"Mentari." Arga terkejut dengan membuka sarung tinjunya mulai dari kanan lalu kiri. "Sejak kapan ada disini. Kenapa kamu enggak kabari aku dulu." "Aku mau ngomong penting." Ucap Mentari yang raut mukanya berusaha menyembunyikan rasa gelisahnya. "Ngomong apa?" Arga meneguk minumnya hingga tandas. Tubuhnya bercucuran keringat membuat laki-laki itu semakin tampan namun terbiasa di mata Mentari. Mentari berusaha mengumpulkan kata-kata yang mungkin tepat untuk mengatakannya. "Aku mau kita selesai." Mentari berkata dengan hati yang mantap. Arga menatap Mentari tajam, ia seakan mendapat kesialan bertubi. Baru saja ia kalah dari balap dan kali ini ia harus mendengar Mentari ingin mengakhiri hubungannya. "Kalau kamu ingin bercanda ini sama sekali enggak lucu." Cerca Arga pada Mentari. "Aku l

