Tiga

1245 Kata
Tana mengetuk pintu ruang kerja Elrama beberapa kali. Setelah terdengar sahutan dari dalam Ia masuk. Dilihatnya Elrama duduk di balik meja kerjanya. Serius menatap layar di depannya. "Permisi, pak" "Tunggu sebentar, silakan kamu duduk dulu" Tana duduk di sofa single yang ada di sana. Menatap sekeliling ruangan Elrama yang cukup luas berisi penuh rak - rak buku seperti perpustakaan. "Ekhemm..." Elrama kini duduk di sopa berhadapan dengan Tana. Menyodorkan selembar kertas. "Silakan kamu baca, itu jika setuju kamu bisa langsung tanda tangan jika tidak kita bisa bicarakan" "Intinya pekerjaan kamu masih sama saat kamu di panti jompo, hanya disini kamu khusus mengurus Ibu saya. Di rumah ini akan ada satu orang yang datang pagi hari untuk membersihkan rumah, untuk memasak Mami ingin kamu yang memasak untuknya. Sesuai yang tertera di sana gaji disini 3 kali lipat dari yang kamu dapatkan di panti jompo" jelas Elrama. "Dan sesuai yang tertera di sana kamu bekerja hanya 6 bulan. Setelah itu saya akan bawa Ibu saya ke negara asal kami, Inggris" Tana hanya mengangguk mengerti. Langsung menandatanganinya. "Kamu bisa kembali" Tana baru memegang handle pintu ketika Elrama kembali memanggilnya. "Tana" "Iya, pak?" "Apa Mami sudah tidur?" tanya Elrama. "Sudah, pak. Sepertinya Mami kelelahan tadi minta saya temani mengurus bunga - bunganya" jelas Tana sopan. "Jangan biarkan Mami terlalu kelelahan" "Baik, pak" ***** "Selamat pagi, Tana" Tana yang sedang menata makanan untuk makanan menoleh mendengar suara sapaan Evelyn. Tana menghampiri Evelyn membantu berjalan menuju meja makan. "Pagi juga, Mi" "Masak apa?" tanya Evelyn melihat makanan yang sudah tersaji. "Kebetulan tadi di luar hujan dingin, jadi Tana masak yang anget - anget. Sup ayam" jelas Tana. "Tana ambilkan untuk Mami ya" "Boleh, pasti enak" ucap Evelyn antusias. "Ini, Mi" "Benerkan Mami bilang, enak" ucap Evelyn setelah merasakan sup ayam buatan Tana. "Syukur kalo Mami suka" Entah kenapa mata Tana tiba - tiba berkaca - kaca, bagian dari hatinya merasa bahagia. Jadi ini rasanya. "Loh, kamu kenapa sayang?" tanya Evelyn melihat Tana yang seperti menahan tangis. Ditanya seperti itu dengan sendirinya air mata Tana turun. "Tana hanya bahagia, Mi" Tana terisak mencoba menghapus air matanya yang entah kenapa susah dihentikan. "Dengan Mami Tana merasa punya orangtua. Tana hanya terlalu bahagia" jelas Tana dengan air mata masih saja mengalir. Evelyn menghampiri Tana, merengkuh dalam pelukannya. "Dengar sayang sekarang kamu anak Mami. Mami sayang kamu. Jangan sungkan berbagi dengan Mami" ujar Evelyn mengelus rambut Tana lembut. Evelyn hanya tahu Tana anak yatim piatu karena sejak kecil sudah ditinggal kedua orangtuanya, ketika itu Tana tak sengaja mengucapkannya tapi tak tahu cerita detailnya. "Terimakasih, Mi" "Ekhemm" Deheman seseorang menginterupsi keduanya. Dilihatnya Elrama berdiri tak jauh dari sana. Tana segera menghapus air matanya. "El berangkat, Mi" pamit Elrama "Makan dulu, El" "Sudah siang Mi, gak akan sempet. El sarapan di kantor saja" ucap Elrama. "Ya sudah, hati - hati" Elrama mendekati Evelyn mencium tangannya sekaligus kecupan di keningnya. "Pak El?" Elrama yang sudah akan beranjak menghentikan langkahnya menatap Tana yang memanggilnya. Ekspresi wajahnya menyiratkan tanda tanya. "T-tunggu sebentar" Elrama heran melihat Tana yang tiba - tiba berlalu menuju dapur. Elrama menatap Evelyn seakan bertanya. Evelyn hanya mengangkat bahu tak tahu. "Ini pak untuk sarapan. Tadi saya masak banyak sayang kalo enggak dimakan" ucap Tana menyodorkan jinjingan yang berisi dua kotak makan pada Elrama. Elrama hanya bergeming. "Maaf lancang, tapi kalo bapak..." "Oke, terimakasih" Elrama cepat mengambil jinjingan itu. Dengan mengucap salam Ia berlalu dari sana. "Dari jaman sekolah dulu El biasanya paling anti dibawakan bekal" jelas Evelyn **** Tana dan Evelyn sedang berada di samping rumah. Di sana ada sebuah taman. Saat Evelyn masih sekuat dulu ia yang merawat taman ini. Kini pun taman ini masih terawat tapi bukan ia yang merawatnya. Elrama mempekerjakan seorang untuk merawat taman ini. "Wah, indah sekali, boleh Tana petik satu Mi?" Dihadapan Tana ada banyak macam bunga tapi Tana sangat tertarik melihat bunga ini. Entah apa nama bunga ini yang ia hapal tanaman di sini hanya bunga mawar, anggrek dan bunga matahari. "Itu namanya bunga daisy. Kamu boleh petik bunga manapun yang kamu suka" Setelah diberi izin segera Tana petik setangkai bunga yang baru ia tahu namanya bunga daisy. "Cantikkan? Seperti kamu!" ucapan Evelyn itu membuat wajah Tana tersipu malu. "Benarkan El, Tana itu cantik" tanya Evelyn yang berdiri di ambang pintu masih lengkap dengan setelan kerjanya. "Hmm" Elrama hanya bergumam tidak jelas. "Karena dia perempuan, Mi. Tidak mungkin dia tampan" Ucap Elrama kemudian. "Yang tampan itu kamu. Anak Mami" Evelyn berjalan mendekati putranya itu. "Tumben kamu pulang cepet, nak?" tanya Evelyn ketika berhadapan dengan putranya. Elrama segera merangkul bahu Evelyn mengajaknya masuk. Tana mengikuti dari belakang. "Aku cuma pulang sebentar, Mi. Ada barang yang ketinggalan dan tidak bisa menyuruh sembarangan orang mengambilnya" jelas Elrama. "Mami sudah makan?" tanya Elrama mendudukan Evelyn di kursi makan. "Sudah tadi Tana masak. Tana juga buatkan Mami cake red velvet. Enak Mami suka kamu juga harus coba" jelas Evelyn semangat. "Cakenya masih adakan, sayang?" tanya Evelyn menatap Tana. "Masih, Mi, banyak. Tana simpan didalam kulkas" ucap Tana. "Mami jangan terlalu banyak makan makanan manis" ucap Elrama "Tenang aja El. Cake buatan Tana redah gula" jelas Evelyn. "Mau saya ambilkan, Pak?" tanya Tana sopan. "Tidak perlu. Saya hanya sebentar" "Aku harus langsung pergi lagi, Mi. Nanti malam juga aku akan lembur. Mami jangan tidur terlalu malam" Jelas Elrama "Saya titip Mami saya" ucap Elrama menatap Tanayu. Sekarang Elrama sedikit lega meninggalkan Evelyn dirumah karena sudah ada Tanayu yang menemani. Elrama mencoba percaya pada gadis itu. "Baik, pak" Elrama mengecup kening Evelyn lalu berlalu dari sana. **** Tana berjalan dengan menahan kantuk menuju dapur untuk mengambil minum. Karena keadaan gelap dan ditambah rasa kantuk Tana tak sadar menabrak sebuah pajangan guci keramik. Guci itu jatuh mengenai sebuah meja yang terdapat beberapa vas bunga berbahan kaca hingga vas bunga itu ikut pecah. Bunyi pecahan terdengan nyaring. Untungnya seseorang berhasil menahan tubuh Tana hingga Ia tak ikut jatuh terjerembab pada pecahan keramik. Elrama yang masih lengkap dengan setelan kerjanya meskipun jas yang tadi siang Ia pakai sudah tersampir di bahu kanannya. "Kamu!" Seketika rasa kantuk Tana hilang apalagi mendengar bentakan keras dari Elrama. "Ceroboh" Lagi-lagi Elrama membentak. "Gimana kalo tadi saya tidak ada kamu ikut jatuh mengenai pecahan itu?" Tana sangat takut saat ini. Elrama terlihat benar-benar marah dan itu sangat menyeramkan. "Maaf, Pak" Tana segera menunduk mencoba mengumpulkan kaca dan keramik itu. "Berdiri kamu!" Tana yang sedang panik dan kaget karena mendengar bentakan Elrama lagi, tak sengaja jari tangannya terkena pecahan kaca. "Ahh..." Rintik Tana jari tengah dan telunjuknya terasa perih. "Saya bilang berdiri, Tanayu. Jangan buat saya semakin marah" Tana menurut memilih berdiri. Elrama menggulung kemeja panjangnya sampai kesiku sambil pergi dari sana lalu kembali dengan sebuah box besar dan Vacum cleaner. Elrama mulai memunguti pecahan keramik dan kaca memasukan ke dalam sebuah box yang sudah ia siapkan. Dilanjut menggunakan vacum membersihkan pecahan-pecahan kecil yang tidak bisa diambil menggunakan tangan kosong. Tana hanya bisa diam menundukkan kepala merasa bersalah melihat bosnya sedang membersihkan kekacauan yang ia buat. Bahkan luka di kedua jarinya yang berdarah mengotori bajunya tak ia hiraukan. Setelah semua beres dan pecahan kaca itu sudah ia amankan ke belakang Elrama berniat akan langsung masuk ke dalam kamarnya. "Maafkan saya, Pak" ucap Tana menunduk takut. Elrama hanya melirik sekilas tanpa berniat menjawab. Tapi, tatapannya jatuh pada jari Tana yang terluka mengeluarkan banyak darah bahkan sampai mengotori baju dan beberapa tetes jatuh ke lantai. Menghela nafas kasar dengan suara datar Elrama menyuruh Tana mengikutinya. "Ikut saya" dengan patuh Tana mengikuti Elrama dari belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN