12 Agustus 2021
"Edward, Ed....!" Teriakku, begitu aku turun dari atas Iguana. Aku berlari membantu Edward yang kesulitan untuk berdiri. Travold dan Logan dengan perlahan mundur ke arah kami, sembari menatap siapa yang mènyerang kami tadi. Sosok berjubah hitam, yang mènyerang kami itu tetap membidik kami dengan busur mereka.
"Aku tidak apa, Kirey. Dengarkan aku, jika kami berhasil melawan mereka. Kau harus tetap kabur lebih dulu bersama dengan Harry. Kalian harus tiba di klan siren sebelum pagi menjelang, kau paham?"
Aku menggeleng, "Tidak akan Ed, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Apapun yang terjadi, kita harus tetap bersama!"
Aku menatap Edward yang terlihat menghela nafas, tangannya membawaku mendekat padanya. Dia akhirnya memilih untuk setuju, karena pada akhirnya aku memang tidak akan pernah melakukan apa yang dikatakan oleh Edward.
"Serahkan gadis itu, maka urusan kita akan selesai!"
Edward menatapku sekilas, tangannya menggenggamku dengan begitu erat. Jaguar kami berdiri di depan Travold dan Logan, berjaga-jaga jika mereka tiba-tiba mènyerang. Iguanaku berdiri di sebelahku, Harry tidak jauh dari kami. Dia bahkan baru saja bergerak setelah menghabiskan dagingnya. Aku menatap ke depan, sosok itu membuka tudungnya. Menampakkan wajahnya, nafasku tercekat. Sosoknya begitu mengerikan, di sekujur wajahnya ada seperti simbol-simbol aneh yang tercetak.
"Siapa kalian?" seru Travold, dia tetap terlihat tenang dibandingkan kami semua
"Apa kau adalah pemuda yang membawa mereka kabur kemari? Dan yah, dia itu adalah sosok yang membunuh anak buahku di café itu, bukan?" sosok berjubah hitam itu menunjuk ke arah Logan, "Aku adalah tangan kanan sang ratu, aku Panglima Theron!"
"Ratu?" ulang Logan
"Tidak perlu banyak tanya, sekarang serahkan gadis itu pada kami dan urusan kita akan selesai!" Theron bergerak maju, masih membidik kami.
"Tidak akan, katakan apa tujuan kalian mengikuti kami sampai kemari hah?" bentak Travold
"Dasar sampah, rasakan ini!"
Prang..., bunyi anak panah langsung melesat. Namun Logan lebih dulu menahan benda itu dengan kekuatannya, aku baru sadar bahwa kami juga sedikit beruntung karena hujan. Logan dan Harry bisa memanfaatkan hujan. Edward tetap menatap dengan waswas, matanya sudah berubah menjadi merah. Dia berubah menjadi dirinya yang asli.
"Ohooo, jadi kau datang dari klan Siren? Beruntung sekali, aku tidak pernah melihat klan rendahan itu bangkit ke permukaan dan terdampar ke bumi. Baru kali ini!" Theron menatap Logan dengan tatapan merendahkan. "Tapi kekuatanmu itu tidak akan bisa melawan kami bocah, RASAKAN INI!" teriak Theron, dia mengeluarkan pedang dari balik jubahnya.
Travold lebih dulu menahan Theron, dia melawannya dengan menggunakan pedang yang baru saja dibuat oleh Logan. Menatap Travold yang masih melawan sosok pemimpin itu, membuat kami harus mengurus sisanya. Edward ményerang beberapa anak buah Theron, kecepatan berlari Edward membuat mereka sedikit kewalahan.
Aku menatap sebuah panah yang tertuju padaku, bruk—aku menatap anak panah itu yang hancur lebih dulu. Aku kaget dan berjalan mundur, ada apa dengan benda itu? Aku menatap kalungku yang mengeluarkan sinar, iguanaku berdiri di belakangku. Dia melawan beberapa sosok berjubah hitam juga. Jaguar yang di depan kami juga berusaha untuk ményerang, sayangnya mereka tidak selincah para sosok berjubah hitam itu. Mereka lebih gesit menghindar dan ményerang balik.
"Kau tidak akan bisa lari kemana-mana lagi anak muda"
Aku tercekat ketika mendengar suara dari sampingku, tatapanku tertuju pada Theron. Dia menyeringai, dengan pedang yang sudah berlumur dàrah. Melihat itu, aku lekas menatap ke depan, Travold tergeletak di atas tanah dengan memegangi perutnya. "Trav!" teriakku, dia menatapku dan menyuruhku untuk pergi.
Aku hendak menghampiri Travold, namun Bruk—tubuhku lebih dulu membentur pohon di sampingku. Aku menarik nafas dalam, dádaku terasa sesak. Aku menatap Theron, dia berdiri di depanku, menatapku dengan angkuh.
"Lepaskan dia siàlan!"
Teriakan Edward mengalihkan perhatian Theron, aku mengambil kesempatan untuk ményerangnya. Bruk—lagi-lagi tubuhku menghantam batang pohon. Edward dan Theron saling ményerang satu sama lain. Gerakan Edward hampir menyamai gerakan cepat sosok itu. Logan berusaha untuk membantu Edward, Harry lekas menghampiriku. Dia membantuku berdiri.
"Kirey, naik!" perintah Harry
"Tapi Edward, dia terluka!"
"Diam, jangan bodoh. Kita harus menyelamatkanmu lebih dulu Kirey, naik!" perintah Harry lagi.
Aku menggeleng, namun Harry lebih dulu menarikku dan memaksaku naik ke atas iguana. Aku tidak sanggup untuk melawan Harry. Dia berhasil menaikkanku dan membawaku pergi dengan menggunakan kekuatannya untuk menahan pasukan sosok berjubah itu. Edward dan Logan terlihat berusaha untuk menahan Theron yang sadar akan kepergianku.
Aku memukul lengan Harry keras, berusaha untuk turun. "Edward, dia terluka Harry. APA YANG KAU LAKUKAN?" teriakku marah, masih memukul lengan Harry. Berharap lelaki itu akan menghentikan iguanaku dan berbalik ke sana.
"DIAM, JANGAN BERBUAT BODOH KIREY!"
Aku menatap Harry dengan tatapan memerah, tanganku terkepal karena emosi. Nafasku naik turun, berusaha untuk mengontrol emosiku.
***
"Dasar siálan, aku akan membunuhmu bàjingan!" Theron berteriak marah.
Pedangnya terangkat, gerakannya lebih lincah daripada sebelumnya. Dengan cepat, sosok itu mènyerang balik Edward. Logan yang berusaha membantu terlempar, punggungnya membentur batang pohon besar.
"Kau tidak akan bisa membawanya siàlan!" seru Edward, menatap Theron dengan penuh emosi
"Siàlan!" Srrkkk—pedang Theron hampir memutus leher Edward, beruntung Edward dengan cepat mendorong Theron dengan kekuatannya. Namun pedang itu berhasil melukai lengan Edward, membuat lengan Edward mengeluarkan dárah.
"Sial!" seru Ed, dia menatap Logan yang juga berhasil bangkit dan mènyerang anak buah sosok itu. Edward menatap Theron begitu marah, angin malam berhembus begitu kencang. Mata merah edward berkilauan di tengah kegelapan.
Edward berlari dengan kecepatan vampirnya, Brak...prang...tubuh Theron terlempar beberapa kilometer ke belakang dan membentur pohon. Edward kembali meninju lelaki itu, wajah Theron sudah babak belur. Kekuatan Edward benar-benar tidak akan seimbang dengannya. Tangan Edward mencengkram leher Theron kuat, kuku Edward memanjang, dan dengan mudah menembus masuk ke dalam leher Theron.
Kulit pucat Edward semakin pucat, auranya jauh lebih gelap. Logan yang menatap dari kejauhan hanya memastikan bahwa Edward tidak terluka. Sosok vampire di dalam tubuh Edward muncul.
"Katakan, siapa yang mengutusmu!"
Theron yang kesulitan untuk bernafas terkekeh, Cuih—dia meludahi wajah Edward, membuat sosok itu semakin marah. Tangan Edward semakin menembus masuk leher Theron.
"kau akan màti konyol jika tidak memberitahuku siapa yang mengutusmu mengikuti kami sampai ke sini, dan kenapa kau sampai mengawasi kami di bumi."
"Uhuk..uhuk.., aku konyol, aku tidak sadar bahwa kau adalah sang raja dari klan vampire. Tapi meskipun kau adalah sang raja, aku tidak akan memberitahukan apa-apa padamu, bájingan!"
Krek—"Maka kau bersiap untuk pergi ke neraka bájingan!"
Dasar merembes dan terciprat ke wajah Edward. Taringnya keluar, nafas Edward semakin memburu. Ia menusuk leher Theron sampai tembus, tidak hanya di situ. Pedang yang ada di tangan Edward ia gunakan untuk menebas leher lelaki itu. Edward berdiri, ia mencabut pedangnya. Kuku panjangnya menembus dáda Theron, mencari dimana letak jantung sosok itu.
Srak—jantung yang masih berdenyut itu keluar dari dalam tubuh Theron dengan paksa. Edward menatap jantung itu dan memijaknya dengan brutal. Ia juga kembali menusuk perut Theron dengan pedang lelaki itu. Mata Theron tetap terbuka, menatap ke depan. Nafasnya sudah berhenti beberapa menit yang lalu. Edward masih tetap membrutal, dia kembali menusuk perut Theron berganti-ganti.
Edward seperti kehilangan kewarasannya.
Edward baru berhenti ketika sadar bahwa ia sedang ditatap, ia berbalik dan menatap Logan. Ia menatap Logan, bájingan yang juga pernah menghina adiknya. Ia berlari, cepat dan bruk—tubuh Logan membentur pohon di belakangnya. Kuku panjang Edward menusuk kulit leher Logan, Travold yang tidak berdaya hanya mampu berteriak.
"A—apa yang kau lakukan Ed?" panik Logan
"Kau juga harus máti, semuanya harus màti!" kekeh Edward, taring tajamnya membuat penampilan Edward semakin menyeramkan. Kuku panjangnya semakin dalam menembus kulit leher Logan
"Tidak, sadarlah Ed, aku Logan. Sadarlah!" seru Logan, berusaha untuk menyadarkan Edward yang masih dikuasai rasa marahnya.
Edward tidak peduli, dia tetap membanting tubuh Logan.
"EDWARD?"
DEG—Seperti baru saja tersadar dengan apa yang dia lakukan, aku menatap Edward yang langsung berbalik dan menatapku. Nafasku tercekat, wajah Edward yang pucat dan juga gigi taringnya yang terlihat panjang dan tajam. Aku menahan nafas, aku baru saja tiba beberapa menit yang lalu karena aku terus mendesak Harry agar memutar haluan.
"Kirey?" seru Edward
Dia langsung berdiri, namun tidak lama, Edward langsung terjatuh lemah di atas tanah. Aku lekas berlari dan menatap Edward. Dia menatapku dengan matanya yang mulai lemah. Tangan dan perut Edward juga terluka, aku rasa dia juga mendapatkan luka tusukan.
"Maafkan aku Na, ini berada di luar kendaliku!"
Aku menangis, sambil menggeleng. "Tidak, bertahanlah Ed. Aku tidak mempermasalahkannya, semuanya akan baik-baik saja!"
"Kirey, pedangnya beracun. Aku baru saja melihat potongan tubuh Theron, itu mengerut!"
"Mengerut?" seruku
"Aku rasa itu sejenis racun tumbuhan liar, tubuh Travold dan Edward yang terluka juga mengerut seperti tubuh Theron. Logan, apa kau bisa membantu kami?"
Aku menatap Logan, dia masih memegangi lehernya. "Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, hanya saja leherku sedikit sakit! Cengkraman Edward begitu kuat!"
"Maafkan Edward, Logan. Aku yakin dia pasti sedang tidak berada di dalam kesadarannya!"
"Aku tahu Kirey, kita harus cepat mencari pertolongan. Jaguar, dimana mereka?"
Aku menatap ke belakang, jaguar yang tadi terlempar ke jurang sudah kembali. Aku menatapnya, para jaguar itu segera mendekati kami. Logan membantu Travold yang sudah tidak sadarkan diri. Sementara Harry entah kemana berlari, aku menatap Edward. Kukunya yang tadi memanjang sudah kembali normal, kulit wajahnya juga sama. Namun, tidak dengan lengannya yang terluka.
"Ed, aku mohon bertahanlah!" isakku, menatap Edward yang tetap berusaha untuk bertahan
"Kirey, baringkan mereka. Aku menemukan sejenis tumbuhan penawar racun!"
Aku lekas membaringkan Edward, Logan membaringkan Travold di dekat tubuh Ed. Harry lekas menumbuk tumbuhan itu sampai mengeluarkan cairan. Kalungku membantu menerangi kegiatan kami. Aku lekas membantu Harry meneteskan cairan itu ke dalam lengan Edward, dan juga pada perut Travold yang terluka.
Aku menatap mereka berdua, Edward mulai membaik. Dia masih bisa bertahan karena lengannya merespon dengan cepat. Sementara Travold tidak ada tanda-tanda kesembuhan. Aku khawatir.
"Kirey, aku tahu cara agar tubuh Travold cepat bereaksi!" seru Logan, dia menatapku
"Apa? Apa yang harus aku lakukan?"
"Sentuh dia, dan berikan sebagian energimu. Aku yakin cara ini akan berhasil, kalian juga pernah melakukan hal ini bukan?"
Aku mengangguk, lalu melangkah mendekati Travold. Aku mengatur nafasku, ini tidak akan mudah. Tanganku perlahan kuletakkan di atas perut Travold, aku menatap cahaya yang keluar dari tanganku. Nafasku mulai memburu dan keringat juga membanjiri keningku, Travold menyita energiku cukup banyak. Aku menatap tanganku yang mengeluarkan cahaya, entah darimana datangnya asal cahaya ini.
Aku tetap berusaha untuk tenang, aku mendengar suara tenang yang berasal dari alam. Ini cukup membantuku.
"Kirey, cukup!" seru Logan
Aku mengangguk, lalu menarik tanganku dari atas tubuh Travold. Aku mengerutkan kening, menatap luka Travold yang sudah tertutup.
"Apa yang terjadi?" ujar Harry
Aku menggeleng, "aku tidak tahu, k—kenapa bisa lukanya tertutup?"
"Mungkin itu adalah kekuatanmu Kirey, bagaimana perasaanmu?" seru Logan
"Aku cukup lemas, Travold menyerap cukup banyak energiku. Dia hampir sama dengan roh spiritual klan vampire!"
"Kita harus mencari tempat untuk berteduh sampai mereka siuman, Edward kembali pingsan. Itu wajar, aku hanya berharap racunnya bisa diatasi!" seru Harry
Aku mengangguk, Logan mencari tempat untuk berteduh yang nyaman. Kami bersama-sama mengangkat tubuh Edward dan Travold menuju tempat itu, meletakkan mereka di sana. Aku duduk terdiam, sepertinya ini sudah hampir pagi. Aurora itu sudah menghilang, entah sejak kapan. Aku menatap Harry dan juga Logan, kami sama-sama terdiam, menatap matahari yang sudah kembali bersinar.
Entah kenapa air mataku menetes begitu saja, aku sedih dengan apa yang baru saja terjadi pada kami. Ini terlalu berat pada kami, dan aku terlalu takut.
"Kirey? Kau menangis?" seru Logan, dia sadar. Aku menggeleng sembari menghapus air mataku.
"Tidak apa-apa Kirey, aku tahu kau sedih. Tapi kita sudah sampai di sini, kita harus berjuang bersama-sama!" seru Logan, menenangkanku. Aku menatapnya, untuk pertama kalinya dia mengatakan kata-kata itu padaku.
"Aku tahu ini berat padamu Na, tapi ini juga berat pada kami. Kita sama-sama melewati hari-hari yang tidak kita tahu harus menghadapi apa. Apa kita masih bisa bertahan kedepannya atau tidak. Apa yang lagi akan mènyerang kita besok, kita tidak tahu. Kita, kita harus tetap bersama. Maafkan juga tadi aku egois Na, aku hanya mementingkan keselamatanmu!" Harry mengeluarkan air matanya, dia juga sepertinya sudah mulai lelah.
Aku memeluk Harry, dan juga menarik Logan dan memeluk mereka. Aku menghela nafas, kami juga sama-sama lelah. Tapi kami harus tetap lanjut, karena tidak ada jalan kembali pulang.
"Aku juga mendapat banyak pengalaman ketika bersama dengan kalian, maafkan jika waktu itu aku terlalu pengecut. Tapi, aku beruntung bersama dengan kalian!"
Aku tersenyum menatap Logan. Dia sepertinya sudah mulai terbiasa dengan semua hal ini. Kami menatap ke depan, matahari sudah mulai muncul dari peraduannya. Memberikan pancaran sinarnya yang menghangatkan kulit.
Upload lagi hehehe,
Jangan lupa tinggalkan jejak ya