Bagian 15 ~ Perjalanan Pertama Dengan iguana

2191 Kata
Sabtu, 10 Juli 2020 Malam sudah turun total, Edward mulai membakar persediaan makanan yang diberikan oleh Anna. Luka Logan dan Harry sembuh lebih cepat dari biasanya, Travold membantu Edward untuk menyiapkan makan malam kami. Kami memilih untuk beristirahat di dekat air terjun, sembari menikmati pemandangan malam yang benar-benar indah. Namun, aku sedikit bersalah karena membentak Travold tadi. Mendesaknya untuk membantu Harry. Sejujurnya, aku penasaran dengan wujud asli Travold. Sebelumnya, dia juga tidak menjawab pertanyaan dari Harry. Aku memperhatikan kalung pemberian Anna, sejak kalung ini bisa berbicara dan memanggilku putri. Aku masih belum memberitahu siapa-siapa, aku yakin mereka akan menertawakanku jika aku memberitahu bahwa kalung ini adalah kalung ajaib. “Tapi, apa yang kalian lakukan di dalam air itu Harry? Kenapa tiba-tiba iguana tadi naik ke permukaan dan seolah merasa bersalah telah menyerang kita?” Aku bertanya pada Harry yang masih kebanyakan diam sejak tadi. Sepertinya dia cukup traumâ tadi. “Aku juga tidak tahu apa yang membuat dia tiba-tiba berhenti untuk menyerang kami. Itu terjadi begitu saja.” “Tapi, kenapa kau tiba-tiba melompat ke dalam air?” “Logan memanggilku!” “Itu adalah komunikasi di antara klan siren Kirey, jika dalam keadaan terdesak atau apapun. Kami bisa mengeluarkan suara itu untuk meminta bantuan. Beruntung Harry lekas datang membantuku, jika tidak, aku yakin aku sudah tidak berdaya lagi melawan iguana itu!” jelas Logan, ikut dalam pembicaraanku dan juga Harry. Sejak kejadian tadi sore, Logan memang sedikit lebih terbuka padaku. Tidak memasang wajah datarnya lagi seperti biasanya. Sejujurnya aku juga tidak terlalu peduli akan hal itu, namun aku jadi merasa bahwa Logan tidak menyukai keberadaanku sebelumnya. Namun, setelah mendengar penjelasannya. Dia memang sering memasang wajah seperti itu, dan itu seolah sudah menjadi kebiasaannya. “Apa yang kalian lakukan di dalam air itu sebelumnya?” “Kami berenang ke dasar, menghindari serangân dari iguana itu. Harry datang dan menyerâng iguana itu dari belakang sebelum dia mėmbunuhku. Dia berbalik dan menyerang Harry, aku naik ke permukaan karena tubuhku tidak bertahan dalam bentuk siren. Dan setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi pada Harry! Karena iguana itu mengejarnya kemanapun Harry berenang!” jelas Logan, menatap Harry dengan tatapan bersalah “Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku seolah melihat ada makhluk lain yang datang. Lalu iguana itu berhenti menyerangku dan malah membawaku yang terlempar membentur batu menuju permukaan!” Harry menambahkan Aku terdiam, “Mahluk? Apa kau sempat melihat bagaimana bentuknya?” Harry menggeleng, aku berhenti bertanya karena Edward sudah memanggil kami untuk makan malam. Dengan patuh, kami merapat ke arah Edward. Suasana kembali hening, aku memberikan setengah dari jatahku pada Harry karena dia terlihat sangat lapar dan bahkan menghabiskan dagingnya dengan sangat cepat. “Seharusnya kita membawa alat-alat camp Kirey, setidaknya daging ini tidak hanya dibakar saja. Tapi bisa digoreng dan diberi penyedap rasa. Itu akan jauh lebih nikmat daripada hanya memakan daging gosong ini!” Harry lagi-lagi cerewet “Kita tidak sedang berada di bumi Harry, jangankan alat camp. Pakain saja hanya yang kita pakai ini!” aku menjawab pertanyaan menyebalkan Harry. “Sudah, makan saja dan tidak usah banyak komentar. Kita disini tidak sedang camping, tapi bertahan hidup. Jangan terlalu banyak mengharapkan sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan disini!” Edward akhirnya membuat mulut nyinyir Harry terdiam. Malam semakin larut, kami mendekat ke arah api unggun untuk menghangatkan badan. Kabut terlihat semakin jelas, membuat udara semakin lembab. Dan itu bukan kabar baik, pakaianku sangat tipis. Meskipun sangat nyaman dan tahan dari goresan, tetap saja pakaianku tidak bisa menahan angin malam yang mulai menusuk sampai ke tulang-tulang. Tidak berbeda jauh dengan Harry dan Logan, karena pakaian mereka rusak ketika mereka berubah menjadi siren. Jadilah mereka mengenakan pakaian kami apa adanya. Setidaknya bisa menutupi aurat mereka. “Kita harus melanjutkan perjalanan, kita masih punya waktu untuk berjalan!” Travold tiba-tiba berdiri dan mendesak kami untuk tetap melanjutkan perjalanan. “Ayolah Trav, besok pagi saja kita melanjutkan perjalanan. Malam begini pasti lebih banyak mahluk asing yang berkeliaran. Kita beristirahat saja untuk malam ini. Logan dan Harry juga butuh tidur untuk memulihkan keadaan mereka. Meskipun luka mereka cepat sembuh, tapi untuk pemulihannya masih membutuhkan waktu. Sebelumnya juga Lebo sudah mengingatkan agar mereka tidak terlalu banyak terbentur!” Edward menahan Travold. Travold sekilas menatapku, menatap ke arah kalungku yang lagi-lagi mengeluarkan sinar. Aku juga ikutan menatap kalungku, lalu dia segera kembali duduk. “Baiklah, aku rasa kamu benar. Kalau begitu, kita akan tidur bergilir saja. Aku akan berjaga sampai pukul 1 nanti, setelahnya kau dan Kirey lalu disusul dengan Logan dan Harry.” Semua setuju, aku lekas mengambil tempat yang sedikit nyaman. Mulai merebahkan badanku yang terasa sangat lelah, lalu tidak lama. Aku langsung menuju ke alam mimpiku. *** Aku terbangun begitu Edward menggoyangkan badanku, aku lalu menatap Ed. Wajahku masih terlihat kusut, tidak berbeda jauh dengan Edward. Aku  menatap rasi bintang yang sedikit terlihat dari celah pepohonan, sepertinya ini memang sudah waktunya bagi kami untuk berjaga. Aku berdiri dan merenggangkan badanku, perasaanku jauh lebih segar pagi ini. Travold segera berbaring di atas daun tempat Ed tadi, lalu tidak membutuhkan waktu lama. Dia segera tertidur meski terlihat kedinginan. Aku dan Ed memutuskan untuk mencari ranting pohon lebih dulu, kami mendapat banyak. Aku memasukkan ranting itu ke perapian, cukup lumayan. Udara di sekitar kami terasa lebih hangat dan itu sepertinya membantu Travold. Aku duduk di tepi aliran air terjun, air itu masih mengeluarkan warna ungu. Itu indah sekali, dan membuatku tidak bisa memalingkan wajahku. “Indah sekali bukan? Rasanya kita sedang berada di dunia avatar saat ini!” Aku terkekeh mengangguk, salah-satu film favoritku dengan Edward. Dunia itu memang sangat indah, dan sakin indahnya. Kami sering bepergian ke singapura, karena di sana ada tempat yang dibuat mirip dengan dunia di Avatar. Dengan nuansa ungu yang terlihat menawan di malam hari, siapa saja pasti akan betah berada di sana. “Terlepas dari monster besar di dunia ini, hal ini pasti akan sangat menakjubkan!” Kami berdua diam lagi, tidak banyak berbicara. Sesekali Ed akan berlari dengan menggunakan kemampuan vampirenya dalam radius beberapa meter ke depan. Setidaknya kemampuannya itu sangat berguna di saat-saat seperti ini. Ed akan tau apa yang ada di depan sana, apakah ada monster dengan ukuran raksasa lagi atau apa. Dan jika ada, kami bisa lebih dulu berkemas dan meninggalkan tempat ini. Ed kembali, setelah memeriksa keadaan sekitar. “Ide ini cukup bagus juga Na, badanku jauh lebih hangat dengan berlari!” “Hitung olahraga juga, kau kan juga sangat jarang olahraga Ed!” “Ya, setidaknya aku berolahraga di sini!” Aku tertawa pelan, lalu menikmati pemandangan di depan. Aurora masih kelihatan, meskipun tidak terlalu jelas karena terhalang pohon besar. Tapi aku masih bisa melihatnya. Air terjun berwarna ungu dan perapian yang menghangatkan tubuh. Jujur saja, ini adalah pengalaman paling menyenangkan sepanjang aku pernah menjelajah di planet bumi. “Tapi Kirey, apa kau tidak curiga melihat Travold tadi pagi saat berada di rumah Lebo? Maksudku sebelum kita pergi dari sana. Dia bangun lebih dulu dan ada bercak darâh di bajunya. Apa kau tidak melihatnya?” bisik Edward pelan Aku menatap Ed, “Aku dan Harry juga melihatnya, sedikit curiga juga. Namun mencurigai teman di saat seperti sekarang ini bukanlah waktu yang tepat Ed. Kita harus segera memikirkan apa yang akan terjadi nantinya. Apa kau antusias menuju perjalan ke arah klanmu nantinya Ed?” Edward mengangguk, “Terlepas dari itu, aku memang sangat antusias dengan perjalanan menuju klan Vampire. Aku ingin tau seperti apa kehidupan di sana dan juga istananya. Apa mereka akan menyambut kedatangan kita seperti di klan werewolf atau malah mengusir kita. Aku juga memikirkan hal itu sejak perjalanan ini dimulai!” “Bagaimana jika kita tidak terima di klanmu itu?” Ed menaikkan bahuku, “Kita bisa apa jika begitu? Hal yang harus kita lakukan hanya bisa terus melanjutkan perjalanan, setidaknya klan Siren masih ada sebagai tempat tujuan kita!” Aku setuju dengan ucapan Ed, awalnya aku ingin membangunkan Harry dan Logan agar bergantian untuk berjaga. Namun melihat Harry, suhu tubuhnya tidak stabil. Aku mengurungkan niatku dan memutuskan untuk lanjut berjaga dengan Edward. Semakin pagi, udara terasa semakin menusuk ke tulang. Aku menambah ranting dan duduk di dekat api. Untuk menghangatkan tubuh. Travold sudah bangun pukul 4 pagi dan berjaga bersama dengan kami. “Matahari akan segera muncul, itu akan menjadi indah sekali!” ujar Travold “Apa kau pernah melihat sunrise di tempatmu ini Trav?” tanya Ed Trav mengangguk, “Aku pernah mencuri waktu hanya untuk melihat matahari terbit. Itu sangat indah, beberapa menit lagi sepertinya matahari akan terbit. Kau bisa membangunkan Logan dan Harry agar menyaksikannya juga!” Edward segera berjalan menuju tempat Harry dan Logan, membangunkan mereka berdua. Logan dengan sigap bangun dan bergabung dengan kami setelah mencuci wajahnya di tepi air terjun. Harry terlihat merengek dan menghempaskan tangan Edward, dia berguling mendekati api dan tetap tertidur. Sampai saat Edward membangunkannya dengan paksa, barulah Harry mau bangun. Wajahnya kesal karena Edward yang membangunkannya. Namun, aku lekas menarik Harry untuk membersihkan wajahnya. Lalu duduk bergabung bersama dengan kami. Travold benar, melihat matahari mulai terbit dari gunung jauh di depan kami, adalah hal yang begitu indah. Aku bahkan sampai tidak bisa menahan rasa kagumku ketika melihat matahari terbit. *** Kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke arah timur laut. Menuju klan vampire yang sepertinya masih sangat jauh. Namun kali ini, kami tidak berjalan kaki. Kami menunggangi iguana yang sebelumnya masuk ke dalam kalung pemberian Anna. Awalnya aku tidak yakin dengan usul Harry yang terkesan tidak masuk akal. Dia memintaku untuk menyuruh iguana itu keluar dan menungganginya sebagai pengganti dari jalan kaki. Dia terus mendesakku, dan di tengah perjalanan. Aku berbicara dengan iguana itu. Dan tidak lama, cahaya silau melingkupi kami. Iguana besar yang sebelumnya menyerâng kami sudah berada di depan kami. Aku kembali menyatukan kening kami, mengutarakan permintaanku. Dan iguana itu malah terlihat senang dan tidak keberatan dengan permintaanku. Dan pada akhirnya, kami sudah berada di atas tubuh iguana besar itu. Berlari melewati hutan-hutan dan semak belukar yang semakin lebat. Aku duduk paling depan, dekat dengan kepala iguana. Sesekali aku mengelus leher iguana yang kami tunggangi. Sesekali kami berhenti ketika Travold sedikit kesulitan untuk menyesuaikan kami dengan peta. Matahari sudah berada di atas kepala, Travold memberi perintah agar kami berhenti lebih dulu. Aku mengelus leher iguana kami, lalu seolah tau dengan apa keinginanku. Dia sudah berhenti, merendahkan tubuh raksasanya agar kami bisa turun. Aku menyatukan kening kami, memberi ucapan terimakasih karena sudah membantu perjalanan kami. Iguana itu sepertinya tidak keberatan, malah dia sepertinya terasa senang dengan perjalanannya. Hewan besar itu masuk ke dalam sumber air yang tidak jauh dari kami, mencelupkan tubuh besarnya yang kemudian menghilang di dalam air. “Hewan di dunia ini memang benar-benar unik dan berbeda. Biasanya iguana yang ada di bumi kita tidak pernah menyukai air, bahkan mereka cenderung menghindari air. Namun kali ini, aku baru melihat dia menyukai air!” jelas Harry “Aku yakin bentuknya saja yang mirip dengan iguana Harry, dia juga tidak memiliki duri yang atas badannya seperti iguana di bumi kita. Aku rasa, dia hanya mirip dengan hewan itu saja!” “Tidak ada yang bilang dia itu memang iguana, hanya karena kita tidak tau saja maka aku bilang dia itu iguana. Sudah—cukup!” Harry mengangkat tangannya di atas kepalaku, “Tidak usah memperpanjang masalah!” Aku berdecak sebal, lalu ikut bergabung dengan Ed yang sedang mengambil air. Iguana itu terlihat berenang di dalam. Ekor besar nan panjangnya membantu Ed untuk mengambil air segar, aku sesekali menyentuh ekor panjangnya yang terasa licin jika berada di dalam air. “Kita istirahat untuk makan siang dulu, baru akan melanjutkan perjalanan. Sepertinya kita berada di jalan yang tepat!” ujar Travold yang sudah mulai menyiapkan kayu bakar “Kenapa hutan di depan kita terasa jauh lebih menyeramkan Trav? Apa kau yakin kita berada di jalan yang tepat?” tanya Harry “Klan vampire biasanya tinggal di dalam hutan, dari apa yang aku pernah dengar dari tetua di klan kami. Mereka bilang klan itu cenderung lebih menutup diri daripada klan lainnya. Tapi tetuaku bilang klan itu masih sekutu dari klan werewolf. Dalam perâng besar ribuan tahun lalu, mereka juga membantu klan sekutu untuk mengalahkan para pemberontâk itu! Hanya saja, mereka menyukai tempat yang cukup tersembunyi dan terkesan tidak tersentuh dengan klan lainnya!” “Itu sepertinya akan menyenangkan!” ujar Harry dengan raut wajah yang berkebalikan dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Aku menatap air di sebelah kami mulai surut, tidak lama iguana kami naik ke permukaan. Aku lekas mendekatinya, namun Travold menahanku. “Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia muntahkan, kita harus menjauh!” Kami menjauh, dan benar saja. Iguana kami itu langsung memuntahkan beberapa jenis ikan besar tidak jauh dari perapian. “Wow!” ujarku, ikan itu cukup besar dan segera. Iguana itu kembali ke darat, aku mendekatinya dan menyatukan kembali kening kami. Sepertinya dia begitu senang dengan ikan yang dia dapat. “Terimakasih, kau sepertinya paham aku ingin ikan segar!” ujar Harry yang terlihat antusias melihat ikan itu. Aku tersenyum menatap iguana itu, lalu mengelus lehernya. Dia mengeluarkan suara, lalu kembali memasuki air itu lagi. Aku menatap iguana itu yang memainkan air, seolah memintaku untuk bermain. Aku tersenyum, lalu meninggalkannya seorang diri dan membantu Ed dan Travold membakar ikan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN