Bagian 17 ~ Tamus

2078 Kata
Minggu, 10 Juli 2021 Satu hal yang pasti bahwa, aku benci untuk dipermainkan oleh orang-orang. Apalagi membohongiku dan ingin memanfaatkanku. Satu kesalahan dari manusia yang tidak pernah aku maafkan. “Tunggu apa lagi? Kenapa diam?” aku menatap Travold. Sejak beberapa menit yang lalu, dia tidak bergerak barang sedikitpun. Lebih tepatnya saat aku memerintah iguanaku ini untuk bali menyerang si mata merah itu. Tidak lama setelah aku meneriaki Travold, dia lekas bergerak dengan cepat. Menyerang pasukan si mata merah itu, sebagian dari mereka kabur dari serangan iguanaku dan tidak kelihatan lagi. Aku merasakan iguana ini yang terlihat begitu bersemangat untuk memukul mundur si mata merah itu. Entah mahluk apa mereka, yang pasti ketika mereka berubah menjadi makhluk besar dengan badan penuh bulu dan satu lagi. Bŏkong mereka yang berwarna merah. Si mata merah yang tadi aku banting dengan iguanaku juga lekas berubah dan memasuki kawasan hutan lembab itu. Dan menghilang setelah berteriak marah pada kami. Aku lekas turun dari iguana, membantu Logan yang terlihat kehilangan kesadaran. Namun, aku merasakan ada pergerakan lain di sekitar kami. Edward menyuruhku untuk tidak bergerak, aku berdiri dengan perasaan was-was. Namun aku seolah merasa bahwa pergerakan itu bukanlah sebuah bencana. Karena iguanaku tidak merasa terancam, insting binatang jauh lebih tinggi daripada kami. Itu sebabnya aku berjalan mendekat ke arah semak belukar. Dan begitu aku berada di depannya, aku terkejut mendapat tatapan hijau biru laut yang tertuju padaku. Iguanaku yang tadi ada di belakang segera menghampiriku dengan senang, dia memasuki semak belukar itu. Dan tidak lama, muncullah beberapa makhluk seperti iguanaku itu dari semak belukar itu. Iguana yang tadi kami tunggangi terlihat begitu senang bertemu dengan temannya yang lain. Ada 3 ekor iguana dengan ukuran yang hampir sama besar dengan iguana pertama kami. Mereka terlihat bermain-main di semak belukar. Aku berjalan mendekati mereka, iguanaku tadi lekas mendekat padaku. Dia seolah ingin menyampaikan sesuatu. Aku menyatukan kembali kening kami, dan begitu aku tahu apa yang ingin dia sampaikan. Aku langsung tersenyum lebar dan mengangguk setuju. Lepas itu, iguanaku memanggil temannya yang lain. Mereka juga menundukkan kepala mereka padaku, aku menempelkan keningku pada mereka bertiga. Mereka terlihat senang dan sudah langsung bermain di tanah. “Baru kali ini aku melihat mereka akrab dengan manusia bumi!” “Kirey, awas!” teriak Edward yang segera berlari dan berdiri di depanku. Aku menatap sosok di depan kami yang terlihat was-was. Ketiga sosok iguana tadi menatapku, menundukkan kepala mereka lagi. Aku mengangguk, lalu melepas mereka bertiga bermain dengan iguanaku tadi. “Dia adalah tuan ketiga iguana tadi Ed, dia tidak berbahaya!” aku menahan Ed yang hendak menyerang sosok itu “Kau benar, aku baru pertama kali melihat ada yang bisa berkomunikasi dengan mereka. Kau hebat sekali, ah, perkenalkan, aku Tamus!” Perkenalan singkat kami berakhir dengan api unggun, kami menghabiskan waktu yang banyak untuk menyerâng klan si mata merah yang ternyata adalah sejenis Beruk Barbar. Mereka adalah sejenis klan monyet namun dengan ukuran besar. Aku bahkan baru tahu itu dari Tamus, dia bilang, kawasan yang sekarang kami tempati ini dihuni oleh si mata merah. Itu membuat hutan ini tidak berpenghuni dan gelap. Tidak ada binatang lain yang ingin menginjakkan kaki di hutan ini karena akan langsung diserang oleh mereka. Ajaibnya mereka, klan itu bisa berubah menjadi sosok manusia sempurna. “Lihatlah Kirey, dia itu masih terlihat mencurigakan. Dia berbicara dengan iguana kita, seperti apa yang kau lakukan. Apa kau pikir dia itu ingin merebut iguana kita?” Harry yang sudah lebih baikan mendekatiku yang hanya duduk sembari menatap 4 iguana itu sedang lesehan di semak belukar. Tamus bilang bahwa mereka datang karena mendengar cicitan yang memang dikeluarkan oleh iguanaku tadi saat menyerang si mata merah. Cicitan itu membuat iguana lainnya segera datang. Namun kami lebih dulu memukul mundur si mata merah sebelum mereka datang. Telat beberapa menit. “Iguana kita saja nyaman bersama dengannya, jangan kebanyakan berpikiran negatif untuk saat ini Harry! Bagaimana dengan Logan? Apa dia baik-baik saja?” Harry mengangguk, “Ilmu Tamus mengenai dunia ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan Travold. Dia sudah meramu daun-daun itu menjadi obat untuk Logan. Kondisinya sudah lebih membaik meskipun belum sadarkan diri. Aku yakin tadi, jika telat beberapa menit untuk menarik Logan. Dia pasti sudah tidak bernyawâ lagi!” Aku setuju, setelah perkenalan singkat dengan Tamus tadi. Kami tidak sempat bercengkrama dan bertanya karena keadaan Logan yang benar-benar kritis. Kami sangat beruntung Tamus datang tepat waktu dan segera membantu Logan. Edward sudah kembali dari mencari kayu bakar dengan Travold, mereka kembali memasukkan kayu bakar itu ke dalam api unggun. Membuat api itu semakin besar, dan udara di sekitar kami mulai menghangat. “Tapi Kirey, bisakah kau mengajariku cara untuk berkomunikasi dengan hewan? Aku sungguh ingin tahu apa yang mereka rasakan dan menuruti perintahku. Ayolah Kirey, jangan pelit untuk berbagai ilmu, selama di bumi, aku yang terus membantumu meminjam buku di perpustakaan pada wanita gënit itu. Kau harus membalas budiku Kirey, aku bahkan sampai merelakan waktuku untuk ikut denganmu ke desa itu!” Harry mulai lagi, aku menghela nafas. “Sini!” “Apa?” Tanya Harry bingung “Otakmu, biar aku berikan pada iguana ku itu dan disantap oleh mereka. Bagaimana? Apa itu penawaran yang cukup bagus?” “Iuhhh, kenapa kau sangat menyerâmkan sekali Kirey? Dasar!” “Baikl, kemarilah!” ujarku pada akhirnya Harry mengikutiku, aku berjalan menuju ke arah ke empat iguana itu yang sedang berbaring. Menikmati hangatnya api unggun buatan Edward. Seolah tahu aku mendekat, iguana-iguana itu lekas berdiri. Aku tersenyum pada mereka. “Mereka sepertinya sangat menyukaimu Kirey!” Aku mengangguk, aku menyatukan keningku pada mereka. Lalu menyampaikan apa maksudku pada mereka. Tidak lama, aku melepas kening kami. Iguana itu menatap Harry dengan matanya yang berwarna ungu. Tatapan itu seperti pertama kali ketika kami berada di air terjun. “Tidak, jangan sekarang Harry. Iguana tidak terlalu menyukai klan Siren. Kau harus menunggu waktu yang lebih tepat untuk berkomunikasi dengan mereka!” Aku menarik nafas legah, lalu mengusap leher iguana itu. Mereka kembali seperti semula dan kembali merebahkan badannya di atas rumput. Harry kesal, “Ck, kenapa dengan klan siren? Apa mereka cemburu karena tidak bisa melawan kecepatan berenang kami? Dasar rakus!” “Bukan begitu, ceritanya cukup panjang. Dan lebih baik kita makan dulu, aku mencium aroma daging yang sudah dikeringkan dari sana!” tunjuk Tamus pada arah Edward dan Travold yang sedang memanggang daging Kami lekas menuju kesana, Logan masih belum siuman. Edward segera membagikan jatah kami masing-masing, dan seperti biasa. Harry pasti akan berdecak kesal dengan makanan bakar ini. Aku juga sedikit setuju, lama kelamaan makan daging dan ikan bakar juga bosan. Usai makan, Logan masih saja belum sadarkan diri. Namun keadaannya jauh lebih baik setelah diperiksa oleh Harry. Setidaknya dia tidak sia-sia belajar ilmu kedokteran selama 5 tahun lebih. Meskipun Tamus lebih handal daripadanya mengenai tumbuhan yang bisa digunakan sebagai obat. Malam semakin larut, kayu bakar tetap ditambah untuk menghangatkan kami. “Lalu, apa kalian menemukan iguana di air terjun di perbatasan klan werewolf itu?” tanya Tamus yang memulai percakapan. “Ya, lebih tepatnya dia hampir membuat kami semua kehilangan nyawa!” hardik Harry. Iguana yang sedang lesahan tidak jauh dari kami menatap Harry dengan kesal. Lalu membuang wajahnya, tidak mau melihat Harry. Seolah jika diterjemahkan,dia jijík dengan wajah Harry. Aku terkekeh menatap iguana itu, tidak lama, iguana itu mendekat ke arahku. Meninggalkan tiga sosok lainnya. Aku segera berdiri, dan menyatukan kening kami seperti biasa. Tidak lama, setelah tahu apa maksudnya. Aku lekas mengangguk dan melepaskan keningku darinya. Dia langsung berubah menjadi cahaya kuning yang sedikit menyilaukan dan masuk ke dalam kalung pemberian Anna yang berada di leherku. Tamus seolah takjub dengan apa yang terjadi, tidak hanya dia, melainkan beberapa iguana tadi, yang datang bersama dengan Tamus juga ikut lekas berdiri. Mereka menundukkan wajah, meminta izin apakah mereka juga bisa ikut masuk. Aku menatap Tamus, karena tuan mereka adalah tamus. Aku tidak berani langsung memberi izin pada mereka untuk masuk ke dalam kalung ajaib ini. “Mereka milikmu Kirey, aku hanya tuan mereka untuk sementara. Kau berhak atas mereka semua!” jelas Tamus mengerti apa maksud dari tatapanku. Aku tersenyum, lalu mengangguk pada ketiga iguana di depanku ini. Tidak lama, tubuh mereka juga berubah menjadi cahaya setelah kami menyatukan kening sekali lagi. Dan masuk ke dalam kalungku. Aku kembali duduk dengan tatapan takjub dari Harry. Tidak hanya Harry, tapi tatapan Travold juga seolah tidak bisa lepas dariku. “Kau memang adalah tuan dari mereka Kirey, selama bertahun-tahun aku berkelana di hutan ini. Baru kali ini aku melihat mereka masuk ke dalam sebuah kalung. Aku bahkan baru pertama kali ini melihat mereka sangat patuh dan sangat menyayangi seseorang. Pertama kali bertemu dengan mereka, nyawaku juga hampir saja menghilang karena diseräng oleh mereka. Namun, aku bisa mengendalikan mereka dengan memutus ekor mereka lebih dulu. Aku bisa menaklukkan tiga dengan cara yang sama, aku pikir spesies itu hanya ada tiga. Namun ketika melihat milikmu, aku baru sadar bahwa dia adalah yang paling besar! Aku mendapatkan mereka dan berkelana dengan mereka selama ini, namun aku sadar bahwa mereka menunggu tuan mereka yang sesungguhnya. Dan ketika melihat mereka begitu patuh padamu, aku akhirnya sadar bahwa kau adalah tuan mereka!” “Apa kau sedih?” “Itu pasti, aku cukup sedih tidak lagi bisa bersama dengan mereka. Tapi tidak usah khawatir, aku masih memiliki beberapa hewan jinak yang bisa aku jadikan hewan tunggangan. Aku tahu bahwa kalian pasti lebih membutuhkan hewan luar biasa itu!” “Tapi, bagaimana tubuh mereka yang besar bisa masuk ke dalam kalung kecilmu itu Na? Aku benar-benar tidak bisa menjelaskannya secara teori apapun. Bahkan selama di perjalanan sebelumnya, aku selalu berusaha untuk memecahkan misteri itu. Berharap aku bangun, dan tahu apa jawabannya. Namun tidak sama-sekali, semua pendekatan baik secara ilmu fisika dan ilmu bumi yang aku pelajari selama ini tidak berlaku!” jelas Harry “Manusia itu memiliki peradaban yang tertinggal dengan dimensi dan klan di sini Harry, aku pernah beberapa kali menembus portal itu dan menuju bumi. Awalnya aku ingin menetap di sana, namun tidak jadi. Bumi terlalu penuh akan politik dan pertikaian yang benar-benar membuatku muak. Aku kembali kesini dan tetap menjadi penunggang hewan!” Jawaban Tamus sangat sama denganku, aku juga berpikir awalnya di dimensi ini. Peradabannya jauh lebih tertinggal dengan bumi, namun aku salah. Peradaban di sini jauh lebih canggih karena klan di sini tetap melestarikan alam dan tidak merusaknya. Mereka tetap mempunya banyak akses tanpa merusãk. “Lalu, apa yang membawa kalian kemari? Jika ada klan vampire dan Siren, serta klan legendaris—si penunggang naga. Tiba-tiba muncul ke permukaan dan berada di sini, itu artinya kalian sedang mencari tahu sesuatu mengenai dunia ini! Apa kalian datang untuk membuka portal dari bayangan itu dan bekerja sama dengan para penyihir hitam itu?” Aku menggeleng, “jalannya  begitu panjang Tamus. Tapi singkatnya, di bumi kami di serang oleh makhluk dari dimensi ini. Meskipun tidak seratus persen benar, namun kami tidak aman di bumi. Dan beruntung Travold membawa kami kemari, dan kami hanya ingin berkelana tanpa tujuan. Mencari tahu apakah aku manusia biasa atau berasal dari dimensi ini!” “Jika begitu, maka itu lebih baik. Sebelum kalian, ada beberapa makhluk rendah bumi yang sampai di sini. Aku tidak tau cerita pastinya, namun dia meninggal di serâng para Beruk barbar itu juga! Jika dia berhasil lolos dari rogue itu, itu artinya dia sudah cukup membuat rencana yang matang!” Kami semua diam, arah pembicaraan ini juga tidak terarah. Karena jujur, perjalanan ini juga masih sangat dibingungkan. Namun, yang menjadi tujuan untuk saat ini adalah untuk mencari tahu aku berasal dari klan mana. Setidaknya, jika aku tahu aku dari klan mana. Aku punya alasan untuk berkunjung ke dunia ini lagi. Menikmati aurora malam yang menyambut kami di saat malam, dan mentari pagi yang bersinar begitu indah. “Tapi yang aku tau, orang yang bisa berbicara dengan binatang tanpa mempelajari bahasa mereka sebelumnya adalah orang yang ditakdirkan. Mengenai kalung itu, aku pernah mendapat kabar burung bahwa kalung itu adalah kalung yang tidak sembarangan. Tidak semua orang bisa berbicara dengan kalung itu, jika mereka bisa melakukannya. Maka tujuannya juga bisa baik, bisa buruk. Coba kalian bayangkan, jika pemilik kalung itu memasukkan semua makhluk berbahaya ke dalamnya dan tiba-tiba menyerang klan lain tanpa ada pergerakan sama-sekali. Maka itu sama saja dengan membuat dunia ini hancur. Namun, ketika melihatmu, aku yakin kau sendiri tidak tahu sehebat apa kalungmu itu!” Aku diam, tidak menanggapi Tamus sekalipun aku begitu tertarik dengan percakapannya malam ini. “Hari sudah larut malam, sebaiknya kita beristirahat. Aku dan Travold akan jaga untuk malam ini, kalian tidurlah!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN