Kamis, 22 Juli 2021
Kedatangan kami sepertinya sudah terdengar sampai ke seluruh penjuru klan ini. Para klan vampire itu bahkan masih sempat-sempatnya untuk melihat kami dibawa masuk ke dalam kerajaan. Dari sepanjang jalan hingga di depan pintu kerajaan. Namun anehnya, satupun dari mereka tidak ada yang hêboh atau mengeluarkan suara. Hanya tatapan saja yang terlihat mengerikân. Aku menghela nafas, terkadang makhluk yang tidak dianggap ada, lebih tertib dari pada manusia. Aku yakin, jika ini dibumi dan mereka—masyarakat klan vampire—adalah manusia bumi. Aku sudah 100% yakin mereka akan meneriâki kami dengan heboh dan merekam dengan ponselnya. Lalu mengunggahnya ke berbagai media sosial, dan ya, semua itu juga akan ditonton oleh manusia lain yang benar-benar tidak punya pekerjaan selain melihat video unfaedah itu.
Aku menatap ke depan, kerajaan klan vampire ini terlihat sangat besar. Seperti kerajaan film Disney ‘Beauty and the Beast’, aku tidak bėrbohong. Istana ini begitu luas dan besar, namun aku bisa merasakan aura hitam di dalam gedung ini. Panglima Zu tetap menuntun kami agar memasuki istana dengan kasar. Sesekali Harry berdecak tidak suka dan protes jika Zu mendorongnya, lebih tepatnya, mendorong bokŏng Harry dengan paksâ.
“Sepertinya kau harus memperbesar ukuran bŏkongmu Harry, agar ketika didorong tidak sakit. Bŏkongmu hanya ada tulang!” seru Logan
Aku menahan tawa, Logan benar-benar membuat suasana menegăngkan ini menjadi sedikit lebih rileks. Terlebih saat melihat Harry dengan wajah kesălnya. Harry memang sudah ditakdirkan untuk tabah dan memiliki kesabaran yang lebih banyak dari kami. Kemarin Zespri méngejek wajah minimalisnya dan sekarang Logan mengejék bŏkong tipis Harry. Aku lalu menatap Edward yang tetap berjalan di sebelahku, Travold berjalan di belakang. Zanuar tidak ikut, dia menghilang begitu kami hendak pergi. Dia hanya menyuruh kami untuk menunggu, dan aku tidak tahu apa yang harus kami tunggu.
Kami tiba di pintu besar dan berhenti, aku yakin itu adalah pintu utamanya. Penjaga di depan pintu itu segera berdiri dengan tegap dan memberi hormat pada Zu. Mereka berbicara pelan, sesekali penjaga pintu itu menatap ke arah kami, lalu pintu besar itu terbuka. Aku tidak bisa menutup mataku, desain interior istana ini benar-benar indah dan menakjubkan. Dengan sosok mistérius duduk di tengah ruangan mewah itu dengan singsananya yang tinggi. Membedakan singgasana itu dari tempat lainnya. Dengan mudah aku bisa menebak bahwa sosok itu sepertinya Raja muda yang disebutkan oleh Zura.
Namun, kami tidak memasuki ruangan utama itu. Kami berjalan dari pinggir, sesekali aku menatap sosok mistérius itu. Ya, aku mengatakannya mistérius karena seluruh wajahnya tidak terlihat, kepalanya ditutupi oleh tudung panjang dan membuat wajahnya tertutup serta, dia juga mengenakan penutup mulut. Apa itu masker? Ayolah, kenapa dia harus mengenakan masker? Aku yakin di dunia ini tidak ada korona seperti di bumi.
“Jangan tatap dia Kirey!” bisik Edward menyenggol bahuku, aku lekas mengalihkan perhatianku darinya dan menatap lurus ke depan.
Selagi kami berjalan, beberapa tatapan tertuju dengan jelas pada kami. Seolah tahu bahwa kami sepertinya adalah buronän. Kami berhenti di sebuah ruangan lagi, panglima Zu berhenti di depan pintu itu dan kembali bercakap-cakap dengan penjaga pintu. Pintu itu dibuka, aroma busŭk dan bäu bängkai langsung menyambut indra penciumanku.
Aku menatap lurus ke depan, aku menghela nafas käsar, tepat di depan kami ada beberapa ternäk yang juga sedang menatap kami. Zu lekas menutup pintu itu lagi dengan raut wajah märah-märah, dia kembali membawa kami pergi dari ruangan itu. Aku sedikit menghela nafas legah, setidaknya kami tidak akan dimasukkan ke dalam kandang hewan yang begitu bau itu. Zu kembali berhenti di depan salah satu ruangan yang paling jauh. Letaknya tepat ada di ujung bangunan utama, dan pintu itu dijaga oleh sosok yang juga místerius. Mereka mengenakan jubah yang menutupi mata mereka, namun masih lebih mending karena bibir dan juga hidup mancungnya masih terlihat. Tidak seperti sosok tadi.
“Masuk, sebelum perintah Raja turun atas kalian. Untuk sementara waktu dalam waktu yang tidak ditentukan. Kalian akan berada di dalam ruangan itu lebih dulu, jangan harap bisa kabur dari sini!”
Begitu pintu itu terbuka, aku langsung merasakan dorongan di tubuhku dan aku terjatuh ke depan. Tidak hanya aku, Harry dan yang lainnya juga sama. Harry yang pertama berdiri lekas berjalan ke arah pintu. Bruk—sayangnya, pintu itu sudah lebih dulu tertutup dan membuat kepala Harry teräntuk. “Aishhh, dasar sialän. Kenapa cara kalian itu selalu saja käsar hah? Apa kalian tidak punya makanan? Aku lapar sekali, hey, Zoooooo!” teriak Harry
“Diamlah, dan jangan membuat keributan jika kalian masih ingin hidup! Namaku Zu, bukan Zoooo”
Harry menendang pintu itu kuat, namun kakinya yang lagi-lagi menjadi korbän. Dia mengerang kesakitan dan duduk di sebelahku. Aku menatap Harry, Edward, Logan dan juga Travold. Mereka terlihat päsrah dengan keadaan ini. Aku menghela nafas, “maaf!” seruku pelan.
Namun mereka tetap menyadari ucapanku barusan, semuanya menatap ke arahku. “Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak ingin hal ini terjadi, aku seharusnya tidak membuat keputusan bŏdoh ini. Travold benar, aku hanya membuat keadaan semakin rumit. Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti ini! Aku tidak tahu jika Zura, Zespri dan Zanuar akan meninggalkan kita seperti ini. Maafkan aku, aku—!” aku terisak, air mataku yang sejak tadi sudah aku tahan sekuat tenaga akhirnya mengalir lagi. Selama di perjalanan menuju ke kerajaan ini, aku benar-benar menyesali keputusan yang sudah aku perbuat.
Jika saja aku mendengarkan Travold saat itu, mungkin ini tidak akan terjadi dan aku sadar air mataku tidak akan mengubah apapun. Termasuk keadaan kami saat ini.
Edward terlihat kecewä denganku, dia diam sejak tadi. Hanya Harry yang tetap membuat lelucon agar aku tidak merasa bersalah. Travold berdiri dan bersandar pada tembok, Logan juga tidak menganggapku. Dia diam sembari menatap pantulan cahaya yang menerobos lewat tembok berlobang. Kami tėrkurung di dalam ruangan sempit, tidak ada apa-apa dan ruangan ini lembab. Mirip seperti penjarä bawah tanah, namun ini versi lebih bersih.
Karena Edward juga diam, aku tidak lagi berbicara. Aku memilih untuk duduk menyandar pada Harry, meskipun Harry memang ikut kecewa dengan keputusanku. Tapi dia tetap menghiburku dan tidak menyalahkan keputusanku. Sama seperti dulu juga, namun saat ini Edward tidak ikut. Aku yakin dia pasti kecewa berat padaku. Aku terdiam merenung, jika aku tidak berbalik dan memilih untuk menyelamatkan Zura. Kemungkinan kami sudah berada di perbatasan dan keluar dari klan vampire ini dengan selamat. Sayangnya aku terlalu bebäl dan tidak ingin mendengar nasehat orang lain. Hingga pada akhirnya aku menyesäli sendiri keputusan yang aku buat ini.
***
Cahaya matahari yang tadi masih terlihat di dalam ruangan mulai menghilang. Cahaya itu digantikan dengan kegelapän. Aku sadar bahwa saat ini sudah larut malam dan kami masih tetap berada di dalam ruangan ini. Sesekali Harry berteriak ke luar untuk meminta makanan, namun sama-sekali tidak ada yang memberikan responnya. Kami tidak punya makanan di dalam ruangan ini, dan kami berlima kelaparan. Terlebih aku, sejak melakukan rituäl itu, aku sama-sekali tidak makan hingga detik ini. Keringat di dahiku mulai keluar dan membasahi dahiku, perutku sejak tadi sudah kelaparan. Aku sendiri sudah tidak lagi peduli jika mereka mendengar suara perutku.
Aku menatap Logan yang sudah tertidur dengan damai, meskipun sesekali dia bergerak tidak nyaman karena perutnya yang berbunyi kelaparan. Travold berulang kali mencoba untuk menggunakan kemampuan menghilangnya, namun sebanyak dia mencoba, sebanyak itu juga dia gagal. Dia bilang ada yang melindungi ruangan yang kami tempati saat ini. Edward menatap ke arah lubang, sejak tadi dia masih tidak berbicara denganku. Aku bangkit berdiri, lalu menatap cahaya bulan yang terlihat bercahaya dari luar. Ini sudah semakin larut dan kami benar-benar tidak diberi makan. Ini lebih menyiksa dari apa yang aku bayangkan. Travold terlihat sudah menyeräh untuk mencoba, dia sudah duduk bersandar dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya.
Sepertinya mereka memang ingin memberi kami pelajaran untuk saat ini. Aku merasakan para iguanaku yang berada di dalam kalungku terlihat resäh. Aku meraba kalungku, berusaha untuk memberi mereka ketenangan. Pintu di depan kami terdengar mengeluarkan bunyi, Harry yang belum tidur lekas berdiri dengan cepat.
Was-was.
Begitu pintu terbuka, yang muncul adalah sosok lelaki misteríus yang berjaga di depan pintu tadi. Di tangannya ada beberapa jenis makanan dan juga buahan. Wajah Harry yang tadi was-was lekas berubah 180 derajat, dia segera maju dan hendak mengambil nampan berisi makanan itu.
Pruk—kepala Harry dípukul dengan sendok yang dipegang oleh lelaki mĭsterius itu. Harry meringis dan dengan kesal langsung meräjuk, duduk di sebelah Logan yang sama-sekali tidak bangun. Tidurnya sangat pulas meskipun perutnya keroncongan. Mungkin kami harus berguru pada Logan, karena masalahnya aku, Harry dan juga Edward tidak bisa tidur dengan kondisi perut kosong. Itu lebih menyiksa jika dibawa tidur.
“Silahkan Edward, raja memberi ini pada kalian!”
Aku menatap Edward yang juga bingung, namun dia tetap melangkah mendekat dan meminta nampan itu. Para penjaga itu lekas pergi dan kembali menutup pintu ruangan kami. Aku menatap Edward, dia menatap makanan di depan kami dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Kenapa lama sekali? Sini, aku ingin makan—!”
Bruk—kepala Harry kembali dipukul oleh Edward dengan sendok tadi. Aku menatap wajah Harry yang sudah memerah, “Ahhhh, kenapa sih Ed? Kenapa kau ikut-ikutan memukul kepalaku? Apa Kirey yang menyuruhmu untuk melakukannya?”
“Eh, kenapa denganku lagi? Aku bahkan tidak berbicara sejak tadi!” tolakku
“Ya, aku tidak tahu akan hal itu. Kalian menyebälkan dari kemarin, imunku naik turun karena kalian!”
“Tidak, kita ini adalah tahänan Harry. Aku tahu bahwa setiap tahänan diberikan makanan, namun, aku tidak pernah melihat ada makanan semewah ini untuk ukuran tahanan seperti kita. Terlebih lagi, jikalaupun ini adalah standar makanan tahänan di sini, aku tidak yakin ini bisa dimakan atau kita dijebak!” seru Edward. Masuk akal dan juga sesuai dengan apa yang aku pikirkan sebelumnya.
Edward menatapku, lalu memberikan buah-buahan di atas nampan itu padamu. Aku mengerutkan kening, “Kau pasti bisa merasakan apakah buah ini mengandung räcun atau tidak, bukan begitu Kirey?”
Aku memutar bola mata malas, “tidak begitu konsepnya Ed. Aku bisa mendengar suara alam yang memang masih berada di alam. Bukan yang sudah terpisah dari alam, seperti buah ini!” aku menggeleng menatap Edward “Lagipula aku tidak bisa sembarangan melakukan hal itu. Klan ini banyak menyerap tenagaku!”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengetes makanan ini beräcun atau tidak?”
Travold yang sejak tadi diam ikutan berdiri dan bergabung dengan kami. Sementara Logan masih belum bangun, dia masih tidur. Travold mencium makanan itu bergantian, “aku tidak menemukan ada yang aneh di dalam makanan ini. Aku pikir mereka memang memberikannya pada kita. Tapi, sepertinya aku ada ide!”
“Ah, apa kau bisa membuka kain putihmu Kirey? Aku membutuhkannya!” ujar Harry lebih dulu, Travold yang hendak angkat bicara diam sembari menatap Harry.
Aku menatap baju dalamku, lalu mengambil kayu runcing yang ada di sudut ruangan dan merobeknya. Aku mengenakan jubah pemberian Edward, dan memberikan kaosku tadi pada Harry. Aku menatap Harry yang mengambil salah-satu sampel makanan, lalu mencelupkannya pada air sebentar dan menaruhnya di atas kaosku tadi. Dia mengambil buah, memotongnya dan memeras air di dalamnya dan meneteskannya pada potongan roti itu. Aku tidak tahu jenis apa buah itu, aku rasa itu adalah buah khas yang ada di dimensi ini.
Harry menunggu beberapa menit, lalu tidak terjadi apa-apa. “Makanan ini aman, tidak beracun. Jika dia mengandung räcun, maka warnanya akan berubah jika ditetesi dengan kandungan buah ini. Aku rasa buah ini mengandung kandungan asam rendah!” seru Harry lalu memakan roti itu lebih dulu
“Penjelasanmu hampir sama denganku!” ujar Travold lalu ikut mengambil makanan itu
“WAH, MAKANAN!” seru Logan tiba-tiba berteriak. Aku yang berada di sebelahnya terkejut dan hampir melempar buah di tanganku. Logan langsung mendorongku dan juga Harry, dia duduk di tempat kami dan lekas memakan jenis makanan itu dengan lahap.
Aku menatap buah di tanganku, lalu mulai memakannya. Rasanya begitu manis, segar dan mengandung banyak air. Buah ini cocok untuk mengganjal rasa laparku yang aku tahan sejak tadi. Edward memberiku potongan rotinya, “Ini makanlah. Aku sudah memastikannya tidak beräcun dan aku memang sengaja diam dan tidak berbicara padamu Kirey. Nafasku bäu dan aku yakin kau tidak menyukai nafas yang bäu!” senyum Edward mengacak rambutku
“Kau tidak märah padaku?” aku menatap Edward dengan tatapan mata yang kembali berkaca-kaca
Edward menggeleng dan menghapus jejak air mata di wajahku. “Aku sudah memikirkan kemungkinan ini lebih dulu Kirey. Kau adalah adikku, sekalipun kamu berbuat salah, aku pasti akan selalu memaafkanmu. Kau harus ingat itu, tapi bagaimana dengan nafasku? Apa masih terasa bäu menyengat?”
Aku terkekeh lalu lekas memeluk Edward “Terima kasih Ed!”