, lalu seperti laser yang siap kapan saja menembak mereka. Sudah pasti lelaki itu akan kesal saat dipermainkan seperti ini. Dada mereka bertiga deg-degan. Tidak terkecuali Byakko. Dia tahu lelaki seperti Byakko sejuta kali masih terlalu dini untuk berhadapan dengan vampir. Memang jika dia adalah makhluk mitologi yang keberadaannya sangat menggemparkan itu, tetapi vampir juga makhluk di masa lalu yang sangat kuat dan melegenda. Bahkan katanya, salah satu yang terkuat di antara mereka bisa mengimbangi Lord Werewolf. Mereka makhluk absolut yang tidak bisa mati kecuali dibunuh. Lalu kekuatannya sangat mengerikan—bisa menghancurkan dunia dalam sekejap. Tentu itu bukan dongeng semata. Namun, entah siapa yang paling hebat di antara yang terkuat di vampir itu sendiri atau ayahnya, Sang Penyihir Terhebat sepanjang masa. Dia tidak seharusnya benak gadis itu memikirkan hal-hal yang rumit seperti itu. Yang dia pikirkan harusnya kekhawatirkan akan bahaya yang mengancamnya saat ini. Benar-benar mendebarkan. Vampir itu menatap mereka. Berhenti sedetik. Dua detik. Matanya merah darah itu menatap mereka bertiga, menimbulkan rasa ketakutan bahkan bila hanya memandang saja. Benar-benar kekuatan yang sangat merepotkan. Kemudian kuku-kukunya tajam penuh dengan darah, seolah siap menghujam dan mencakar siapa saja yang tidak mengikuti perintahnya. Mereka bertiga menelan ludah. Keringat membasahi pelipis Athela. Entah mengapa tiba-tiba atmosfer di sekeliling mereka sangat panas dan mencekam. Athela bahkan sampai tidak bisa bernapas. Dadanya sibuk berdebar tak karuan. Sial, kita ketahuan. Bagaimana ini? Mata itu masih terus memelotot ke arah mereka seperti mau copot saja. Tiba-tiba lelaki tua dari klan vampir itu pun pergi. Seolah tak melihat apa pun di arah mereka. Makhluk legenda yang dulu Athela yakini sebagai mitos pun akhirnya pergi bersamaan dengan kilat yang membelah lautan bintang malam. Fyuh! Terselamatkan. Walaupun dadanya belum berhenti berdebar-debar. "Bagaimana, sudah kubilang, kan?" Byakko meringis. Sepertinya sekarang ini dia telah yakin dengan kemampuan bersembunyinya dalam senyap. Athela pura-pura tak peduli, sedangkan Kirania mengangguk-angguk antusias. "Kau benar-benar hebat!" Ah, biasa saja, ujar Athela dalam hati. Lalu Byakko menatapnya sekilas, pandangan mereka bertemu sedetik. d**a Athela berdesir hebat. "K—kau... apa yang kau lakukan?" tanya Athela tergagap karena grogi. Kirania menghela napas, dia melangkahkan kaki terlebih dahulu. "Aku duluan, ya." Eh? Pipi Athela kembali merona. Matanya menatap tubuh Kirania yang berjalan mendahului mereka. Sesaat kemudian punggungnya sudah hilang ditelan kegelapan. "Eh—" "Tidak apa-apa. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Saat ini keadaan sudah aman, jadi dia memutuskan untuk berjalan terlebih dahulu. Mungkin untuk sekadar memastikan." Berjalan dahulu dan meninggalkan kita berdua? Lagi-lagi lidah Athela kelu untuk berkata seperti itu. Dia hanya menatap Byakko yang tampan saat dilihat di bawah sinar rembulan. Rambut pirangnya yang diikat itu semakin memesona saja. Apalagi jubahnya yang menjuntai, benar-benar membuatnya tambah jatuh cinta. "Kau tidak ingin berjalan?" tanya Byakko saat menyadari bahwa Athela tengah melamun. Dengan perlahan dia menyusul Byakko, berjalan di sampingnya dengan d**a yang masih berdebar. Wangi ini, wangi khas Byakko yang sangat dia sukai. Dulu saja untuk berjalan di samping Byakko dia akan kesusahan karena Byakko berjalan terlalu cepat dan tidak romantis sama sekali. Namun, apa-apaan sekarang ini? Apa Byakko sangat merindukannya hingga menjadi b***k cinta seperti ini? "Kau tidak apa-apa, kan?" "Tidak. Aku baik-baik saja." "Syukurlah. Aku beberapa hari ini sangat cemas, takut-takut kau akan meninggalkanku begitu saja." "Kurasa... aku juga sangat cemas karena beberapa hari ini tidak bertemu denganmu." Pipi Athela memerah, dia menunduk. Tidak ingin lelaki di sampingnya melihat Athela yang sedang tersipu. Byakko menghentikan jalan, begitupun dengan Athela. Lelaki itu berjalan ke bekalang, lalu tangannya meraih rambut pirang Athela dan mengikatnya. "Warna rambut kita... bukankah sama?" Athela mengangguk. Dia dapat merasakan sentuhan tangan Byakko yang menggapai setiap helai rambut miliknya dengan lembut. Dia benar-benar lelaki yang memperlakukannya bak seorang putri. Tiba-tiba tangan kekar mikik Byakko melingkar di perut Athela. Gadis itu sontak terkejut dan membelalakkan mata. Sedangkan wajahnya terbenam di lehernya. Dapat dia rasakan embusan napas Byakko yang sangat teratur. Wajah Athela memerah sempurna. "A... apa yang sedang kau lakukan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN