1

970 Kata
“Jadi kamu udah gak perawan? Kamu membohongiku?” tanya Mas Candra setelah mengamati seprei putih tempat barusan kami melakukan hubungan suami istri. Keningnya berkerut dengan pandangan menyelidik. Jantungku berdetak kencang. Yang kutakutkan terjadi juga.  "Kamu membohongiku? Katakan!” Mas Candra menatapku sengit. Merah padam wajahnya. Ditatapnya lagi kain putih lusuh yang dibentangkan di atas seprei merah bermotif bunga mawar. Jelas sekali, Mas Candra mencari jejak darah di sana.  Aku menarik napas pelan, begitu bingung mau  jujur atau tetap bungkam. Atau, mencari alasan lain tanpa mengorek masa laluku.   Aku menarik napas mencoba menetralisir gugup. "Aku ...."  “Jawab jujur! Kamu udah gak perawan, kan?!” teriak Mas Candra tak sabar, membuat suara-suara berisik di ruang tamu mendadak senyap.  Tamu undangan belum seluruhnya meninggalkan rumah Mas Candra, ada beberapa yang masih bercengkrama dengan Bapak serta bapak mertua saat aku dan Mas Candra pamit tidur, dari suaranya yang berapi-api agaknya mereka asyik membicarakan bisnis. Selain itu, beberapa sanak saudara Mas Candra apalagi yang dari jauh, memutuskan menginap di rumah ini.   Mas Candra menyentak tanganku yang hendak meraih tangannya lalu memakai bajunya dengan gerakan kasar.  "Mas, aku ...."   “Dasar perempuan murahan!” Ketus Mas Candra dengan mata nyalang, sungguh mengerikan. Tangannya yang terkepal tiba-tiba ia tinjukan sekuat tenaga ke kasur, tepat di atas kain putih yang menjadi saksi biksu bahwa sepuluh menit lalu, kami masih saling menatap penuh cinta. Saling memuji dan tersenyum malu-malu. Ah,  betapa indahnya yang tadi itu. Mas Candra menggeretakkan gigi lalu beranjak bangun dengan tangan masih terkepal. Aku memekik keras saat pintu kamar tiba-tiba dibuka dan dihentak kasar. Orang-orang langsung menatap kemari. Refleks, aku menarik seprei untuk menutupi tubuh polosku dan menangis keras.  Sungguh, hatiku sangat sakit. Sebagian orang pasti sudah melihatku tak berbusana dan bisa saja mereka berprasangka yang tidak-tidak karena perkataan Mas Candra yang begitu keras tadi. Ya Tuhan ... ujian apa lagi yang hendak Kau berikan padaku? Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki. Mas Candra, kah? Apa pintunya sudah ditutup kembali? Jantungku berdetak kencang saat tiba-tiba tubuhku yang bergetar oleh tangis dipeluk cukup erat.  “Sudah, ndak usah nangis.” Damai rasanya mendengar suara ibu mertua. Sejak awal kami bertemu, Beliau langsung menganggapku anak. Mas Candra sulung dari tiga bersaudara, semua laki-laki. Adik Mas Candra yang kedua sudah menikah namun istrinya meninggal saat melahirkan. Tak heran, Ibu sangat menyayangi dan selalu menunjukkan perhatian berlebih setiap Mas Candra membawaku kemari. Ibu menyibak seprei lalu mengusap wajahku yang sembab oleh air mata. Pintu kamar tertutup rapat. Suara-suara berisik, anak-anak kecil yang berlarian sambil tertawa girang mulai kembali terdengar.   Aku menatap Ibu tepat di matanya, berharap Ibu tak berpikir aneh-aneh tentangku.  “Ibu ... aku bisa menjelaskannya, Bu. Aku bisa jelaskan,” lirihku di antara isak tangis.  Ibu mengangguk. Wajah putih tembamnya yang keriput begitu menawarkan kedamaian. Andai mama masih hidup. Andai lelaki terkutuk itu tak mengkoyak-koyak harga diriku.  “Aku bukan perempuan murahan, Bu, bukan,” lirihku lagi, masih sambil terisak.  “Ibu tahu.”  “Aku 'kecelakaan', Bu. Kecelakaan.” lanjutku dengan suara tersengal.  Ibu mengusap lembut rambut sebahuku yang tergerai acak-acakan, menyusut air mataku dengan sangat pelan, lalu kembali mendekap mantunya ini erat. Aku menangis kencang di d**a Ibu yang berdetak teratur karena sedih dan terharu. Dadaku sesak saat terngiang kejadian tiga tahun silam, saat  harus membuang bayi dari perbuatan haram lalu mencoba memendam masa lalu dengan tertatih-tatih.  Sungguh. Sama sekali tak gampang saat aku berusaha bertahan dari cemoohan semua orang; tetangga, teman-teman sekolah, juga teman-teman sesama santri.  Sakit rasanya, saat melihat mama meninggal terkena serangan jantung setelah tahu anak kesayangannya ini hamil. Aku menggeleng pedih. Penyesalan, tetap saja hanya akan menjadi penyesalan. Tak akan pernah mengembalikan sesuatu pada keadaan semula. Sungguh, kalau bisa, sudah kubunuh si preman pasar itu. Yang cintanya tak bersambut lalu membalas dendam dengan menodaiku. Hukuman penjara, mana setimpal dengan tekanan batin yang harus kutanggung seumur hidup? Saat petaka itu menimpaku, orang-orang desa bukannya menghibur, malah menyalahkanku.  “Dia sombong, wajar kalau lelaki itu sakit hati lalu memberinya pelajaran.”  “Anak Pak Haji kok sombong, kasian Pak Haji, santrinya banyak yang pindah pondok karena anaknya hamil di luar nikah.”  Aneh, bukan? Cara orang-orang memandang hidup? Siapa korbannya, siapa pula yang dikoar-koarkan bak pelaku. Bercericit sana-sini menebar benci. Sungguh picik. Sepertinya, tak satu orang pun kala itu bersimpati padaku. Hanya Bapak yang dengan setia menemani, menghibur, terkadang sambil ikut menangis, memberi motivasi sampai aku bisa bangkit dari rasa sakit, mengubur dalam-dalam masa lalu.  Tapi sekarang, masa lalu itu terpampang jelas--masih terpahat segar dalam ingatanku saat harus melepas si jabang bayi pergi, guna diurus sepasang suami istri tua tak dikaruniai anak.  Aku juga masih sangat ingat, saat Bapak memohon kepada seluruh santrinya agar tak menceritakan kisah tragis puterinya kepada orang luar. Bapak juga mengumpulkan para tetangga, memohon dengan mata berkaca-kaca untuk melupakan cerita seram itu agar tak menceritakan kepada siapa pun. Cukup hanya segelintir orang saja yang tahu.  Lalu, setelah memberi nama baru padaku, Bapak melepasku pergi menimba ilmu di pesantren. Waktu itu, aku tak punya gambaran masa depan, yang jadi prioritas hanya cita-cita mulia untuk diajarkan pada dunia luar.  Namun, Allah ternyata berkehendak lain. Seorang mahasiswa tampan terang-terangan menunjukkan  perasaannya padaku. Karena aku pun tertarik padanya, akhirnya kuterima ia jadi suami tanpa banyak pertimbangan. Dan, inilah yang terjadi. Kata-kata lembut yang dulu diucap Mas Candra, sepertinya hanya bumbu agar bisa mendapat yang disuka. Tuhan ... kenapa hidup begitu tak adil?  “Sudah, Nduk. Sudah. Ndak usah nangis. Ceritanya nanti saja jika sudah tenang. Sudah. Sudah." Ibu terus mengusap-usap bahuku. Aku memeluknya erat. "Aku diperkosa, Bu. Waktu itu aku diperkosa." Tangisku berderai. Ibu menempelkan jari telunjuknya ke bibirku, pertanda menyuruhku diam. "Sudah, jangan nangis lagi. Ibu percaya padamu." Sayup-sayup terdengar suara Mas Candra yang mengatakan pada teman-temannya bahwa aku sudah tak perawan. Sungguh malu rasanya *Salahkah kalau dia gak jujur? Sementara aib itu memang harus ditutupi. Katanya gak boleh diumbar dalam agama
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN