Langit mengikuti kemauan Mentari untuk tinggal di apartemennya, lebih tepatnya terpaksa. Mau bagaimana lagi, dia tidak punya pilihan lain menghadapi Mentari yang kepala batu. "Apartemen lo kamarnya berapa." Tanya Langit dengan menyeret koper ditangannya. "Satu, kenapa lo enggak rela sekamar sama gw. Lo lupa tadi malam juga kita sekamar." Gumam Mentari membuka pintu kamarnya yang lumayan luas. "Ini kamarnya dan kita berdua bisa melakukan apa pun disini. Kan sudah halal" Goda Mentari memeluk Langit dari belakang yang sudah sah menjadi suaminya. "Jangan gila lo!! Gw nikah sama lo karena papi." Langit cepat melepaskan pelukan Mentari. Mentari cembrut dengan kesal, sikap dingin Langit membuatnya ingin mencekik leher lelaki itu. Ia pergi menghentakkan kakinya dengan kuat lalu meninggalk

