Mentari, Salsa dan Tata berada di caffe yang tak jauh dari kampus mereka. Ketiga perempuan ini sudah terbiasa ke tempat tersebut. Bisa di bilang tempat nongkrong mereka.
"Gila tu cowok tadi. Dia satu-satunya cowok yang enggak tergila sama lo." Seru Tata dengan senyum mirisnya.
Mentari menatapnya tajam merasa direndahkan. "Jangan sebut gw Mentari kalau tu cowok enggak jatuh cinta sama gw!" Sergah Mentari. 'Gw pastikan tu cowok nyesal melakukan semua ini sama gw.' gumam Mentari dalam hatinya.
"Lo yakin..??" Salsa tertawa. "Lagian gw rasa tu cowok super galak, ganteng sih."
"Sal, siapa nama tu cowok." Tanya tata.
"Langit." Jawab Mentari bagitu saja.
"Ciah.. udah tau aja lo namanya." Ledek Tata terkikih.
Mentari memanyun sembari menatap tajam kedua sahabatnya itu. Seakan tak terima Mentari mengajak taruhan pada Tata dan Salsa
"Lihat aja jangan panggil gw Mentari Kirani Dewi kalau enggak bisa nakluk kan cowok sejenis dia." Ujar Mentari dengan sombong.
"Buset, lo. Sombong amat." Tata tersenyum miring.
"Lo mau taruhan..!!" Tantang Mentari dengan alisnya terangkat sebelah.
"Wah.. menarik nih!! Seminggu?? Bayarannya lo kalah, lo harus nyatakan perasaan sama dia." Seru Tata
"Ingat ya lo kalah, lo harus mau rela malu satu kampus untuk nyatakan perasaan lo dengannya." Peringatan Salsa.
Mentari masih menggeram mengingat wajah Langit yang berhasil membuat moodnya tidak enak. Walau tau dia sudah memiliki pacar, itu tidak membuat ia menghentikan taruhannya.
Bukan Mentari namanya kalau tidak yakin pada dirinya sendiri. Dia selalu yakin pada kecantikan yang ia miliki untuk memikat lelaki sejenis Langit Fajaran.
"Gw balik ya." Pamit Mentari.
"Yah.. enggak asik lo." Tata bersungut. "Cepat banget lo."
"Ntar malam aja, genk. Clubing ya." Mentari bangkit dari duduknya "Seriusan. Gw apartemen lo ya." Sahut Salsa
"Dateng aja." Jawabnya lalu pergi.
Diperjalanan pulang ke apartemen, entah bagaimana Mentari benar-benar merasa sial kembali bertemu pria yang membuat moodnya kurang baik.
"Anjrit..!!" Umpat Mentari didalam mobilnya. "Itu kan cowok tengil tadi."
Mentari melihat Langit bersama seorang wanita paruh bayah memasuki rumah sakit miliknya. Sekedar informasi ayah Mentari adalah seorang dokter kepala sekaligus pemilik rumah sakit tersebut.
"Ngapain tu orang ke rumah sakit." Sebuah ide melintas di otaknya."Apa gw pura-pura ketemu bokap aja. Tapi kan bokap lagi di bangkok. Ah.. bodoh amat."
Gadis dua puluh tahun itu dengan kekuasaannya ia masuk ke rumah sakit, diam-diam dia mengikuti langkah Langit. Sementara perempuan paruh bayah itu, dia masuk keruangan dokter.
Mentari benar-benar sudah seperti detektif dengan kaca hitamnya, menguntit Langit terus menerus. Ia tidak ingin kehilangan jejak Langit.
Namun ia melengah, pandangannya tidak dapat melihat bayangan Langit lagi yang tadinya tidak jauh dari Mentari.
"Ck." Decak kesal Mentari dengan hentakan kakinya. "Ih.. pakai acara hilang lagi. Sia-sia gw disini."
"Cari siapa lo." Terdengar suara menggelegar dari belakang punggung Mentari.
Mentari terjengkit mengetahui jika langit saat ini berdiri dibelakangnya, ia menoleh kebelakang, Apalagi posisi Mentari nyaris terjatuh. Untungnya Langit dengan cepat merengkuh tubuh Mentari agar tidak terjatuh di lantai.
Ia merasa waktunya terhenti, ketika menatap Langit dengan jelas. Tampilan yang gagah dengan jaket jeans yang digunakannya, Apalagi dengan parfum yang bisa membuat dirinya memukau seketika.
"Lo sampai kapan di pelukan gw." Ucap Langit dengan angkuh.
"Ih.. Najis. Gw juga enggak mau lama-lama dipelukan lo." Mentari spontan mendorong tubuh gagah Langit hingga termundur ke belakang.
"Baguslah kalau lo sadar." Langit menepis tubuhnya yang tersentuh dengan Mentari.
Mentari melotot dengan prilaku Langit yang menjengkelkan untuknya. "Lo--"
"Beraninya lo! Gw bukan suatu yang menjijikkan." Mentari menunjuk telunjuknya kearah Langit dengan teriakannya.
"Ssttt.." Langit menutup mulut Mentari dengan tangannya. "Lo tau enggak ini rumah sakit. Lo mau di usir gara-gara teriakan lo yang enggak jelas itu."
"Enggak akan ada yang berani ngusir gw dari sini." Pongah Mentari dengan mendongakan kepalanya.
"Gw enggak ada waktu ngurus perempuan enggak bermutu kayak lo." Langit berkata dengan muka datarnya.
Seperti biasa dirinya meninggalkan Mentari begitu saja. Tanpa menoleh kearah perempuan cantik itu.
"O.. My God. Gw cincak dia baru tau rasa." Greget Mentari dengan geram.
***
Mentari melempari dirinya sendiri di ranjang miliknya, ia telengkup dengan memainkan ponselnya. Sialnya.. otaknya masih memikirkan pria yang di anggap sama sekali tidak bertau diri.
Bukan tak tau diri, lebih tepatnya tidak perduli dengan dirinya. Sikap arogan yang di tunjukkan Langit membuat Mentari sangat terusik.
Dirinya benar-benar bersumpah akan membuat Langit jatuh cinta padanya. Dan mengakui jika dirinya memang cantik dan pantas untuk di puja para kaum adam.
Untuk pertama kali seorang pria berhasil membuat Mentari uringan tak menentu saat ini.
Ting..
Sebuah notif grup w******p dari genk pretty di ponsel miliknya. Ya.. Genk pretty yang terdiri dari Mentari, Salsa dan Tata.
Salsa
Jadi clubing?
Tata
Men, gw on the way apartemen lo nih.
Mentari
Ya..
Salsa
Lo kenapa? Masih mikirin calon pacar.
Tata
Hati-hati lo yang di yogya ngamuk.. hahaha
Mentari
Tai lo berdua..
Mentari menunggu Salsa dan Tata untuk pergi dugem bersama. Tak lama menunggu ponsel berdering mendapatkan sebuah panggilan.
Drrtt.. Drrttt..
"Hmmm.. Halo." Jawab Mentari dengan suara tak bersemangat.
"Jawabnya lemas banget." Suara pria dari seberang sana. "Kamu lagi sibuk."
"Enggak."
"Lalu."
Ketika Mentari masih dalam keadaan menelpon kedua sahabatnya datang dengan sorak riang. "Men--"
"Sstttt." Mentari meminta kedua untuk tidak berisik.
"Arga." Salsa berkata tanpa bersuara tapi Mentari mengerti bahasa Salsa, ia pun mengangguk.
Argani Pradika pacar Mentari setahun belakang ini, dia pria asal Jakarta namun memutuskan kuliah di Jogja. Bertemu Mentari tanpa sengaja saat di jakarta.
Hubungan mereka memang sudah berjalan setahun itu karena ldr, Arga tidak pernah tau kelakuan Mentari di Jakarta seperti apa. Apalagi dengan ketidak setiaan Mentari.
Memang Mentari tidak memacari mereka, tapi perempuan itu suka memberi harapan lalu mencampakan seperti sebuah sampah.
Apalagi ia merasa belum pernah mendapat chemistry bersama Arga. Walau begitu ia tetap a fun dengan hubungannya.
"Aku mau pergi sama Tata dan Salsa. Udah ya.. bye." Tutup Mentari.
Mentari bangkit mengganti pakaiannya untuk bersiap pergi bersama kedua sahabatnya. Perempuan itu berpenampilan secantik mungkin.
Ini bukan pertama kalinya seorang Mentari pergi ke sebuah klubing. Untuk Mentari minuman, rokok itu hal biasa.
Ya.. mungkin Mentari kekurangan kasih sayang orang tuanya selalu sibuk sendiri, hingga dirinya sendiri memutuskan untuk pergi tinggal di apartemen sendiri.
"Men, lo yakin sama taruhan tadi siang." Tanya Salsa di dalam mobil. "Ini seminggu loh.."
"Lo liat aja nanti." Ucap Mentari bersender di bangku depan.
"Gimana kalau kita beri waktu tiga minggu. Menurut lo gimana, ta?" Ucap salsa pada Tata yang menyentir.
"Seterah lo pada." Balasnya.
***